
Survei Protiviti menunjukkan 47% organisasi besar belum sepenuhnya mengetahui penggunaan alat AI oleh karyawan, menimbulkan tantangan keamanan siber dan tata kelola. Banyak perusahaan menghadapi risiko dari 'shadow AI' dan belum memiliki kerangka tata kelola AI formal, sehingga sulit mengelola ancaman terkait AI. Pemimpin TI melihat risiko siber lebih tinggi dibanding eksekutif, menunjukkan adanya celah pengawasan. Seiring penggunaan AI meningkat, para ahli mendorong penguatan tata kelola dan pemantauan untuk mengamankan sistem dan menjaga nilai bisnis.