ekonomi
Memahami Pengertian Outsourcing Serta Kelebihan dan Kekurangan

Retur adalah istilah dalam akuntansi dan dunia perdagangan yang merujuk pada pengembalian barang dari pembeli ke penjual, baik karena kondisi barang yang tidak sesuai maupun kesepakatan lain yang berlaku antara kedua pihak.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), retur berarti mengirimkan kembali atau mengembalikan. Sejalan dengan itu, Kamus Besar Akuntansi mendefinisikan retur sebagai pertukaran barang dagangan yang sudah terjual dengan pengembalian dana atau kredit terhadap penjualan berikutnya dalam transaksi retail. Dengan kata lain, retur adalah peristiwa pengembalian barang yang terjadi karena alasan tertentu, bukan sekadar pembatalan transaksi.
Jawaban Singkat:
Retur adalah peristiwa yang dilandasi oleh beberapa alasan. Umumnya, pembeli mengembalikan barang karena kesalahan penjual, namun tidak jarang retur juga terjadi akibat kesalahan dari pihak pembeli sendiri. Berikut beberapa penyebab retur yang umum terjadi.
Konsumen jarang memeriksa produk secara detail sebelum membeli, apalagi saat berbelanja secara daring karena tidak bisa mengecek kualitas barang secara langsung. Akibatnya, pembeli terkadang menerima barang yang rusak atau cacat setelah diperiksa di rumah. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh kelalaian penjual maupun proses pengepakan dan pengiriman yang kurang baik. Kebijakan penggantian barang rusak tetap bergantung pada syarat dan ketentuan yang berlaku saat transaksi berlangsung, meski sebagian besar penjual bersedia menggantinya demi menjaga reputasi.
Dalam kegiatan belanja daring, konsumen kerap terburu-buru saat memilih barang, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara barang yang dikirim dan yang sebenarnya diinginkan, misalnya salah warna, salah ukuran, atau salah produk. Pembeli dapat mengajukan retur untuk mengembalikan produk yang keliru tersebut.
Retur juga bisa terjadi apabila pembeli menerima jumlah barang yang lebih banyak dari yang seharusnya dipesan. Peristiwa ini sering ditemukan dalam transaksi belanja daring, dan pembeli dapat mengembalikan kelebihan barang tersebut melalui proses retur.
Penyebab ini kerap terjadi pada transaksi yang menerapkan sistem Cash on Delivery (COD), yaitu pembayaran dilakukan di tempat tujuan pengiriman. Meski telah memilih metode pembayaran tersebut, sebagian pembeli tetap enggan membayar barang yang diterima karena merasa tidak sesuai harapan. Dalam kondisi ini, kurir yang mengantarkan barang akan melakukan retur kepada penjual.
Persoalan retur bukan hanya isu operasional, tetapi juga terkait perlindungan konsumen. Berdasarkan data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang dihimpun Tirto.id (28 Juni 2025), pengaduan konsumen belanja daring ke YLKI pada 2024 tercatat sebanyak 144 pengaduan, dengan permintaan refund menyumbang 29,9%, barang tidak sesuai deskripsi 27,1%, dan penipuan sebanyak 7,6%. Data ini menunjukkan bahwa ketidaksesuaian barang dengan pesanan masih menjadi salah satu pemicu utama keluhan dan retur di kalangan konsumen Indonesia.
Dalam dunia bisnis dan akuntansi, retur barang terbagi menjadi dua jenis berdasarkan subjek yang melakukannya, yaitu retur pembelian dan retur penjualan.
Retur pembelian adalah pengembalian barang yang dilakukan oleh pembeli kepada penjual, yang bisa terjadi karena berbagai alasan seperti dijelaskan di atas. Dalam pencatatan akuntansi, retur pembelian dicatat dengan mendebit akun utang usaha dan mengkredit akun retur pembelian, sehingga peristiwa ini mengurangi kewajiban pembeli kepada penjual.
Retur penjualan adalah penerimaan barang retur dari pembeli oleh penjual. Pencatatan retur penjualan di jurnal keuangan berbeda-beda untuk setiap kasus, tergantung mekanisme pembayaran yang dilakukan pembeli. Secara umum, penjual mengelompokkan pencatatan retur penjualan berdasarkan nota kredit yang diterima, yaitu:
Secara akuntansi, retur penjualan dicatat dengan mendebit akun retur penjualan, lalu dikreditkan ke akun piutang usaha (untuk transaksi kredit) atau kas (untuk transaksi tunai).
Bagi penjual, retur penjualan maupun retur pembelian adalah hal yang umum terjadi, meski kerap tidak diinginkan. Kendati demikian, penjual tetap perlu mencatat dan menganalisis retur yang terjadi karena beberapa alasan berikut.
Dengan mencatat retur yang terjadi akibat kerusakan produk, perusahaan dapat mengidentifikasi barang dagangan mana saja yang bermasalah, sehingga bisa mencari solusi untuk meningkatkan kualitas produk yang dijual.
Penjual juga bisa memanfaatkan data retur untuk meningkatkan kualitas layanannya. Misalnya, jika perusahaan menemukan bahwa retur lebih banyak terjadi pada transaksi daring dibanding transaksi fisik, penjual dapat menelusuri penyebabnya dan memperbaiki cara pemasaran produk secara daring, seperti melengkapi spesifikasi produk dan menjelaskan estimasi waktu pengiriman secara lebih rinci.
Bagi investor pasar modal, angka retur penjualan yang tercantum dalam laporan keuangan sebuah emiten ritel bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi. Retur penjualan yang tinggi dan terus meningkat dari waktu ke waktu berpotensi menandakan adanya masalah pada kualitas produk atau proses pengiriman perusahaan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi pendapatan bersih yang dilaporkan.
Data semacam ini biasanya menjadi bagian dari Analisa Fundamental saat menilai kinerja emiten yang tercatat di BEI. Kamu bisa memantau laporan keuangan berbagai emiten ritel secara lebih praktis lewat fitur Screeners di aplikasi Pluang, sebelum memutuskan untuk bertransaksi lewat Web Trading. Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham tertentu.
Sebagai penjual, retur barang, baik retur penjualan maupun retur pembelian, memerlukan pengelolaan yang baik. Tanpa pengelolaan yang tepat, proses retur berisiko menjadi bumerang bagi kelangsungan bisnis dan bisa menodai reputasi penjual di mata pembeli.
Syarat yang perlu disiapkan penjual sebelum mengelola retur:
| Langkah | Tujuan | Estimasi Waktu |
|---|---|---|
| 1. Membuat Aturan Retur yang Jelas dan Ringkas | Memberi kepastian syarat & ketentuan retur kepada pembeli | Disiapkan di awal, sebelum transaksi berjalan |
| 2. Tidak Membebani Konsumen dengan Biaya Tambahan | Menjaga kenyamanan dan kepercayaan pembeli | Berlaku selama proses retur berlangsung |
| 3. Melakukan Pengembalian Barang/Dana Secepat Mungkin | Menjaga kepercayaan pembeli terhadap penjual | Sesegera mungkin setelah retur disetujui (durasi bervariasi sesuai kebijakan penjual) |
Retur adalah peristiwa yang mungkin terjadi kapan saja, sehingga penjual perlu menyiapkan aturan retur yang jelas dan mudah dipahami agar pembeli merasa nyaman bertransaksi. Penjual bisa mencantumkan syarat dan ketentuan retur secara rinci di situs, akun media sosial, atau halaman marketplace, termasuk ketentuan garansi yang berlaku. Penjual juga dapat meminta pembeli merekam video saat membuka paket (unboxing) sebagai bukti kondisi barang, sehingga lebih mudah menentukan apakah retur menjadi tanggung jawab penjual atau bukan.
Proses retur pembelian dalam transaksi daring umumnya mengharuskan pembeli mengirim kembali barang melalui jasa logistik, yang menimbulkan biaya pengiriman tambahan. Agar pembeli tidak merasa dirugikan, penjual sebaiknya menanggung atau tidak membebankan biaya tambahan tersebut saat pembeli mengajukan retur, karena pembebanan biaya ini berisiko membuat pembeli beralih ke penjual lain.
Pembeli membutuhkan kepastian atas transaksi retur yang mereka ajukan. Karena itu, penjual sebaiknya menginformasikan status retur secara berkala dan memproses pengembalian barang atau dana sesegera mungkin sesuai kebijakan yang berlaku. Kepastian yang lambat berisiko merusak kepercayaan pembeli, sehingga mereka enggan bertransaksi kembali dengan penjual yang sama.
Retur pembelian adalah pengembalian barang yang dilakukan pembeli kepada penjual, dicatat sebagai pengurang utang usaha. Retur penjualan adalah penerimaan barang retur oleh penjual dari pembeli, yang dapat dicatat sebagai pengurang piutang, pengembalian dana tunai, atau penggantian barang rusak, tergantung mekanisme pembayarannya.
Tidak selalu. Hak retur bergantung pada syarat dan ketentuan yang ditetapkan penjual saat transaksi berlangsung. Sebagian besar penjual bersedia mengganti barang yang rusak atau tidak sesuai pesanan demi menjaga reputasi, tetapi retur karena alasan subjektif, seperti berubah pikiran, tidak selalu dapat diterima.
Retur pembelian dicatat dengan mendebit akun utang usaha dan mengkredit akun retur pembelian. Retur penjualan dicatat dengan mendebit akun retur penjualan dan mengkredit akun piutang usaha atau kas, tergantung metode pembayaran yang digunakan pembeli saat transaksi awal.
Retur adalah bagian tak terpisahkan dari aktivitas jual beli, baik secara daring maupun konvensional. Memahami penyebab, jenis, dan cara mencatat retur membantu penjual mengelola bisnis dengan lebih tertib, sekaligus menjaga kepercayaan pembeli. Bagi investor, data retur pada laporan keuangan emiten juga bisa menjadi salah satu sinyal tambahan dalam menilai kinerja suatu perusahaan.
Unduh aplikasi Pluang untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Emas Digital, ratusan aset Crypto, dan puluhan produk Reksa Dana mulai dari nominal terjangkau dan hanya beberapa kali klik saja.
Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset karena seluruh produk yang tersedia telah terlisensi dan teregulasi sesuai jenisnya. Yuk, mulai investasi di aplikasi Pluang sekarang!
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


