Apa itu ARA dan ARB pada saham Indonesia?
ARA dan ARB adalah batas harga harian yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia untuk sebuah saham. ARA (Auto Rejection Atas) adalah harga tertinggi yang boleh diperdagangkan sebuah saham pada hari tersebut, dan ARB (Auto Rejection Bawah) adalah harga terendahnya. Order dengan harga di luar salah satu batas itu otomatis ditolak bursa — dari situlah istilah "auto rejection" berasal. Keduanya aturan BEI yang berlaku untuk semua broker di Indonesia, bukan pengaturan Pluang, dan tujuannya meredam gejolak harga ekstrem dalam satu hari. Keduanya juga berpengaruh langsung di Pluang, karena estimasi beli market order dihitung dari harga ARA hari itu, yang membuat estimasi tersebut terbaca lebih tinggi dari harga live.
Batas yang berlaku saat ini, sesuai aturan BEI sejak 8 April 2025:
| Acuan harga | ARA (batas atas) | ARB (batas bawah) |
|---|---|---|
| Rp50 – Rp200 | 35% | 15% |
| Rp200 – Rp5.000 | 25% | 15% |
| Di atas Rp5.000 | 20% | 15% |
Perhatikan bahwa ARB seragam 15% di semua rentang harga, sementara ARA berbeda-beda menurut rentangnya. Tabel lama yang menampilkan ARB bertingkat berasal dari sebelum revisi April 2025 dan sudah tidak akurat.
Bagaimana batas ini diterapkan. Setiap pagi bursa menetapkan batas atas dan bawah sebagai persentase dari harga acuan saham untuk hari itu. Saham yang diperdagangkan di Rp3.000 dan masuk rentang Rp200–5.000, misalnya, paling tinggi bisa naik 25% ke Rp3.750 dan paling dalam turun 15% ke Rp2.550 selama sesi tersebut.
Apa arti ARA dan ARB untuk ordermu di Pluang:
- Order dengan harga di luar rentang ditolak bursa, bukan oleh Pluang — tidak ada biaya yang dikenakan dan tidak ada dana yang terpotong.
- Saat sebuah saham menyentuh ARA atau ARB-nya, pemasangan order bisa berhenti total, karena tidak ada yang bisa bertransaksi melewati batas itu. Order yang terbuka bisa saja menganggur meski harganya sah.
- Market order juga tidak bisa lolos dari batas ini: ia mengambil harga terbaik yang tersedia, tapi harga itu tidak akan pernah berada di luar rentang harian.
- Pada estimasi beli market order, ARA hari itu menjadi batas skenario terburuk — itulah sebabnya estimasi beli terbaca lebih tinggi dari harga live.
Saham yang menyentuh ARA atau ARB bukan peristiwa khas Pluang. Itu kondisi tingkat bursa yang memengaruhi semua investor di saham tersebut pada saat yang sama, apa pun brokernya.
Pertanyaan terkait:
Q: Singkatan ARA dan ARB itu kepanjangannya apa?
ARA adalah Auto Rejection Atas, yaitu penolakan otomatis di sisi atas — batas tertinggi harian. ARB adalah Auto Rejection Bawah, yaitu penolakan otomatis di sisi bawah — batas terendah harian. Kata "atas" dan "bawah" memang berarti ujung atas dan ujung bawah, jadi pasangan istilah ini menggambarkan dua ujung rentang harga yang boleh ditempuh sebuah saham dalam satu hari perdagangan.
Q: Apakah ARA dan ARB ditetapkan oleh Pluang?
Tidak. Keduanya ditetapkan Bursa Efek Indonesia dan berlaku sama di semua broker Indonesia. Pluang tidak bisa melebarkan, mempersempit, atau membebaskan batas ini untuk akunmu. Struktur yang berlaku sekarang — ARB seragam 15% dan ARA bertingkat 20% sampai 35% tergantung rentang harga — berasal dari aturan BEI yang berlaku sejak 8 April 2025.
Q: Bagaimana ARA dan ARB memengaruhi order saya di Pluang?
Dalam dua hal. Pertama, order dengan harga di luar rentang harian otomatis ditolak bursa, jadi order itu tidak pernah masuk antrean dan tidak memakan biaya apa pun. Kedua, saat sebuah saham mentok di batasnya, pemasangan order bisa berhenti sama sekali, sehingga ordermu bisa menganggur sampai sesi berakhir meski harganya terlihat wajar.
Q: Kenapa estimasi beli market order memakai harga ARA?
Karena hanya keduanya yang dijamin mencukupi. Market order menerima harga berapa pun yang ditawarkan bursa, jadi Pluang tidak bisa tahu biayanya lebih dulu — tapi Pluang tahu order itu tidak mungkin tereksekusi melampaui rentang harian. Menahan dana di harga ARA untuk pembelian menjamin dananya cukup, dan selisihnya dikembalikan begitu harga sebenarnya diketahui.