
Uber Technologies (UBER) pertama kalinya dalam sejarah melaporkan keuntungan di kuartal II kemarin. Perseroan mencatatkan laba operasional di US$326 juta dengan pendapatan yang bertumbuh 14% secara tahunan di US$9,2 miliar. Meskipun bertumbuh dua digit, pertumbuhan pendapatan UBER adalah yang terlambat sejak kuartal 1 2021. Setelah mengalami kekurangan pengemudi yang menyebabkan tarif dan waktu tunggu UBER meningkat, jumlah pengemudi UBER di kuartal II pun meningkat 33% dibandingkan tahun lalu. Selain itu, jumlah trip yang diambil pun meningkat 26% dibandingkan tahun lalu.
Uber berencana untuk meningkatkan laba operasional GAAP dan arus kas bebas sambil melakukan investasi yang disiplin untuk pertumbuhan masa depan. Perusahaan bertujuan untuk mengembangkan bisnis intinya melalui audiens, frekuensi, penetapan harga, produk baru, dan ekspansi internasional.
Saat ini, Uber sedang bekerja sama dengan Waymo untuk kendaraan otonom dan percaya bahwa masih terlalu dini untuk menentukan ekonomi jangka panjang AVs. Perusahaan berencana untuk mengembangkan lapisan rute untuk menentukan permintaan rute. Uber berfokus pada memperluas manfaat keanggotaan, meningkatkan penetrasi, memanfaatkan basis biaya tetapnya, dan meningkatkan profitabilitas.
Meskipun pencapaian UBER terlihat fantastis pada kuartal II, harga saham UBER harus mengalami penurunan 7% pada perdagangan di hari Selasa (1/8). Pasalnya, penurunan ini dikarenakan reaksi pasar yang tidak mempercaya UBER untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatannya kedepan.
Transaksi UBER di Sini!


