Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Kamus

Padat Karya
shareIcon

Padat Karya

0  dilihat·Waktu baca: 4 menit
shareIcon
Padat Karya

Padat karya adalah kegiatan ekonomi yang mengedepankan penggunaan sumber daya manusia di dalamnya. Simak selengkapnya lebih jauh di sini!

Apa Itu Padat Karya?

Dalam kegiatan ekonomi, istilah padat karya (labor intensive) merujuk pada sebuah kegiatan produksi barang dan jasa atau sektor industri yang membutuhkan jumlah tenaga kerja banyak.

Agar sebuah sektor atau kegiatan ekonomi bisa tergolong sebagai padat karya, maka jumlah tenaga kerjanya harus diperbandingkan dengan total kapital yang dibutuhkan. Sebagai contoh, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dalam sebuah proses produksi, maka semakin kental pula sifat padat karya di dalam kegiatan ekonomi tersebut.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merujuk istilah padat karya terhadap dua makna.

Pertama, padat karya adalah pekerjaan yang berasaskan pemanfaatan tenaga kerja yang tersedia dalam jumlah yang besar.

Kedua, padat karya adalah kegiatan pembangunan proyek yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia jika dibandingkan dengan modal atau mesin.

Baca Juga: Revolusi Industri

Memahami Padat Karya Lebih Dalam

Seiring perkembangan zaman, industri yang disebut padat karya mengalami pergeseran.

Sebelum terjadinya revolusi industri, 90% tenaga kerja bekerja di bidang agrikultur. Saat itu, industri untuk memproduksi bahan pangan sangat dibutuhkan. Namun, perkembangan teknologi demi peningkatan produktivitas agrikultur akhirnya membuat kebutuhan jumlah tenaga kerja di sektor itu berkurang.

Perpindahan tenaga kerja dari agrikultur kemudian membuka kesempatan bagi industri manufaktur (dan sektor lainnya) untuk berkembang. Mereka pun pada gilirannya menyerap tenaga kerja dengan jumlah banyak demi memenuhi permintaan barang dan jasa dari masyarakat. Lambat laun, pelaku usaha manufaktur pun mengalokasikan sebagian besar biaya produksinya untuk membayar biaya pegawai.

Selain itu, sektor padat karya kerap diasosiasikan dengan kegiatan ekonomi negara-negara berpendapatan rendah. Anggapan itu dapat dimaklumi lantaran negara-negara tersebut tidak memiliki kemampuan permodalan tinggi untuk berinvestasi di faktor-faktor produksi yang lebih canggih dan mahal.

Untuk lebih memahami konsep padat karya lebih jauh, berikut beberapa contoh industri padat karya.

Contoh Industri Padat Karya

1. Industri Konstruksi

Program padat karya sering melibatkan proyek-proyek konstruksi seperti pembangunan jalan, jembatan, gedung, perumahan, irigasi, dan infrastruktur publik lainnya.

2. Sektor Pertanian

Padat karya di sektor pertanian dapat melibatkan kegiatan seperti pembibitan tanaman, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen, dan pengolahan hasil pertanian.

3. Industri Perikanan

Program padat karya di sektor perikanan dapat mencakup kegiatan seperti pembuatan keramba, pemberian pakan ikan, pengelolaan tambak, pengumpulan hasil tangkapan, dan pengolahan produk perikanan.

4. Industri Energi Terbarukan

Program padat karya dalam industri energi terbarukan melibatkan pemasangan panel surya, pembangunan turbin angin, dan pengembangan proyek energi terbarukan lainnya.

5. Sektor Transportasi

Padat karya di sektor transportasi dapat melibatkan perbaikan jalan, pemeliharaan jembatan, pembersihan saluran air, perawatan kendaraan, dan layanan transportasi umum.

6. Sektor Pariwisata

Program padat karya di sektor pariwisata dapat melibatkan proyek perawatan dan pengembangan destinasi pariwisata, pemeliharaan fasilitas, dan pengembangan infrastruktur pendukung pariwisata.

7. Sektor Lingkungan Hidup

Padat karya dalam sektor lingkungan hidup melibatkan kegiatan seperti penghijauan, rehabilitasi lahan, pengelolaan sampah, pengendalian erosi, dan konservasi sumber daya alam.

8. Sektor Pendidikan dan Kesehatan

Program padat karya dapat melibatkan pembangunan, pemeliharaan, dan perluasan fasilitas pendidikan dan kesehatan seperti sekolah, rumah sakit, dan pusat pelayanan masyarakat.

9. Industri Manufaktur

Program padat karya di sektor manufaktur dapat melibatkan produksi barang dan produk, perakitan, pengepakan, dan pemrosesan bahan baku.

10. Sektor Sosial dan Pelayanan Masyarakat

Padat karya juga dapat melibatkan sektor sosial seperti perawatan orang tua, perawatan anak, pelayanan komunitas, dan proyek-proyek sosial lainnya.

Baca Juga: Skala Ekonomis

Mengenal Program Padat Karya Sebagai Kebijakan Ekonomi

Pemerintah biasanya membuat program-program untuk mendorong terbentuknya sebuah industri padat karya guna menyerap tenaga kerja yang banyak. Dalam program padat karya, masyarakat diberdayakan untuk berpatisipasi aktif sebagai pekerja dalam industri atau proyek-proyek terkait.

Harapannya, selain membuka lapangan kerja dan membangun industri tersebut, program padat karya juga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat yang ujungnya turut memperbaiki kondisi ekonomi nasional.

Manfaat Program Padat Karya

Kehadiran industri yang padat karya sangatlah penting untuk bisa menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Lantas, apa saja manfaat program padat karya?

1. Mengurangi Pengangguran

Salah satu tujuan utama program padat karya adalah mengurangi tingkat pengangguran di suatu negara atau daerah tertentu.

Dengan menciptakan lapangan kerja, program ini memberikan kesempatan kepada individu yang mencari pekerjaan untuk menghasilkan pendapatan dan memperbaiki kualitas hidup mereka.

2. Menggenjot Pembangunan Infrastruktur

Program padat karya sering kali terkait dengan pembangunan infrastruktur. Melalui kegiatan konstruksi, perbaikan jalan, irigasi, atau pengembangan sarana transportasi, program ini bertujuan untuk memperbaiki fasilitas publik yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

3. Pemberdayaan Masyarakat

Selain menciptakan lapangan kerja, program padat karya juga bertujuan untuk memberdayakan masyarakat secara keseluruhan.

Dengan melibatkan mereka dalam proyek-proyek produktif, masyarakat dapat meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan modal sosial yang akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang.

Contoh Program Kebijakan Padat Karya di Indonesia

Salah satu contoh program yang didorong pemerintah dalam konteks ini adalah Padat Karya Tunai.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (PMK), padat karya tunai adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat desa, khususnya yang miskin dan marginal, yang bersifat produktif dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya, tenaga kerja, dan teknologi lokal untuk memberikan tambahan pendapatan, mengurangi kemiskinina dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Skema yang juga dinamai Cash for Works ini, merupakan program yang didorong Presiden Joko Widodo sejak tahun 2018.

Lewat skema ini, pemerintah dapat memberdayakan masyarakat lokal dalam melaksanakan program pembangunan, seperti di sektor infrastruktur. Sebagai dampaknya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengklaim telah mampu menyerap 2,89 juta tenaga kerja sejak 2020 lewat program ini untuk mempercepat pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan infrastruktur berskala kecil.

Baca Juga: Suku Bunga Pengaruhi Investasi? Ini 3 Sektor Vital yang Terkena Imbas

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi Saham ASindeks saham ASemas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Investopedia, Kemenko PMK, Liputan 6

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Literasi Finansial

Right baner
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1