Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 5 menit

View

0

Pluang Insight: Mengadu Prospek Alibaba & Baidu Pasca Jadi Bintang Dadakan

Dua saham teknologi asal China, Alibaba dan Baidu, mencetak pergerakan fantastis pada perdagangan Rabu (16/3). Nilai saham keduanya kompak meroket di waktu yang sama dan bikin investor tercengang. Lantas, ada apa di balik performa kinclong duo raksasa teknologi China tersebut? Simak selengkapnya di Pluang Insight berikut!

Saham China di AS Lompat Kegirangan

Pada perdagangan Rabu (16/3), investor dikejutkan dengan nilai indeks Nasdaq Golden Dragon China yang tiba-tiba melonjak 33%. Peristiwa ini menandai lonjakan saham-saham China harian tertinggi sejak 2001 silam sekaligus menghentikan aksi jual tajam senilai lebih dari US$200 miliar sejak tiga hari sebelumnya.

Usut punya usut, moncernya kinerja saham China di AS didorong oleh komitmen pejabat otoritas China yang berniat untuk melonggarkan aturan pasar modal dan mendukung iklim usaha sektor properti dan teknologi.

Di samping itu, kenaikan harga saham Alibaba dan Baidu juga ditopang oleh sikap The Fed yang akhirnya mengerek suku bunga acuan 25 basis poin kemarin, yang menjadi kenaikan suku bunga acuan pertama sejak 2018 silam.

Memang, kebijakan The Fed tersebut sepatutnya menjadi sentimen negatif bagi saham-saham teknologi. Namun, pengumuman tersebut ternyata berubah menjadi angin segar karena pelaku pasar sudah meramal angka kenaikan tersebut sebelumnya.

Ketua The Fed Jerome Powell juga mengatakan, otoritas moneter AS tersebut juga berencana akan menambah kenaikan suku bunga acuan enam kali di sisa tahun ini hingga mencapai 1,9%.

Apa Saja Dukungan Kebijakan China Tersebut?

Kemarin, Komite Stabilitas Keuangan dan Pembangunan di bawah Dewan Negara China mengatakan, otoritas China akan menjaga kestabilan pasar sahamnya dan mengambil langkah-langkah demi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2022. Namun, di saat yang bersamaan, otoritas setempat juga akan berhati-hati dalam menerapkan kebijakan yang berujung kontraksi ekonomi.

Nah, salah latu langkah untuk menjaga kestabilan pasar modal tersebut adalah memelihara “komunikasi yang baik” dengan regulator AS mengenai pencatatan perusahaan China di AS.

Di samping itu, komiter tersebut juga mengatakan, kebijakan moneter China harus 'secara aktif merespons' mendukung ekonomi sembari meningkatkan penyaluran kredit baru yang berfokus pada 'pertumbuhan ekonomi yang tepat'. Tak ketinggalan, komite tersebut juga berjanji menjaga kestabilan pasar keuangan Hong Kong sambil meningkatkan koordinasi dengan regulator Hong Kong.

Pernyataan itu muncul ketika ekonomi China menghadapi lonjakan transmisi lokal COVID-19 yang berujung pada lockdown dan sempat membuat kinerja pasar saham China oleng. Makanya, tak heran jika pengumuman kebijakan tersebut menjadi sentimen positif bagi kinerja saham-saham asal China.

Hanya saja, beberapa analis malah mengatakan bahwa pertumbuhan jumbo saham asal China sebagai sesuatu yang berlebihan.

Mereka beranggapan, otoritas China yang selama ini terlihat getol meregulasi sektor teknologi dari aspek antimonopoli dan kebijakan keamanan data tetap menjadi ancaman bagi pertumbuhan sektor teknologi di negara tirai bambu tersebut.

Apalagi sebelumnya, investment bank top JPMorgan Chase & Co menyebut bahwa saham-saham pentolan teknologi China bukanlah opsi instrumen 'yang tidak dapat diinvestasikan' dalam jangka pendek.

Baca juga: Pluang Insight: Menilik Berkah dan Musibah dari Tensi Rusia-Ukraina

Alibaba dan Baidu Keluar Jadi Jawara

Nah, di tengah moncernya kinerja saham-saham asal China kemarin, terdapat dua saham yang menjadi bintang panggung, yakni saham Alibaba Group Holding Tbk dan Baidu. Betapa tidak, nilai saham keduanya masing-masing mencetak pertumbuhan nilai 37% dan 39% kemarin! Bahkan, pertumbuhan nilai saham harian Alibaba kemarin menjadi yang tertinggi sejak debutnya di pasar New York pada 2014 silam.

Lantas, seperti apa profil singkat Alibaba dan Baidu? Yuk, simak di sini!

Alibaba (BABA)

Alibaba adalah perusahaan perdagangan daring dan seluler terbesar di dunia jika dilihat dari sisi volume perdagangannya, yakni 7,5 triliun Yuan China per tahun fiskal yang berakhir Maret 2021.

Pendapatan perdagangan ritel Alibaba di China menyumbang 63% dari pendapatan perseroan per September 2021. Selain itu, pundi-pundi penerimaan perseroan juga berasal dari perdagangan grosir China sebesar 2% dari total pendapatan, pasar ritel/grosir internasional sekitar 2% hingga 5%, teknologi komputasi awan sebesar 10%, media digital dan platform hiburan sebesar 4%, layanan logistik Cainiao sebesar 5% dan inisiatif bisnis lainnya sebesar 1%.

Selain itu, Alibaba juga mengoperasikan pasar daring China, termasuk anak usaha yang bernama Taobao (konsumen-ke-konsumen) dan Tmall (bisnis-ke-konsumen). 

Baidu (BIDU)

Baidu adalah mesin pencari Internet atau yang dikenal sebagai search engine terbesar di China yang mengambil pangsa pasar 84% search engine China pada September 2021.

Perusahaan mendapatkan 62% pendapatannya dari layanan pemasaran daring dengan berbasiskan search engine pada 2020. Di luar bisnis tersebut, Baidu juga mengembangkan sayap di bidang teknologi lanjutan seperti kecerdasan rekayasa (artificial intelligence/AI) teknologi penyimpanan awan, layanan streaming video, teknologi pengenalan suara, dan mobil swakendara.

Saham Apakah yang Patut Dibeli?

Kedua perusahaan tersebut memiliki keunikannya tersendiri dan berdiri di sektor yang berbeda. Namun, dari sisi valuasi, nilai keduanya terbilang murah. Sekadar informasi, valuasi Alibaba sesuai rasio harga saham terhadap pendapatan (Price to Earning/PE) berada di 11,6 23F sementara Baidu berada di angka 14,5x 23F.

Berkaca dari hal tersebut, Pluang beranggapan bahwa saham Alibaba lebih menarik dari Baidu karena valuasi yang lebih murah. Kemudian, dukungan dari pemerintah China untuk menstimulasi pertumbuhan ekonominya juga diharapkan bisa mendongkrak penjualan ritel Alibaba.

Analis AS pun ikutan optimistis dengan prospek pertumbuhan saham Alibaba ke depan karena performanya cukup mumpuni. Bayangkan, jika kamu membeli saham Alibaba setahun yang lalu, maka nilai saham Alibabamu kini berhasil naik 65%!

Selain itu, analis AS mengatakan bahwa harga saham Alibaba sepatutnya berada di US$173,21 per lembar, jauh lebih tinggi dibandingh harga sebenarnya yakni US$104 per lembar.

Apakah Masih Terlambat Beli Saham Alibaba dan Baidu?

Pluang beranggapan, Sobat Cuan sebenarnya masih belum terlambat jika ingin mengoleksi saham Alibaba dan Baidu. Pasalnya, kedua saham tersebut bisa kamu miliki dalam jangka panjang dan saat ini pun kondisinya masih terbilang early reversal.

Berdasarkan analisis teknikalnya, pergerakan saham Alibaba pun belum sepenuhnya bullish meski sudah ada reversal

Jadi, tidak ada kata terlambat jika Sobat Cuan ingin mengoleksi saham keduanya karena risk dan reward-nya sangat menarik.

Investasi CFD Saham Alibaba di Sini!

Investasi CFD Saham Baidu di Sini!

Baca juga: Pluang Insight: Bak Film, Raihan Laba Disney Berakhir 'Happy Ending'

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait