keuangan
Ingin Cepat Menabung Hingga Rp1 Miliar, Simak 5 Strategi Jitunya!

Expected return adalah estimasi keuntungan atau kerugian yang bisa diantisipasi investor dari sebuah instrumen investasi, berdasarkan data historis tingkat pengembaliannya. Ada 4 langkah utama yang bisa kamu terapkan untuk menghitungnya, mulai dari mengumpulkan data tingkat pengembalian bebas risiko hingga menerapkan pembobotan portofolio.
Expected return adalah estimasi keuntungan atau kerugian yang dapat diantisipasi investor dari kegiatan investasinya. Angka ini diperoleh setelah menganalisis data historis tingkat pengembalian investasi (Rate of Return/RoR) suatu aset.
Perlu dipahami, expected return bukanlah jaminan hasil investasi. Angka ini hanyalah prediksi return berdasarkan data historis, yang secara konsep dianggap sebagai rata-rata tertimbang imbal hasil sebuah instrumen investasi dalam jangka panjang.
Konsep ini berbeda dari standar deviasi. Expected return adalah perkiraan rata-rata hasil yang bisa didapat dari sebuah portofolio selama periode tertentu, sedangkan standar deviasi mengukur seberapa jauh hasil aktual bisa menyimpang dari rata-rata tersebut — sehingga standar deviasi lebih tepat dipakai untuk mengukur risiko historis sebuah investasi, bukan estimasi hasilnya.
Setiap investor tentu ingin mendapatkan imbal hasil yang sepadan dengan risiko yang diambil. Masalahnya, tanpa kerangka perhitungan yang jelas, investor sulit membandingkan potensi hasil antar-instrumen sebelum memutuskan alokasi dananya.
Dengan memahami expected return, investor bisa membandingkan estimasi imbal hasil satu instrumen dengan instrumen lain secara lebih terstruktur, sekaligus menakar skenario-skenario investasi yang mungkin diambil ke depan. Konsep ini juga menjadi dasar dari sejumlah formula teori portofolio modern, seperti model Black Scholes untuk penilaian opsi dan model penetapan harga aset modal (CAPM), yang menghubungkan estimasi imbal hasil dengan tingkat risiko sebuah investasi secara linear.
Sebelum menerapkan langkah-langkah di bawah, pastikan kamu sudah menyiapkan:
• Data historis tingkat pengembalian (RoR) instrumen yang ingin dianalisis.
• Angka tingkat pengembalian bebas risiko (risk-free rate) terkini, misalnya dari yield obligasi pemerintah atau suku bunga acuan.
• Estimasi risk premium, atau angka Beta instrumen jika ingin memakai metode CAPM.
• Kalkulator atau spreadsheet sederhana untuk menjumlahkan dan membobotkan hasil perhitungan.
Berikut empat langkah yang bisa kamu terapkan untuk menghitung expected return:
Cari angka tingkat pengembalian instrumen yang nyaris bebas risiko, seperti yield obligasi pemerintah atau suku bunga acuan bank sentral. Sebagai gambaran, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun tercatat di 7,04% (data per 19 Agustus 2026, sumber: Bareksa), sementara BI-Rate (BI 7-Day Reverse Repo Rate) berada di 5,75% (data per 19 Agustus 2026, sumber: Bank Indonesia). Angka-angka ini disajikan sebagai contoh referensi risk-free rate, bukan prediksi arah suku bunga atau imbal hasil obligasi ke depan. Komponen risk-free rate umumnya mencerminkan estimasi tingkat inflasi ditambah tingkat pengembalian atas sekuritas bebas risiko.
Tentukan risk premium, yaitu estimasi tambahan imbal hasil yang diminta investor sebagai kompensasi atas risiko suatu aset, atau gunakan metode CAPM jika ingin memperhitungkan volatilitas pasar secara lebih rinci. Rumus dasarnya adalah Expected Return = Risk-Free Rate + Risk Premium — artinya, semakin tinggi risiko yang dipersepsikan atas suatu aset, semakin tinggi pula expected return yang dituntut investor sebagai kompensasi. Alternatifnya, metode CAPM merumuskannya sebagai Expected Return = rf + β (rm − rf), di mana rf adalah tingkat pengembalian bebas risiko, β (Beta) adalah ukuran volatilitas atau risiko sistematis portofolio, dan rm adalah estimasi pengembalian pasar. Dengan metode ini, perubahan expected return terhadap risk-free rate bergantung pada Beta atau volatilitas instrumen yang dianalisis.
Jumlahkan risk-free rate dan risk premium (atau masukkan angka ke rumus CAPM) untuk mendapatkan estimasi expected return satu instrumen. Sebagai ilustrasi hipotetis — bukan data pasar riil — jika risk-free rate diasumsikan 6% dan risk premium sebuah saham diestimasi 9%, maka expected return instrumen tersebut adalah 6% + 9% = 15%. Angka ini tetap berupa estimasi berbasis data historis, bukan jaminan hasil investasi di masa depan.
Kalikan expected return tiap instrumen dengan bobotnya dalam portofolio, lalu jumlahkan seluruh hasilnya untuk mendapatkan expected return total portofolio. Sebagai ilustrasi hipotetis, anggap sebuah portofolio terdiri dari tiga instrumen dengan bobot dan estimasi expected return masing-masing 50% dengan 15%, 20% dengan 6%, dan 30% dengan 9%. Total expected return portofolio tersebut dihitung sebagai (50% × 15%) + (20% × 6%) + (30% × 9%) = 11,4%. Sekali lagi, ini adalah ilustrasi perhitungan, bukan proyeksi hasil investasi tertentu.
Ringkasan Langkah, Data yang Dibutuhkan, dan Estimasi Waktu
Langkah | Data yang Dibutuhkan | Estimasi Waktu |
Kumpulkan risk-free rate | Yield obligasi pemerintah atau suku bunga acuan terkini | Beberapa menit (data publik) |
Estimasi risk premium / Beta | Data historis volatilitas instrumen atau pasar | Beberapa menit hingga beberapa jam, tergantung kedalaman riset |
Hitung expected return per instrumen | Hasil langkah 1 dan 2 | Beberapa menit |
Bobot portofolio (jika multi-instrumen) | Alokasi dana tiap instrumen dalam portofolio | Beberapa menit |
Untuk mulai menerapkan konsep ini pada portofolio yang terdiversifikasi, kamu bisa eksplorasi reksa dana di Pluang, atau pelajari lebih lanjut hubungan antara risiko dan tingkat pengembalian investasi serta dasar-dasar investasi lainnya di Akademi Pluang.
Pluang bekerja sama dengan PT Sarana Santosa Sejati sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Meski bermanfaat, expected return punya sejumlah keterbatasan. Konsep ini tidak memperhitungkan risiko-risiko baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan estimasinya didasarkan pada data historis yang belum tentu terulang di masa depan. Oleh karena itu, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya mengandalkan angka expected return semata, melainkan tetap mempertimbangkan seluruh kemungkinan risiko ke depan — termasuk memahami pengelolaan risiko investasi menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) — agar tetap sejalan dengan tujuan investasi masing-masing.
Expected return adalah estimasi keuntungan atau kerugian yang dapat diantisipasi investor dari sebuah instrumen investasi, dihitung berdasarkan data historis tingkat pengembaliannya. Angka ini bukan jaminan hasil, melainkan prediksi berbasis rata-rata tertimbang imbal hasil instrumen dalam jangka panjang, sehingga tetap perlu dipertimbangkan bersama faktor risiko lainnya.
Rumus dasarnya adalah Expected Return = Risk-Free Rate + Risk Premium. Alternatifnya, metode CAPM merumuskan Expected Return = rf + β (rm − rf), di mana β adalah ukuran volatilitas instrumen. Untuk portofolio dengan banyak instrumen, hasil tiap instrumen dikalikan bobotnya lalu dijumlahkan.
Expected return adalah estimasi hasil investasi berdasarkan data historis sebelum transaksi terjadi, sedangkan actual return adalah hasil sebenarnya yang diperoleh investor setelah periode investasi berakhir. Keduanya bisa berbeda karena expected return tidak memperhitungkan risiko atau peristiwa pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Expected return adalah estimasi imbal hasil investasi berdasarkan data historis, dihitung dengan menjumlahkan risk-free rate dan risk premium atau menggunakan metode CAPM. Konsep ini membantu investor membandingkan potensi hasil antar-instrumen dan membobotkan portofolio, namun tetap punya keterbatasan karena berbasis data masa lalu — sehingga keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan risiko ke depan secara menyeluruh.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.