Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro (Segera Hadir)
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Advanced Order

support-icon
Dirancang untuk Investor (Segera Hadir)
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

chatRoomImage

Scan kode QR untuk download Pluang di Android dan iOS.

Informasi Terkini UntukmuBlogBerita & AnalisisPelajariKamus
bookmark

Cari berita, blog, atau artikel

Berita & Analisis

Awas Terjebak Slippage dalam Trading! Bagaimana Cara Menghindarinya?

Awas Terjebak Slippage dalam Trading! Bagaimana Cara Menghindarinya?

19 May 2023, 4:28 AM·Waktu baca: 4 menit
Kategori
Slippage

Trader sepertinya sepakat jika mereka tak mau terjebak dalam situasi yang bernama slippage. Namun, apa artinya istilah satu ini?

Apa itu Slippage?

Slippage adalah selisih antara harga aset yang kamu order dengan harga yang dieksekusi oleh pasar. Dengan kata lain, eksekusi level harga yang kamu kehendaki meleset atau tidak sesuai dengan ekspektasi kamu saat memasang posisi order.

Imbasnya, kamu terpaksa bertransaksi pada aset yang harganya tidak sesuai dengan perhitunganmu. Hal ini tentunya akan sangat mempengaruhi kondisi psikologismu atau bahkan perencanaan trading-mu ke depan.

Baca Juga: Memahami 5 Sumber Sinyal Trading Utama bagi Trader Pemula

Mengapa Slippage Bisa Terjadi?

Order yang meleset saat eksekusi merupakan kasus umum dalam dunia trading. Kapan pun kamu bertransaksi, slippage bisa saja terjadi.

Meski demikian, secara historis, slippage lebih sering dilaporkan pada tiga kondisi, yakni: saat pasar sedang ramai, saat volume permintaan sedang menjulang, dan saat volatilitas harga sedang tak karuan.

Ketika ketiga kondisi itu terjadi, umumnya kamu akan tetap meng-order aksi jual-beli aset di level harga yang kamu inginkan. Di sisi lain, pasar pun berupaya untuk memenuhi order-mu dan order-order lain dari pelaku pasar di saat yang bersamaan.

Sayangnya, pasar juga kesulitan memenuhi order tersebut dengan suplai aset yang mumpuni. Pasalnya, seluruh permintaan itu terkonsentrasi di level harga yang relatif sama sementara pasar sudah kehabisan "suplai" aset yang berada di titik harga tersebut.

Nah, kesenjangan antara volume permintaan dan penawaran itulah yang memicu hadirnya slippage dalam trading. Implikasinya, saat transaksi berlangsung, harga real time tetap berfluktuasi sesuai permintaan dan penawaran ataupun dinamika pasar yang sedang berlangsung.

Lebih lanjut, slippage kerap terjadi di pasar cryptocurrency. Maklum saja, sebab harga aset kripto cenderung lebih volatil dibanding harga kelas aset lainnya. Kendati begitu, slippage juga terjadi di pasar lain seperti pasar valuta asing, saham, surat utang hingga pasar berjangka saat kondisi tertentu.

Mengenal Dua Jenis Slippage

Melihat penjelasan di atas, slippage sepertinya adalah hal yang perlu dihindari oleh trader. Namun sebenarnya, slippage sendiri tidak mengandung konotasi negatif maupun positif. Konotasi tersebut bergantung pada bagaimana hasil akhir saat transaksi kamu dieksekusi.

1. Slippage Positif

Slippage positif terjadi saat eksekusi malah meleset di level harga yang lebih mahal ketimbang penawaran awal. Ini kerap terjadi pada trader yang memasang order lewat mekanisme limit order, sehingga transaksinya tidak dapat dieksekusi di bawah limit yang telah dia tetapkan saat memasang posisi order.

Alih-alih boncos, trader yang menggunakan limit order malah ketiban cuan yang lebih lebar gegara aktivitas market yang fluktuatif. Risikonya, jika penawaran aset yang tersedia hanya berfluktuasi di level yang lebih rendah dari penawaran kamu, order tersebut tidak jadi dieksekusi oleh market.

2. Slippage Negatif

Sebaliknya, tanpa limit order kamu mungkin bakal mengalami slippage negatif. Yakni, kondisi di mana order kamu dieksekusi pada level harga yang lebih rendah dari ekspektasimu.

Meski mengesalkan, setidaknya transaksi kamu tetap dieksekusi di tengah kehebohan pasar saat itu, bukan?

Bagaimana Tips Menghindari Slippage?

Beberapa tips berikut bisa kamu coba kalau kamu tidak mau ketiban pulung kena slippage saat bertransaksi.

1. Trading Saat Volatilitas Pasar Rendah namun Likuiditasnya Tinggi

Volatilitas harga yang rendah akan menekan fluktuasi harga aset di pasar. Jika kamu melakukan trading di masa-masa itu, maka kamu pun berpotensi terkena perkara slippage yang minim.

Kendati demikian, kamu perlu memperhatikan satu aspek lagi ketika berada di kondisi tersebut, yakni likuiditas. Pasalnya, tingginya likuiditas memberi sinyal bahwa partisipan yang mengantre di posisi tawar pun besar.

Jika kamu mengeksekusi order di dua kondisi tersebut, maka kecil kemungkinan kamu akan menderita boncos.

2. Gunakan Limit Order

Jika terpaksa bertransaksi di pasar yang fluktuatif, maka ada baiknya kamu menggunakan mekanisme limit order. Gunanya, order kamu bakal tidak bisa dieksekusi di bawah limit yang sudah kamu tetapkan.

Kendati begitu, kamu harus berlapang dada jika order kamu tidak bisa dieksekusi saat fluktuasinya malah negatif, ya.

3. Menggunakan Fitur Slippage Tolerance

Kalau di pasar saham dan valuta asing kamu mengenal konsep limit order, pasar cryptocurrency punya mekanisme yang mirip, serupa namun tak sama, yakni slippage tolerance.

Kamu tidak bisa mengatur fluktuasi harga pasar aset kripto kamu, tapi kamu bisa mengatur batasan yang dapat kamu terima dari fluktuasi harga tersebut lewat fitur ini. Fungsinya, untuk mengatur jumlah maksimal transaksi jika realisasinya meleset dari level yang kamu harapkan.

Umumnya, fitur slippage tolerance ditetapkan berupa persentase dari total order kamu. Namun, perbedaan yang fundamental antara pasar tersentralisasi dengan pasar kripto menuntut kamu untuk lebih teliti dan penuh perhitungan saat menggunakan slippage tolerance.

Jika kamu betransaksi pada pasar aset kripto dengan gas fees yang besar, maka memasang slippage tolerance justru akan membuat transaksi kamu jadi kurang efisien. Sebab, transaksi yang terfinalisasi dengan kuantitas aset lebih kecil tentu tetap memakan biaya transaksi yang sama besarnya. Alhasil, transaksi kamu pun malah "berat di ongkos".

Baca Juga: Pluang Insight: Menjejak Hikmah dari Napak Tilas Drama Kejatuhan LUNA

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi Saham ASindeks saham ASemas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Corporate Finance Institute, Investopedia, Bitkan

Ditulis oleh
channel logo

Fathia Nurul Haq

Right baner

Bagikan artikel ini

Apakah artikel ini berguna untukmu?

like
like
Right baner
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1

Daftar