pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Kabar: AS-Rusia Kian Panas, Harga Minyak Bikin Cemas

Rangkuman Kabar kembali menyapa Sobat Cuan pada Rabu (2/3). Terdapat kabar domestik seperti harga minyak yang meroket dan kabar mancanegara terpilih lainnya! Yuk, simak selengkapnya di sini!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Harga Minyak Mentah Indonesia Februari Meroket!

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berada di level US$95,72 per barel pada Februari, meningkat US$9,83 per barel dari posisi US$85,89 per barel sebulan sebelumnya.

Kementerian ESDM mengatakan, kenaikan harga ICP tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan minyak global di tengah ketatnya suplai.

Data International Energy Agency (IEA) menyebut, pertumbuhan permintaan minyak dunia 2022 bakal bertumbuh 3,2 juta barel per hari dibanding setahun sebelumnya. Hanya saja, di saat yang sama, pasokan minyak dunia bakal seret seiring disrupsi rantai pasok di Amerika Serikat (AS) dan penutupan keran ekspor Libya.

Apa Implikasinya?

Kenaikan harga minyak Indonesia punya dampak ibarat pisau bermata dua.

Di satu sisi, kenaikan harga minyak akan menambah pundi-pundi negara dalam bentuk Pajak Penghasilan (PPh) migas dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas. Seluruh penerimaan itu akan menjadi pos penerimaan di dalam APBN dan bisa digunakan pemerintah untuk membiayai pos belanja APBN.

Namun, di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah juga bisa mendongkrak harga energi. Jika hal itu terjadi, maka Indonesia bisa mengalami inflasi. Inflasi sendiri merupakan "musuh utama" negara-negara di dunia yang tengah berupaya memulihkan ekonominya pasca pandemi COVID-19.

2. Pemerintah Anulir Aturan Pencairan JHT! Kamu Hepi?

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, pemerintah akan segera mengembalikan proses dan tata cara pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) ke prosedur lama.

Dengan kata lain, pemerintah akan menganulir sementara regulasi pencairan JHT saat ini, yakni Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 2 Tahun 2022 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pembayaran Manfaat Jaminan Hari Tua (JHT).

Ida menyebut, kembalinya aturan JHT ke prosedur lama disebabkan oleh instruksi Presiden Joko Widodo untuk merevisi aturan yang penuh kontroversi tersebut. Adapun menurutnya, pemerintah tengah menggodok proses revisi aturan tersebut saat ini.

Sebelumnya, serikat pekerja dan masyarakat memprotes keras aturan JHT anyar lantaran dianggap tidak berpihak kepada pekerja yang terpaksa dirumahkan akibat pandemi COVID-19. Pasalnya, beleid itu menyebut bahwa peserta JHT BPJS Ketenagakerjaan baru bisa mencairkan iuran JHT-nya pada usia 56 tahun.

Apa Implikasinya?

Kebijakan ini memberikan kepastian bahwa peserta JHT yang terkena PHK untuk dapat menarik iurannya. Hal ini diharapkan bisa menopang daya beli dan konsumsi mereka. Jika konsumsi terus bertumbuh, maka pertumbuhan ekonomi ke depan akan subur.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Harga Elpiji Naik, Manufaktur China Makin Ciamik

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Biden Gertak Balik Rusia

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah melakukan kesalahan besar karena telah "meremehkan" kekuatan AS dan sekutunya setelah menginvasi negara tetangganya, Ukraina.

Bahkan, saking geramnya, Biden mengatakan bahwa AS dan pakta pertahanan Atlantik Utara (NATO) siap merespons balik sikap Rusia.

"Dia (Putin) pikir dia bisa menyergap Ukraina dan menganggap bahwa seluruh dunia tidak ada yang mau mencegahnya. Ia juga berpikir bahwa negara barat dan NATO tak akan meresponsnya (invasi Rusia ke Ukraina). Namun, Putin salah. Kami siap (merespons tindakan Putin)," jelas Biden di hadapan Kongres AS Selasa (2/3).

Selain itu, di kesempatan yang sama, Biden juga mengatakan bahwa inflasi adalah musuh ekonomi terbesar saat ini. Biden bahkan menyampaikan simpatinya terhadap warga AS yang "terluka" akibat melihat kenaikan harga-harga yang makin tak terkendali.

Apa Implikasinya?

Komentar Biden tersebut sejatinya memperkeruh ketidakpastian geopolitik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia. Alasannya, ucapan Biden menimbulkan indikasi bahwa AS kemungkinan bisa menambah sanksi ekonomi ke Rusia atau bahkan ikut terlibat di tensi geopolitik tersebut secara langsung.

Jika semakin banyak negara ikut serta di dalam konflik tersebut, maka ada kemungkinan dampak ekonomi dari peristiwa tersebut bisa ikut menjalar. Hal ini, tentu saja, bisa semakin memburamkan prospek ekonomi global ke depan.

2. Siap-Siap, The Fed Diramal Bakal Agresif Kerek Bunga!

Bank sentral AS The Fed diprediksi bakal lebih ngebet mengerek suku bunga acuannya, Fed Rate, tahun ini mengingat inflasi yang terus membara di negara Paman Sam tersebut. Ramalan tersebut didukung oleh analisis terkini dua bank top AS, Bank of America Corp dan Goldman Sachs Group Inc.

Keduanya menyebut, The Fed akan mengerek suku bunga acuannya hingga 2% pada akhir tahun nanti, jauh lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yakni di kisaran 0 hingga 0,25%. Sementara itu, investment bank terkemuka AS JPMorgan Chase & Co malah memproyeksi suku bunga acuan Fed akan berada di 2% akhir 2023 mendatang.

Kendati demikian, seluruh lembaga tersebut juga mengatakan bahwa ketidakpastian ekonomi akibat tensi geopolitik Eropa mungkin bakal jadi pertimbangan The Fed untuk mengerem penyesuaian kebijakan moneternya.

Hanya saja, The Fed nampaknya bakal lebih fokus dalam memerangi inflasi. Apalagi, Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa meredam inflasi adalah pekerjaan rumah utama pemerintahannya tahun ini.

Apa Implikasinya?

Kenaikan suku bunga acuan The Fed akan membuat investor asing melarikan dananya dari pasar modal Indonesia. Sebab, mereka tentu akan memilih instrumen yang lebih cuan saat rezim suku bunga tinggi, misalnya obligasi pemerintah dan instrumen tabungan.

Sayangnya, jika arus modal keluar terbilang deras, maka nilai tukar Rupiah bisa ikut bergejolak. Sehingga, ada baiknya Bank Indonesia (BI) sudah mempersiapkan kemungkinan tersebut dengan rangkaian stress test dan cadangan devisa yang mumpuni untuk menstabilkan nilai Rupiah melalui intervensi pasar valas.

Baca juga: Kabar Sepekan: Rusia Kena Sanksi Bejibun, Harga Minyak Naik ke Ubun-Ubun

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Bloomberg, CNBC Indonesia, Bloomberg, CNN Indonesia

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES