
8M26 adalah istilah yang merujuk pada kinerja keuangan bank only (tidak terkonsolidasi dengan anak usaha) milik Bank Mandiri selama delapan bulan pertama tahun 2026, yaitu periode Januari hingga Agustus 2026, yang secara rutin dilaporkan bank kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di luar laporan keuangan konsolidasian triwulanan yang dipublikasikan ke publik. Angka bank only umumnya menjadi indikator awal sebelum laporan keuangan konsolidasian resmi (yang mencakup kinerja seluruh grup usaha) dirilis pada akhir kuartal.
Bank Mandiri sendiri merupakan emiten perbankan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham BMRI, dan menjadi salah satu konstituen utama dalam perhitungan Indeks LQ45 maupun IHSG.
Tren pertumbuhan laba 8M26 ini melanjutkan capaian semester I 2026, di mana laba bersih Bank Mandiri tercatat Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4% YoY (CNBC Indonesia, 23 Juli 2026). Berikut ringkasan indikator utama kinerja bank only BMRI periode 8M26:
| Indikator | Nilai 8M26 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Laba bersih (bank only) | Rp37,5 triliun | +22,3% |
| Penyaluran kredit | Rp1.592 triliun | +17,6% |
| Dana pihak ketiga (DPK) | Rp1.687 triliun | +17,6% |
| Total aset | Rp2.358 triliun | +20,7% |
| Fee-based income | — | +12,9% |
Sumber: CNBC Indonesia (4 September 2026), Republika (8 September 2026). Data bank only, belum diaudit, dapat berbeda dari laporan konsolidasian triwulanan.
Penyaluran kredit BMRI per Agustus 2026 tembus Rp1.592 triliun, tumbuh 17,6% YoY, sejalan dengan pertumbuhan DPK yang juga naik 17,6% YoY menjadi Rp1.687 triliun (Periskop.id, 7 September 2026). Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di 94,3%, mengindikasikan porsi kredit yang disalurkan relatif terhadap dana yang dihimpun.
Dari sisi komposisi DPK, tabungan tercatat Rp563 triliun dan giro Rp623 triliun. Jika dijumlahkan dan dibandingkan terhadap total DPK, rasio dana murah (Current Account Saving Account/CASA) BMRI berada di kisaran 70,3% — dihitung dari (Rp563 triliun + Rp623 triliun) ÷ Rp1.687 triliun, diolah dari data yang dipublikasikan Bank Mandiri (Periskop.id, 7 September 2026). CASA yang relatif tinggi umumnya berkontribusi pada biaya dana (cost of fund) yang lebih efisien bagi bank.
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) BMRI tercatat di level 1,00% per Agustus 2026, dengan rasio pencadangan (NPL coverage ratio) sebesar 240,6% (CNBC Indonesia, 4 September 2026). Pendapatan berbasis komisi (fee-based income) turut tumbuh 12,9% YoY, mencerminkan kontribusi transaksi non-kredit terhadap pendapatan bank.
Selain kinerja keuangan inti, Bank Mandiri turut melaporkan pertumbuhan ekosistem digitalnya per Agustus 2026 (CNBC Indonesia, 4 September 2026):
Manajemen menyebutkan bahwa pertumbuhan transaksi dan ekosistem digital ini turut menopang solidnya kinerja intermediasi BMRI (CNBC Indonesia, 4 September 2026).
Direksi Bank Mandiri menyetujui pembagian dividen interim sebesar Rp66 per saham atau senilai total Rp6,16 triliun pada 3 September 2026 (Republika, 8 September 2026). Dengan tambahan interim ini, total dividen yang telah dibagikan Bank Mandiri sepanjang 2026 — mencakup dividen final tahun buku 2025 senilai Rp44,47 triliun ditambah dividen interim Rp6,16 triliun — mencapai Rp50,63 triliun (Republika, 8 September 2026).
Perlu dicatat, dividend yield aktual yang diterima investor bergantung pada harga beli saham serta kebijakan pembagian dividen ke depan, yang dapat berubah mengikuti kinerja dan keputusan RUPS. Angka dividen di atas adalah data historis, bukan proyeksi atau jaminan pembagian dividen pada periode mendatang.
Rilis kinerja 8M26 ini muncul di tengah penguatan IHSG, yang ditutup naik 1,01% ke level 6.686,44 pada perdagangan 8 September 2026 (Pasardana/Kiwoom Sekuritas, dipublikasikan 9 September 2026). Saham-saham perbankan, termasuk BMRI, turut disebut menjadi salah satu penopang penguatan indeks pada awal September 2026 (CNBC Indonesia, 3 September 2026). Meski demikian, pergerakan harga saham BMRI ke depan tetap dipengaruhi banyak faktor — termasuk kebijakan suku bunga Bank Indonesia, kondisi ekonomi makro, dan sentimen pasar modal secara keseluruhan — sehingga data historis ini tidak dapat dijadikan dasar prediksi pergerakan harga di masa depan.
Perhatikan tren laba bersih, pertumbuhan kredit, NPL, dan rasio Return on Equity (ROE) dari waktu ke waktu, bukan hanya satu periode laporan saja.
Gunakan analisa fundamental untuk menilai kesehatan bisnis emiten, serta analisa teknikal untuk membaca tren pergerakan harga saham di pasar.
Fitur Screeners di Pluang dapat membantu menyaring saham perbankan berdasarkan rasio keuangan dan kriteria tertentu sebelum melakukan riset lebih lanjut.
Bagi yang terbiasa memantau pasar dari desktop, fitur Web Trading di Pluang memudahkan pemantauan pergerakan harga saham BMRI secara real-time.
Untuk investor yang ingin membangun posisi secara bertahap, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) melalui fitur Auto Invest di Pluang bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi risiko salah waktu masuk pasar (market timing).
Kinerja solid 8M26 tidak menghilangkan risiko yang melekat pada investasi saham perbankan, di antaranya:
Kinerja keuangan masa lalu, termasuk data 8M26 di atas, bersifat historis dan tidak mencerminkan atau menjamin kinerja maupun pergerakan harga saham BMRI di masa mendatang.
Investor yang tertarik memiliki saham BMRI dapat mengaksesnya melalui produk Saham Indonesia di Pluang, dengan langkah umum sebagai berikut:
Pelajari lebih lanjut fitur Saham Indonesia di Pluang sebelum memulai transaksi, dan pastikan memahami risiko yang menyertai setiap keputusan investasi.
8M26 adalah singkatan umum di industri perbankan dan pasar modal Indonesia untuk kinerja keuangan bank only selama delapan bulan pertama tahun 2026 (Januari–Agustus 2026), sebelum laporan keuangan konsolidasian resmi dipublikasikan.
Belum. Angka laba bersih Rp37,5 triliun dan indikator lain pada periode 8M26 merupakan data bank only yang belum diaudit, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia pada 4 September 2026. Angka final dapat berbeda setelah laporan keuangan konsolidasian dan audit tahunan dipublikasikan.
Bank Mandiri membagikan dividen interim sebesar Rp66 per saham atau setara Rp6,16 triliun, disetujui direksi pada 3 September 2026, sehingga total dividen sepanjang 2026 mencapai Rp50,63 triliun (Republika, 8 September 2026).
Saham BMRI termasuk kategori saham blue chip di sektor perbankan dengan likuiditas perdagangan yang relatif tinggi di BEI, yang umumnya lebih mudah dipelajari pergerakannya dibandingkan saham dengan kapitalisasi lebih kecil. Meski demikian, kecocokan suatu saham tetap bergantung pada profil risiko, jangka waktu investasi, dan tujuan keuangan masing-masing individu, sehingga riset mandiri tetap diperlukan.
Saham BMRI dapat dibeli secara online melalui aplikasi Perusahaan Efek yang berizin dan diawasi OJK, salah satunya melalui produk Saham Indonesia di Pluang yang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas.
Kinerja 8M26 Bank Mandiri menunjukkan pertumbuhan laba bersih 22,3% YoY menjadi Rp37,5 triliun, ditopang kredit dan DPK yang sama-sama tumbuh 17,6% YoY serta kualitas aset yang terjaga (NPL 1,00%). Data ini bersifat historis dan bank only, sehingga tetap perlu dilengkapi riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Investor yang ingin memantau maupun bertransaksi saham BMRI dapat memanfaatkan fitur riset dan Web Trading yang tersedia di Pluang.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat investasi untuk membeli atau menjual saham tertentu, termasuk saham BMRI. Data kinerja keuangan yang disebutkan bersifat historis dan tidak menjadi indikasi atau jaminan atas kinerja maupun pergerakan harga saham di masa mendatang. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca setelah mempertimbangkan tujuan keuangan, profil risiko, dan melakukan riset secara mandiri.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Transaksi saham, termasuk BMRI, mengandung risiko kerugian dan nilai investasi dapat naik maupun turun.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


