Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Minyak Goreng & Minyak Mentah Kompak Jadi Sorotan!

Halo, Sobat Cuan! Rangkuman Kabar kembali menyapa kamu di Rabu (9/3) sore dengan rangkaian kabar ekonomi pilihan, di antaranya adalah sikap pemerintah yang memaksa produsen sawit untuk bantu produksi minyak goreng dan Amerika Serikat (AS) yang cetak defisit neraca dagang tertinggi sepanjang sejarah!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Warga RI Makin Gak 'Pede' dengan Ekonomi

Masyarakat Indonesia ternyata makin pesimistis terhadap prospek ekonomi ke depan. Hal itu tercermin dari nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia di 113,1 pada Februari 2022 alias turun dibanding 119,6 di Januari, seperti dirilis Bank Indonesia (BI) hari ini.

Menurut laporan tersebut, masyarakat Indonesia ternyata mengkhawatirkan dampak negatif maraknya penyebaran COVID-19 terhadap pendapatan hingga pembukaan lapangan kerja baru ke depan. Kecemasan tersebut dapat dimaklumi mengingat Indonesia mengalami kenaikan kasus COVID-19, khususnya varian Omicron, pada bulan lalu.

Apa Implikasinya?

Jika masyarakat pesimistis dengan prospek ekonomi ke depan, maka mereka akan menahan aktivitas ekonominya, utamanya konsumsi atau membuka usaha baru. Sayangnya, hal tersebut bakal melemahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I.

Sejatinya, optimisme masyarakat bisa saja kembali pulih pada Maret seiring meredanya penyebaran COVID-19 di dalam negeri. Namun, di saat yang bersamaan, potensi inflasi akibat kenaikan harga energi dan bahan pangan mungkin bakal kembali membuat warga Indonesia tak begitu pede dengan prospek ekonomi ke depan.

2. Pemerintah Paksa Produsen Sawit Tambah Pasokan Minyak Goreng

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, eksportir minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) wajib mengalokasikan 30% dari volume ekspornya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mulai Kamis (10/3). Sebelumnya, eksportir CPO hanya wajib menyisihkan 20% dari volume ekspornya untuk kebutuhan domestik.

Lutfi beralasan, kebijakan ini ditempuh agar industri minyak goreng bisa mendapat kepastian pasokan bahan baku produksi. Sehingga, produksi minyak goreng nasional bisa memenuhi permintaan domestik dan menurunkan harga minyak goreng yang saat ini terbilang selangit.

Sejak awal tahun, harga minyak goreng yang meroket memang menjadi momok masyarakat. Untuk mengatasinya, pemerintah bahkan menelurkan kebijakan Harga Eceran Tetap (HET) minyak goreng.

Kendati demikian, berbagai portal kabar melaporkan stok minyak goreng di masyarakat masih lenyap. Sejauh ini, pemerintah menduga raibnya minyak goreng di pasaran disebabkan oleh aksi penimbunan dan penyelundupan oleh oknum tak bertanggung jawab.

Apa Implikasinya?

Menjaga pasokan minyak kelapa sawit adalah hal esensial untuk menjaga volume produksi minyak goreng. Sehingga, harga minyak goreng ke depan diharapkan bakal semakin murah dan tidak menambah momok inflasi.

Sekadar informasi, kenaikan harga minyak goreng akan membebani inflasi bahan pangan bergejolak alias volatile food. Inflasi jenis ini memang terbilang kejam lantaran tidak mencerminkan daya beli masyarakat. Selain itu, inflasi jenis ini hanya akan melukai daya beli konsumen dan mengikis pendapatan yang diterima produsen pangan.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Naik Pesawat Tak Perlu Antigen, Rusia Bikin Senewen!

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. AS Beneran Setop Impor Minyak dari Rusia!

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan bahwa negaranya akan melarang impor bahan bakar fosil dari Rusia, termasuk minyak bumi. Langkah tersebut ditempuh sebagai bagian dari sanksi ekonomi AS terhadap Rusia setelah negara beruang merah tersebut enggan angkat kaki dari Ukraina.

Biden berharap, keputusan ini bisa menggoyahkan ekonomi Rusia, yang sebagian di antaranya sangat bergantung dari ekspor hasil Sumber Daya Alam (SDA).

'AS menargetkan (sanksi) ke nadi utama ekonomi Rusia. Melalui sanksi ini, kita tidak akan menjadi pihak yang 'mensubsidi' perang yang diinisiasi Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin),' jelas Biden.

Tak hanya AS, Inggris pun mengumumkan bakal melarang impor minyak Rusia. Kendati demikian, Inggris masih memperbolehkan impor gas alam dan batu bara dari negara Eropa timur tersebut.

Apa Implikasinya?

Kebijakan tersebut tentu akan menyusutkan suplai minyak yang beredar di AS dan Inggris. Dengan demikian, maka harga minyak dunia bakal terus meroket. Kenaikan harga minyak dunia tentu akan berimbas pada kenaikan inflasi energi.

2. AS Cetak Rekor Defisit Neraca Dagang

AS mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$89,7 miliar pada Januari atau naik 9,4% dibanding sebulan sebelumnya yakni US$80,7 miliar. Ini merupakan defisit neraca perdagangan AS paling tinggi sepanjang masa!

Defisit ini terjadi gara-gara angka impor AS melebihi kinerja ekspornya. Pada Januari, AS mencatat impor US$314,1 miliar namun hanya mencetak ekspor US$224,4 miliar.

Adapun biang keladi defisitnya surplus dagang AS adalah impor barang-barang konsumsi senilai US$264,8 miliar. Sementara itu, nilai impor minyak Rusia juga melonjak US$935 juta di waktu yang sama.

Apa Implikasinya?

Kondisi tersebut bisa jadi akan membuat AS mengetatkan keran impornya demi menjaga neraca perdagangannya. Jika itu terjadi, maka Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara yang dirugikan mengingat AS adalah salah satu destinasi ekspor utama Indonesia.

Merosotnya nilai ekspor Indonesia akan menyeret surplus dagang. Imbasnya, cadangan devisa Indonesia pun bisa terkikis.

Baca juga: Pluang Pagi: Aset Kripto Mulai Bersemi, Emas Gak Berhenti Reli!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Bloomberg, Reuters

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait