pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Harga Elpiji Naik, Manufaktur China Makin Ciamik

Rangkuman Kabar (1/3) kembali menyapa Sobat Cuan dengan pilihan kabar domestik dan mancanegara, di antaranya adalah Indonesia yang mencetak deflasi dan harga elpiji yang tenyata kian mencekik! Yuk, simak selengkapnya di sini!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Harga Sembako Turun, RI Catat Deflasi di Februari

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia pada Februari turun 0,02% secara bulanan. Peristiwa ini sekaligus menandai kembalinya inflasi Indonesia ke zona deflasi untuk pertama kalinya sejak September 2021.

Kendati demikian, Indonesia masih mencetak inflasi sebesar 2,06% secara tahunan pada bulan lalu. Selain itu, jika dihitung sejak awal tahun hingga akhir Februari (year-to-date), Indonesia masih mencatat inflasi 0,54%.

BPS mengatakan, deflasi tersebut disebabkan oleh turunnya harga-harga di komponen inflasi bahan pangan bergejolak (volatile food), seperti minyak goreng, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

Meski mengalami deflasi, Indonesia setidaknya masih mencetak inflasi inti sebesar 0,2% secara bulanan. Sekadar informasi, inflasi inti adalah indikator inflasi yang menunjukkan kekuatan permintaan barang dan jasa dari masyarakat.

Apa Implikasinya?

Data deflasi Februari menunjukkan bahwa upaya pemerintah untuk mengendalikan inflasi bahan pangan mulai membuahkan hasil. Selain itu, inflasi inti yang meningkat mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat terbilang membaik secara perlahan. Hal ini sepatutnya bisa menjadi pertimbangan bagi Bank Indonesia (BI) sebelum menyesuaikan kebijakan moneternya sepanjang tahun ini.

2. Sabar Bunda, Harga Elpiji Naik Nih!

PT Pertamina (Persero) secara resmi telah mengerek harga jual Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi sejak Minggu (27/2) lalu. Perseroan beralasan, kenaikan harga tersebut merupakan imbas dari perkembangan harga minyak dan gas dunia terkini.

Secara lebih rinci, Pertamina kini telah menetapkan harga elpiji di Rp15.500 per kilogram (kg) atau naik Rp2.000 dari harga sebelumnya Rp13.500 per kg. Kenaikan harga ini menyasar ke dua jenis elpiji non-subsidi Pertamina, yakni tabung ukuran 5 kg dan 12 kg.

Sekadar informasi, Pertamina sudah dua kali mengerek harga elpiji non-subsidi sejak akhir tahun lalu. Terakhir, pada Desember 2021, Pertamina menaikkan harga elpiji non-subsidi dari Rp11.500 per kg ke Rp13.500 per kg.

Apa Implikasinya?

Kenaikan harga elpiji berpotensi mengerek inflasi domestik ke level yang lebih tinggi. Hal ini sepatutnya lumrah, mengingat tabung elpiji adalah salah satu kebutuhan konsumsi masyarakat yang utama.

Namun, hal yang paling membahayakan dari inflasi energi adalah dampaknya ke kenaikan harga-harga barang lain mengingat sebagian masyarakat menggunakan gas elpiji sebagai komponen biaya usaha. Sebagai contoh, harga makanan warteg jadi bisa menjadi lebih mahal, di mana hal itu bisa mengerek biaya hidup masyarakat.

Jika inflasi terus naik, maka bukan tidak mungkin Bank Indonesia (BI) akan meresponsnya dengan meningkatkan suku bunga acuannya.

Baca juga: Pluang Pagi: Rusia Kena Sanksi Berentet, Aset Kripto Makin Meroket!

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Aktivitas Manufaktur China Kembali 'Maknyus'

Aktivitas manufaktur China terlihat kembali menggeliat pada Februari. Hal ini tercermin dari membaiknya skor indeks manufaktur China yang dirilis oleh kedua lembaga hari ini.

Pertama, Biro Statistik China menunjukkan bahwa Indeks Pembelian Manajer (PMI) pada Februari bertengger di 50,2 atau naik tipis dibanding 50,1 di Januari. Kedua, skor PMI China versi Caixin/Markit bercokol di 50,4 pada bulan lalu alias naik dari 49,1 di bulan sebelumnya.

Serunya, kedua angka tersebut juga melebihi ekspektasi ekonom yakni 49,3 poin.

Tokcernya kinerja manufaktur negara tirai bambu itu disebabkan oleh tingginya permintaan atas produksi barang-barang konsumen (consumer goods). Namun, di saat bersamaan, produksi barang setengah jadi dan barang investasi asal China justru melorot.

Apa Implikasinya?

Kenaikan produktivitas manufaktur China akan berdampak baik bagi kinerja ekspor Indonesia. Sebab, ada kemungkinan China akan menambah ekspor bahan baku produksinya dari tanah air.

Jika itu berlangsung, maka Indonesia dapat terus mempertahankan surplus neraca perdagangannya dan berujung pada kenaikan cadangan devisa dalam negeri. Sementara itu, cadangan devisa biasa digunakan BI untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dengan mengintervensi pasar valas.

2. Gak Kapok-Kapok, Rusia Kena Sanksi Lagi dari AS

Departemen Keuangan AS mengumumkan telah menambah sanksi ekonomi baru kepada Rusia setelah negara beruang merah tersebut enggan menghentikan serangannya ke negara tetangganya, Ukraina.

Adapun, sanksi baru tersebut berupa pembekuan aset-aset bank sentral Rusia yang berada di sistem keuangan AS dan memutus akses pendanaan eksternal bagi lembaga dana bergulir investasi Rusia (National Wealth Fund). Implikasinya, kini warga AS dilarang untuk berhubungan bisnis secara langsung dengan segala bentuk industri jasa keuangan Rusia.

AS dan sekutunya melancarkan sanksi tersebut untuk melemahkan nilai tukar Rubel Rusia demi menciptakan instabilitas kondisi keuangan domestik Rusia.

Sanksi tersebut sekaligus menandai gelombang baru sanksi terhadap Rusia setelah AS membekukan aset bank-bank besar Rusia. Penasaran seperti apa detail sanksi AS terhadap Rusia sebelumnya? Yuk, simak di tautan ini!

Apa Implikasinya?

Sanksi terhadap Rusia akan sangat mungkin berimbas ke pelemahan ekonomi global. Namun, dampak yang lebih berbahaya dari pengenaan sanksi tersebut adalah aksi balas dendam Rusia.

Sebagaimana diketahui, Rusia adalah salah satu produsen komoditas terbesar di dunia, khususnya gas alam dan minyak dunia. Jika Rusia akhirnya membatasi distribusi produksi komoditas energinya, maka harga minyak dunia dan gas alam akan melonjak dan menyebabkan inflasi di berbagai belahan dunia.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Harga Minyak Kian Kronis, Metaverse Makin Dijajal Artis

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: CNBC Indonesia, Reuters, New York Times

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES