Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Mantul! RI Cetak Surplus Transaksi Berjalan Setelah 10 Tahun!

Rangkuman kabar Jumat (18/2) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara, diantaranya kinerja neraca pembayaran yang makin mentereng berkat booming komoditas.

Rangkuman Kabar Domestik

1. Neraca Pembayaran dan Transaksi Berjalan RI Panen Surplus!

Bank Indonesia (BI) mencatat neraca pembayaran surplus sebesat US$13,5 miliar pada 2021. Tak hanya itu, Indonesia juga mencatat surplus transaksi berjalan US$3,3 miliar di waktu yang sama.

Menariknya, ini merupakan kali pertama Indonesia cetak skor surplus di kedua neraca tersebut setelah sekian tahun lamanya. Bahkan, surplus transaksi berjalan tahun lalu menjadi surplus pertama setelah transaksi berjalan Indonesia kerap defisit sejak 2011.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan kinerja neraca transaksi berjalan tidak terlepas dari gemilangnya kinerja ekspor tahun lalu. Tercatat, neraca transaksi berjalan mulai mencetak surplus pada paruh kedua tahun lalu seiring meningkatnya harga komoditas disertai menguatnya permintaan dari negara mitra dagang.

Apa Implikasinya?

Suplus neraca transaksi berjalan bisa menambah tebal pundi cadangan devisa negara yang bakal jadi amunisi BI dalam melakukan intervensi pasar valuta asing demi kestabilan nilai tukar rupiah. Hal ini menjadi krusial lantaran Indonesia, beserta negara lainnya, berpotensi terkena imbas capital outflow seiring niatan The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya.

2. Gaet Investor Energi Hijau, Pemerintah Siapkan Skema Khusus

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan model pendanaan dalam pengembangan pembangkit hijau atau Energi Baru Terbarukan (EBT), yakni melalui blended finance.

Sejumlah pendanaan blended finance yang dimaksud antara lain berasal dari dana perwakilan perubahan iklim dari para donor, dana SDG Indonesia Satu, Tropical Landscape Finance Facility (TLFF) hingga investasi anggaran non pemerintah.

Skema pendanaan ini dipandang sebagai skema variatif yang terbuka bagi kerja sama internasional dengan transfer teknologi. Pemerintah memperkenalkan skema tersebut untuk memenuhi kebutuhan investasi energi hijau sebesar Rp1 triliun atau sekitar US$29 miliar per tahun agar Indonesia dapat mencapai zero emisi pada 2060. 

Apa Implikasinya?

Pendanaan EBT perlu diprioritaskan untuk menekan risiko perubahan iklim yang berdampak masif terhadap keuangan negara di masa depan. Jika pemanfaatan energi hijau kian marak, maka keuangan pemerintah tak perlu terbebani dengan subsidi energi fosil ke depan.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Jokowi Waswas Inflasi, The Fed Disebut Tukang 'Basa-Basi'!

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Amerika Serikat Mau Luncurkan Dolar Digital?

Presiden Amerika Serikat Joe Biden kabarnya bakal mengeluarkan perintah eksekutif bagi lembaga-lembaga di pemerintahannya untuk mempelajari mata uang kripto dan mata uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC). Hal itu terkuak setelah salah satu sumber di lingkaran Gedung Putih menginformasikan hal tersebut.

Menurut pengakuannya, salah satu arahan Biden adalah menyangkut pembagian tugas antar lembaga negara demi mengulik CBDC. Departemen Keuangan dan Jaksa Agung, misalnya, diberi tugas mempelajari potensi ekonomi atas peluncuran CBDC oleh Amerika Serikat.

Tak hanya itu, Biden juga akan meminta Departemen Luar Negeri, Keuangan, Departemen Perdagangan dan USAID untuk berkoordinasi dengan negara-negara lain dunia terkait penyusunan aturan yang baku bagi aktivitas kripto.

Biden juga menunjuk Alondora Nelson sebagai Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi yang akan menyediakan evaluasi mengenai infrastruktur yang dibutuhkan AS untuk mendukung dolar digital dalam 180 hari ke depan.

Banyak analis berpandangan bahwa rencana Biden tersebut membuka jalan bagi AS untuk serius mengadopsi mata uang digital. Apakah kamu percaya, Sobat Cuan?

Apa Implikasinya?

Adopsi dan aturan akomodatif terhadap aset digital, baik cryptocurrency maupun CBDC dapat meningkatkan adopsi dan utilitas aset-aset digital.

Lebih menariknya lagi, jika AS berniat meluncurkan CBDC, maka bukan tidak mungkin cadangan devisa beberapa negara dunia bisa termuat dalam bentuk digital. Hal ini menjadi mungkin mengingat Dolar AS kerpa digunakan sebagai cadangan devisa oleh sejumlah negara, termasuk Indonesia.

2. Pengangguran AS Makin Banyak?

Jumlah pengajuan klaim bantuan pengangguran di AS pada pekan kedua Februari tercatat di 248.000, naik 23.000 dibanding pekan sebelumnya. Angka ini melampaui estimasi konsensus yakni 218.000.

Lonjakan ini terbilang bikin kaget lantaran angka klaim bantuan tunakarya AS menyusut dalam tiga pekan berturut-turut. Kendati demikian, analis memperkirakan bahwa angka pengajuan klaim bantuan pengangguran AS akan kembali susut seiring pembatasan sosial yang longgar di negara tersebut.

Apa Implikasinya?

Fluktuasi pada pasar tenaga kerja AS mengindikasikan bursa tenaga kerja belum stabil. Kondisi ini bisa menjadi pertimbangan bagi The Fed untuk mengambil langkah pengetatan kebijakan secara hati-hati jika tidak ingin memengaruhi kinerja bursa tenaga kerja.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Katadata, Bloomberg, Coin Telegraph, CNBC Indonesia

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait