Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 7 menit

View

0

Kabar Sepekan: Dunia Nyaris Perang, Inflasi Makin Garang

Happy weekend, Sobat Cuan! Kamu lagi ngapain nih berakhir pekan? Yuk, simak rangkuman berita ekonomi sepekan di Kabar Sepekan berikut!

Kabar Internasional Sepekan

1. Perang Dunia Ketiga Nyaris Meletus, Ekonomi Susah Fokus

Konflik Rusia dan Ukraina yang sempat memanas awal pekan ini memicu ketegangan dunia, tak terkecuali sektor ekonomi.

Dampak pertamanya adalah kenaikan komoditas energi. Harga minyak dunia sempat menembus US$100 per barel, level tertingginya sejak 2014, sementara harga gas di Eropa naik 14%. Rupiah dan indeks domestik pun ikut kena getahnya dengan tingginya fluktuasi harian.

Untungnya konflik mulai mereda pasca Presiden Ukraina Volodymyr Zalansky mengatakan proses negara itu masuk ke NATO telah terhenti. Rusia pun telah menarik pasukan berikut alutsista dari wilayah dekat perbatasan Ukraina.

Tapi, tensi di akhir pekan makin memanas setelah Presiden Joe Biden mengatakan bahwa Rusia bisa menyerang Ukraina kapan saja. Di samping itu, AS juga menuduh Rusia kini tengah melakukan "sandiwara" untuk mencari alasan menyerang Ukraina. Duh, bikin gak tenang saja ya, Sobat Cuan!

2. The Fed Janji Bakal Lebih 'Hawkish', Asal....

Bank sentral AS The Fed mengaku akan bersikap lebih hawkish dalam mengerek suku bunga acuannya asal tingkat inflasi AS tidak kunjung melandai. Sikap itu termuat di dalam risalah rapat The Fed (minutes of meeting) Januari yang dirilis pada Rabu (16/2) waktu AS.

Hasil risalah itu seolah membuyarkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan buru-buru mengerek suku bunga acuannya dengan kencang, bahkan diramal hingga 50 basis poin, pada Maret mendatang. Meski demikian, risalah tersebut memang tidak membahas secara detail mengenai angka tingkat suku bunga acuan yang akan dinaikkan The Fed bulan depan.

Kendati demikian, beberapa analis masih yakin bahwa The Fed tetap akan ngebet mendongkrak suku bunga acuan yang lebih sadis pada bulan depan berdasarkan beberapa hal.

Risalah tersebut merupakan rangkuman rapat FOMC yang dihelat 25 hingga 26 Januari silam, tepat dua pekan sebelum AS merilis data bahwa inflasi Januari telah mencetak rekor tertingginya dalam 40 tahun terakhir. Selain itu, rapat tersebut juga berlangsung sepekan sebelum AS mengumumkan data penambahan lapangan kerja baru (Non-Farm Payroll) yang kinclong. Sehingga, ada kemungkinan The Fed bakal mengganti stance moneternya pada bulan ini.

3. Perdagangan Dunia Bakal Memble Tahun Ini

United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) merilis data nilai perdagangan tahun lalu yang mencapai US$28,5 triliun, tumbuh 25% dibandingkan tahun 2020. Bahkan, capaian nilai perdagangan itu 13% lebih tinggi dibandingkan tahun 2019, yakni level pra pandeminya.

Pendorong masifnya pencapaian tahun lalu tak terlepas dari lonjakan harga komoditas, pelonggaran kebijakan pandemi, dan pulihnya permintaan sebagai efek dari stimulus pandemi.

Kendati demikian, UNCTAD memproyeksikan pertumbuhan nilai perdagangan internasional tahun ini bakal melambat lantaran normalisasi pola konsumsi masyarakat. Selain itu, daya beli masyarakat global juga dapat menyusut akibat tekanan inflasi yang persisten.

4. Negara Lain Takut Inflasi, China Malah 'Bestie' Sama Inflasi

Ketika negara lain lagi berjibaku memadamkan inflasi yang berkobar, China malah terlihat sukses meredam inflasi.

Biro Statistik China merilis Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) negara tirai bambu tersebut naik 9,1% secara tahunan pada Januari. Meski angkanya terlihat fantastis, namun angka ini lebih rendah dibanding Desember yakni 10,3%.

Kesuksesan China dalam meredam inflasi tak hanya terlihat dari Indeks Harga Produsen. Pasalnya, Indeks Harga Konsumen (IHK) China pada Januari "hanya" tumbuh 0.9% secara tahunan, jauh lebih rendah dibanding Desember yakni 1,5%.

5. Pengangguran AS Makin Banyak?

AS mencatat jumlah pengajuan klaim bantuan pengangguran sebanyak 248.000 aplikasi di pekan kedua Februari, naik 23.000 dibanding pekan sebelumnya. Angka ini melampaui estimasi konsensus yakni 218.000.

Lonjakan ini terbilang bikin kaget lantaran angka klaim bantuan tunakarya AS sejatinya menyusut dalam tiga pekan berturut-turut. Kendati demikian, analis memperkirakan bahwa angka pengajuan klaim bantuan pengangguran AS akan kembali susut seiring pembatasan sosial yang longgar di negara tersebut.

Bacajuga: Kabar Sepekan: Ekonomi RI Kian Jago, Rusia Niat Legalisasi Kripto?

Kabar Kripto Sepekan

1. Amerika Serikat Mau Luncurkan Dolar Digital?

Presiden Amerika Serikat Joe Biden kabarnya bakal mengeluarkan perintah eksekutif bagi lembaga-lembaga di pemerintahannya untuk mempelajari mata uang kripto dan mata uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC). Hal itu terkuak setelah salah satu sumber di lingkaran Gedung Putih menginformasikan hal tersebut.

Menurut pengakuannya, salah satu arahan Biden adalah menyangkut pembagian tugas antar lembaga negara demi mengulik CBDC. Tak hanya itu, Biden juga akan meminta Departemen Luar Negeri, Keuangan, Departemen Perdagangan dan USAID untuk berkoordinasi dengan negara-negara lain dunia terkait penyusunan aturan yang baku bagi aktivitas kripto.

Banyak analis berpandangan bahwa rencana Biden tersebut membuka jalan bagi AS untuk serius mengadopsi mata uang digital. Apakah kamu percaya, Sobat Cuan?

2. Cetak Rekor! NFT CryptoPunks Terjual US$24 Juta

Chain CEO Deepak Thapliyal membeli Non-Fungible Token (NFT) CryptoPunks sebanyak 8.000 Ether (ETH) atau senilai US$23,7 juta. Nilai ini terbilang dua kali lipat lebih tinggi ketimbang rekor sebelumnya US$11,8 juta pada Juni.

CryptoPunks adalah salah satu NFT pertama yang muncul di bumi pada 2017 lalu.

3. Miners Getol Nambang Bitcoin, Hash Rate BTC 'Pecah Telor'

Tingkat hash rate penambangan Bitcoin telah mencapai rekor tertingginya pekan ini setelah lompat dari 188,4 exahashes per detik (EH/s) menjadi 248,11 EH/s dalam sehari saja.

Semakin tinggi angka hash rate, maka jaringan itu akan semakin aman seiring daya komputasi yang digunakan untuk menambang BTC juga semakin meroket. Akibatnya, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab pun akan kesulitan untuk meretas jaringan BTC.

Selain itu, tingginya angka hash rate mengindikasikan sinyal bullish karena penambang bersedia untuk menggelontorkan modal banyak demi infrastruktur BTC.

4. Tebar BTC Gratis Saat Superbowl, Coinbase Gaet 20 Juta Pengunjung Baru

Coinbase berhasil menggaet 20 juta orang untuk mengunjungi situsnya dalam waktu 1 menit saja. Hal ini terjadi setelah platform exchange kripto tersebut memasang iklan di helatan Superbowl berupa kode QR yang bisa dipindai penonton demi memperoleh BTC gratis senilai US$15.

5. Game Axie Infinity Bakal Ada Versi Gratis?

Pengembang game Axie Infinity Sky Mavis mengatakan akan meluncurkan versi gratis dari permainan digital tersebut demi menggaet banyak pemain di dalamnya.

Rencananya, Sky Mavis akan meluncurkan versi gratis dari "starter monsters" di Axie Infinity sehingga pemain bisa menjajal permainan tersebut sebelum benar-benar menggelontorkan uang di dalamnya. Fitur ini akan dirilis akhir kuartal I mendatang, berbarengan dengan sistem pertandingan baru dalam permainan tersebut.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Mantul! RI Cetak Surplus Transaksi Berjalan Setelah 10 Tahun!

Kabar Domestik Sepekan

1. Neraca Pembayaran dan Transaksi Berjalan RI Panen Surplus!

Bank Indonesia (BI) mencatat neraca pembayaran surplus sebesar US$13,5 miliar pada 2021. Tak hanya itu, Indonesia juga mencatat surplus transaksi berjalan US$3,3 miliar di waktu yang sama.

Menariknya, ini merupakan kali pertama Indonesia cetak skor surplus di kedua neraca tersebut setelah sekian tahun lamanya. Bahkan, surplus transaksi berjalan tahun lalu menjadi surplus pertama setelah transaksi berjalan Indonesia kerap defisit sejak 2011.

2. Kinerja Penjualan Eceran Membaik

Survei Bank Indonesia memproyeksikan perbaikan kinerja penjualan eceran pada bulan Januari 2022 berdasarkan kenaikan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 16% secara tahunan.

Angka ini memang lebih besar ketimbang Desember yakni 13,8%. Namun, jika dilihat pertumbuhan antar bulan, maka IPR Januari terkontraksi 2,4% sejalan dengan pola konsumsi musiman dimana masyarakat cenderung lebih konsumtif di akhir tahun.

3. JHT Jadi Polemik, Pemerintah Buka Suara

Kementerian Ketenagakerjaan merilis Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 2 Tahun 2022 yang mengatur bahwa peserta BPJS Ketenagakerjaan baru bisa mengklaim JHT di usia 56 tahun. Namun, aturan tersebut mendapat kritikan tajam dari serikat pekerja dan Komisi IX DPR RI lantaran bakal merugikan mereka yang terpaksa kehilangan pekerjaan di tengah pandemi COVID-19.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah pun akhirnya buka suara terkait kontroversi tersebut. Ia berdalih bahwa aturan tersebut bertujuan untuk memperbaiki taraf hidup pekerja ketika memasuki usia pensiun nanti.

Ia juga memastikan bahwa peserta BPJS Ketenagakerjaan tetap bisa mengajukan klaim JHT lebih cepat jika mereka telah menjadi peserta JHT minimal 10 tahun. Adapun nilai klaim maksimal yang dapat diajukan sebelum berusia 56 tahun ialah 30% dari total nilai JHT milik peserta.

4. RI Cetak Rekor Konsumsi Listrik Tertinggi sejak 2018

PT PLN (Persero) mencatat penjualan listrik pada Januari 2022 mencapai 22,2 Tera Watt hour (TWh). Menariknya, konsumsi tersebut merupakan angka bulan Januari tertinggi sejak 2018.

Direktur Energi Primer PLN Hartanto Wibowo mengatakan peningkatan tersebut dipicu oleh pulihnya ekonomi yang mendorong aktivitas masyarakat.

Gejala pemulihan ekonomi, menurutnya, telah tampak sejak tahun lalu di mana konsumsi listrik mencapai 255,1 TWh, tumbuh 5,78% dibandingkan tahun 2020. Bahkan, konsumsi listrik tahun lalu telah melampaui konsumsi listrik pra pandemi yakni 242,1 TWh pada 2019.

5. Tempe dan Tahu Terancam 'Terjangkit' Inflasi

Harga kedelai kini jadi momok. Sebab, harga kontrak pengiriman kedelai bulan Mei di Chicago Board of Trade pekan ini berada di level US$15,6 per bushel, melonjak 17,2% dibandingkan harga akhir tahun lalu.

Lonjakan harga kedelai didorong oleh meningkatnya permintaan dari China yang biasanya 'hanya' mengimpor 65 ton hingga 75 ton per tahun kini mencapai 90 ton! Di sisi lain, negara produsen kedelai terbesar seperti Amerika Serikat (AS) dan Brasil sempat mengalami gangguan panen yang menyebabkan terbatasnya suplai.

Saat ini, rata-rata harga kedelai impor di pasar dalam negeri mencapai Rp10.600 hingga Rp12.000 per kg. Perajin tahu dan tempe berencana menaikkan harga jual tahu dan tempe sekitar 20% guna menutup kenaikan ongkos produksi tersebut.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait