Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 5 menit

View

0

Pluang Insight: Menilik Berkah dan Musibah dari Tensi Rusia-Ukraina

Kondisi pasar belakangan ini memang cukup bergelombang. Penyebabnya, apalagi kalau bukan invasi Rusia ke Ukraina sejak pekan lalu. Namun, apakah kondisi ini bakal jadi petaka atau justru buah manis bagi ekonomi Indonesia? Yuk, simak di sini!

Selamat Sore, Sobat Cuan! Kabar mengenai invasi Rusia terhadap Ukraina nampak belum surut dari jagat pemberitaan.

Hingga saat ini, upaya damai belum digaungkan oleh kedua negara. Sementara itu, Rusia juga terlihat enggan menarik mundur pasukannya meski sudah dijatuhi sanksi bejibun dari Amerika Serikat (AS).

Namun, sekarang Pluang tidak akan berbicara urusan politik. Apalagi, berbicara mengenai siapa yang seharusnya jadi biang keladi utama perselisihan tersebut. Daripada membahas perihal yang masih simpang siur, Pluang akan membahas dampak tensi Rusia dan Ukraina terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Mengapa Invasi Rusia Bakal Berdampak ke Ekonomi Global?

Secara kasat mata, Rusia dan Ukraina bukanlah kekuatan ekonomi dunia utama layaknya China atau AS. Untuk melihat gambarannya, Sobat Cuan bisa menyimak tabel perbandingan ekonomi Rusia dan Ukraina berikut!

Lantas, kenapa tensi geopolitik di antaranya bisa mempengaruhi ekonomi dunia?

Sobat Cuan perlu memahami bahwa Rusia dan Ukraina adalah dua negara Eropa yang kaya sumber daya alam. Rusia kaya akan batu bara, minyak bumi, dan gas alam, sementara Ukraina kaya dengan hasil agrikulturnya seperti gandum, biji bunga matahari, jagung, dan jelai.

Nah, Sobat Cuan bisa membayangkan kan jika keduanya berselisih satu sama lain? Ya, tensi yang mendidih di antara keduanya akan berpengaruh ke jumlah pasokan dan distribusi komoditas-komoditas tersebut.

Di sisi lain, permintaan global atas komoditas tersebut tengah mengalir deras. Maklum, pandemi COVID-19 yang perlahan surut di berbagai belahan dunia membuat masyarakat kembali bergairah untuk kembali konsumsi dan melakukan mobilitas.

Sayangnya, seretnya pasokan yang bertautan dengan lonjakan permintaan akan mengerek harga komoditas-komoditas tersebut. Sobat Cuan pasti sadar akan hal tersebut, bukan? Tengok saja harga minyak bumi, batu bara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), hingga gas alam yang melesat bak roket dalam beberapa hari terakhir!

Harga-harga komoditas tersebut diperkirakan bakal melonjak seiring timbulnya sanksi ekonomi AS atas Rusia.

Kemudian, dari sisi logistik, alur distribusi komoditas tersebut akan semakin panjang lantaran banyak pelaku logistik yang akan menghindari jalur yang melintas Rusia dan Ukraina. Implikasinya, biaya pengiriman komoditas tersebut kian mahal dan waktu tempuh logistiknya semakin lama.

Apa yang Terjadi Jika Kenaikan Harga Komoditas Kian Kronis?

Tentu saja, implikasi utamanya adalah inflasi. Wajar saja, mengingat kenaikan harga komoditas energi akan dirasakan masyarakat awam dalam bentuk kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik. Sementara itu, meningkatnya harga bahan pangan dari Ukraina akan ditanggung masyarakat dalam bentuk kenaikan harga roti bahkan mie instan.

Agar inflasi tak semakin parah, bank sentral, selaku pemangku kebijakan moneter, tentu akan meresponsnya dengan mengerek suku bunga acuannya. Adapun salah satu bank sentral yang akan mengerek suku bunga acuannya tahun ini adalah bank sentral AS, The Fed.

Tetapi, bank sentral pun akan terjebak dalam kondisi dilema tersendiri. Pada awalnya, bank sentral terlihat pede menaikkan suku bunga acuan lantaran permintaan pasar sedang melonjak. Namun, gara-gara ulah Rusia, kini status biang kerok inflasi telah berpindah ke masalah rantai pasok.

Kemudian, apa yang terjadi jika bank sentral berbondong-bondong menaikkan suku bunga demi menghalau inflasi? Jawabannya, pertumbuhan ekonomi mereka bisa-bisa hanya 0% di tahun ini! Kondisi tersebut, jika terjadi, patut disayangkan mengingat banyak negara baru bersuka cita selepas bebas dari COVID-19 varian Omicron.

Kondisi Geopolitik Memanas: Berkah atau Musibah?

Kondisinya di atas cukup ngeri ya, Sobat Cuan. Tapi, apakah kondisi geopolitik Rusia dan Ukraina tetap bisa menjadi berkah bagi Indonesia?

Nah, untuk memahaminya, ada baiknya Sobat Cuan membaca penjelasan di bawah ini.

Dalam dua pekan ke depan, The Fed akan menentukan arah kebijakan suku bunganya. Para analis berspekulasi bahwa otoritas moneter AS itu akan mengerek suku bunga hingga 50 basis poin pada kesempatan tersebut.

Namun, banyak pihak pula yang menyebut bahwa The Fed bakal menunda kenaikan suku bunganya lantaran situasi geopolitik yang belum pasti.

Penundaan kenaikan suku bunga acuan sejatinya telah terjadi di Jerman. Para pemangku kebijakan moneter negeri panzer tersebut mengurungkan niat untuk mendongkrak bunga acuannya karena khawatir bahwa ekonomi Eropa bakal melempem akibat tensi geopolitik Rusia dan Ukraina yang gak kelar-kelar.

Di satu sisi, penundaan kenaikan suku bunga acuan adalah sentimen positif bagi pergerakan aset berisiko, seperti saham dan aset kripto. Makanya, jangan kaget jika nanti kinerja indeks saham global kian tokcer jika bank sentral global benar-benar menunda kenaikan suku bunga acuannya.

Namun, hal berbeda nampaknya bakal terjadi ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Ya, performa IHSG sejatinya sudah kinclong tanpa harus menanti penundaan kenaikan suku bunga bank sentral. Bahkan, sang indeks domestik sejatinya kecipratan berkah dari konflik yang terjadi di Rusia dan Ukraina. Kok bisa?

Jawabannya simpel saja Sobat Cuan. Yakni, posisi Indonesia sebagai salah satu negara eksportir komoditas utama di dunia.

Seperti yang telah disinggung di atas, tensi geopolitik Ukraina dan Rusia bikin harga komoditas melesat. Sementara itu, ekspor utama Indonesia berbentuk komoditas.

Terlebih, sebagian besar emiten yang melantai di bursa domestik adalah perusahaan berbasis komoditas. Oleh karenanya, ekonomi Indonesia cukup diuntungkan dengan gejolak geopolitik di Eropa Timur.

Bahkan, jika nantinya harga batu bara dan CPO masing-masing menyentuh US$300 per ton dan 8.000 Ringgit Malaysia per ton, maka Indonesia otomatis akan mencetak devisa yang signifikan.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II pun diperkirakan akan cemerlang jika kenaikan harga komoditas terus berlanjut. Hal itu akan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia selain momentum hari raya Idul Fitri dan susutnya penyebaran COVID-19 di dalam negeri.

Fenomena commodity boom tersebut diperkirakan lambat laun akan berubah menjadi property boom. Pola ini, nantinya, akan serupa pada 2013 silam, di mana pasar modal yang tadinya dibanjiri asing gara-gara komoditas beralih ke properti.

Tapi, apakah kondisi sama akan terjadi di pasar internasional? Kondisinya tentu berbeda, Sobat Cuan.

Kalau melihat pergerakan Fed Rate ke depan, Pluang berpandangan bahwa saham sektor teknologi kemungkinan akan kecipratan cuan, utamanya saham-saham teknologi yang belum memiliki laporan keuangan cukup solid.

Memang, saat ini saham-saham yang menghuni indeks Nasdaq tengah melakukan perlawanan. Walaupun situasinya belum bullish benar, namun ada kemungkinan posisi Nasdaq saat ini sudah bottoming formation.

Sayangnya, Pluang masih belum tahu apakah bottoming ini akan seperti awal pandemi COVID-19 pada Maret 2020. Tetapi, ini setidaknya bisa menjadi pertanda bahwa saham teknologi dan aset kripto bisa reli meski hanya 'jalan santai'.

Jadi, tensi geopolitik yang berujung pada commodity boom ini bisa saja menjadi petaka dari sisi makroekonomi, utamanya dari sisi inflasi. Namun, di saat yang sama, kondisi ini bisa menjadi berkah bagi beberapa aset investasi tertentu.

Kalau menurut kamu bagaimana, Sobat Cuan? Apakah kondisi saat ini bakal menjadi berkah atau musibah untukmu?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait