Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 8 menit

View

0

Pasar Sepekan: Investor Kompak Unjuk Taring, Market Rebound dengan Nyaring!

Selamat akhir pekan, Sobat Cuan! Kamu bisa melenggang manis di akhir pekan setelah saham AS, kripto, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan emas kompak mendarat di zona hijau pekan ini. Apa sebabnya? Simak Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Aset kripto boleh tepuk dada setelah nilainya kompak ngebut, bahkan berhasil mencatat penguatan hingga dua digit dalam sepekan terakhir.

Jika Sobat Cuan melihat tabel di atas, maka bisa dibilang altcoin secara umum tengah berjaya ketimbang Bitcoin (BTC). Hal ini merupakan indikasi bahwa pelaku pasar memang sedang punya selera risiko yang tinggi sepanjang pekan ini.

Maklum, pelaku pasar memang memandang bahwa profil risiko BTC lebih rendah dibanding altcoin. Sehingga, jika pelaku pasar ingin bertindak agresif, maka mereka tentu lebih memilih nyemplung ke altcoin.

Usut punya usut, selera risiko pelaku pasar meningkat setelah melihat kinerja trio indeks saham AS yang juga cemerlang.

Hal ini dapat dimaklumi mengingat pelaku pasar selalu menganggap indeks Wall Street sebagai tolok ukur selera risiko investor secara umum. Bahkan, menurut analisis teranyar, kini korelasi antara pergerakan harga kripto dan laju indeks S&P 500 sudah mencapai 96% dalam 90 hari terakhir.

Di samping itu, analis juga beranggapan bahwa langkah pelaku pasar yang "berapi-api" pekan ini juga didorong oleh sikap mereka yang sudah priced in dengan kabar buruk di jagat kripto maupun prospek buruk makroekonomi di masa depan.

Namun, sorotan utama pekan ini jatuh pada kabar mengenai jaringan Ethereum yang mengumumkan akan melakukan pembaruan jaringan The Merge pada 19 September mendatang.

Melalui The Merge, Ethereum akan mengganti algoritma konsensusnya dari Proof of Work menjadi Proof of Stake yang dianggap lebih ramah lingkungan dan mampu memproses transaksi lebih cepat. Implikasinya, proses transaksi di Ethereum jadi lebih cepat dan biaya transaksi (gas fees) jadi lebih efisien.

Hasilnya, nilai ETH sukses tumbuh 27,2% sepanjang ini. Sementara nilai Ethereum Classic (ETC) tumbuh lebih heboh 71% di waktu yang sama. Nah, sentimen The Merge inilah yang digadang juga bikin situasi pasar kripto semringah dalam sepekan terakhir.

Apakah Reli Kripto Bakal Bertahan Lama?

Hanya saja, Pluang justru beranggapan bahwa gairah merongrong aset kripto pekan ini hanyalah imbas dari relief rally semata. Dengan kata lain, pelaku pasar tampak tergugah melakukan aksi beli pekan ini lantaran sudah jenuh melancarkan aksi "cuci gudang" kripto di bulan-bulan sebelumnya.

Kondisi itu tercermin dari kenaikan harga aset kripto yang signifikan tanpa diikuti kenaikan volume perdagangan yang masif. Sobat Cuan perlu ingat bahwa tren kenaikan harga yang sinambung bakal terjadi jika peristiwa itu dikonfirmasi oleh volume aksi jual dan beli yang sama-sama jumbo.

Nah, tak heran jika kemudian aksi borong pelaku pasar kali ini tak serta merta bikin sentimen pasar kripto membaik. Berdasarkan data teranyar, saat ini skor indeks fear and greed BTC masih di level 31 yang mengindikasikan "ketakutan" (fear) di pasar kripto.

Indeks Fear and Greed.Sumber: Alternative.me

Di samping itu, Sobat Cuan juga perlu memperhatikan hasil rapat The Fed pada akhir bulan nanti.

Memang, seperti yang dijelaskan di atas, pelaku pasar sudah priced in dengan kondisi makroekonomi, bahkan sudah menerima kenyataan bahwa The Fed mungkin akan mengerek suku bunga 75 basis poin. Tapi, data historis menunjukkan bahwa harga aset kripto bisa terguncang setelah peristiwa makroekonomi penting.

Lebih lanjut, jika ditengok dari sisi teknikal, BTC saat ini masih tertahan di level support krusialnya di US$22.500. Namun, pergerakan selama empat hari terakhir malah mengindikasikan sinyal pelemahan BTC.

Jika BTC berada di bawah level US$22.500, maka BTC berpotensi melakukan retest ke level US$20.800 hingga US$21.300. Di sisi lain, BTC juga tidak menutup kemungkinan untuk naik hingga ke level US$24.700.

Pasar AS Sepekan

Setali tiga uang dengan pasar kripto, indeks saham AS juga berhasil bangkit di pekan ini. Nilai Dow Jones Industrial Average (DJIA) tumbuh 1,97%, sementara itu nilai S&P 500 dan Nasdaq tumbuh lebih kinclong masing-masing 2,55% 3,33%.

Pada pekan ini, spekulan terpantau melakukan aksi borong setelah merasa harga beberapa saham-saham sudah menyentuh titik bottom dan terlihat murah.

Selain itu, penguatan indeks saham AS ini disebabkan oleh rentetan perilisan kinerja keuangan emiten AS kuartal II yang cemerlang sepanjang pekan ini. Sejauh ini, Data FactSet menunjukkan 68% dari 107 perusahaan S&P 500 yang telah merilis kinerja kuartalannya behasil membukukan kinerja keuangan di atas ekspektasi analis.

Pelaku pasar menganggap, peristiwa tersebut menjadi cermin bahwa emiten AS masih tahan banting di tengah ancaman inflasi, resesi ekonomi, hingga kenekatan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuannya dengan agresif. Akibatnya, pelaku pasar pun adem ayem saja melangkahkan kaki ke pasar saham AS.

Namun pertanyaannya, apakah daya tahan emiten AS tersebut bakal bertahan di jangka panjang?

Pada Jumat, kekhawatiran resesi kembali mampir di benak investor setelah perusahaan media sosial, Snap dan Twitter, merilis kinerja keuangan yang memble. Pelaku pasar mencerna kondisi ini sebagai sinyal bahwa laporan keuangan raksasa teknologi AS, seperti Meta Platforms dan Google, juga berada dalam ancaman.

Sementara itu, moncernya kinerja keuangan emiten teknologi berkategori growth stocks selalu dipandang sebagai indikasi pertumbuhan ekonomi. Sehingga, jika hasil laporan keuangan big tech melempem, maka ekonomi diperkirakan akan berada di zona bahaya.

Nah, di tengah prospek ekonomi mendung tersebut, Sobat Cuan bisa fokus mencicil pembelian saham di sektor yang lebih defensif seperti konsumsi, kesehatan dan juga telekomunikasi.

Tiga sektor tersebut sekarang menjadi primadona dari manajer investasi lantaran kinerjanya diyakini bakal tahan banting mengingat produknya bersifat kebutuhan esensial. Namun, Sobat Cuan juga mungkin bisa mempertimbangkan mengoleksi saham teknologi yang harganya sudah kepalang murah.

Pasar Emas Sepekan

Setelah terus lunglai dalam lima pekan belakangan, harga emas akhirnya kembali bangkit. Di akhir pekan ini, nilai sang logam mulia bertengger di US$1.727,72 per ons alias lompat 1,17% dibanding pekan sebelumnya US$1.707,68 per ons.

Sumber: Bullion Vault

Meski berhasil mencatat penguatan pekan ini, harga emas sejatinya melalui pekan yang penuh gejolak. Sakin labilnya, harga emas bahkan sempat menyentuh level terendahnya US$1.687 per ons di pertengahan pekan.

Kali ini, pergerakan nilai Dolar AS menjadi biang keladi jungkat-jungkitnya harga emas sepekan terakhir.

Nilai indeks Dolar AS sempat hampir menyentuh level tertingginya dalam dua dekade terakhir di pertengahan pekan ini. Namun, di rentang waktu yang sama, harga nilai sang aset greenback juga sempat luruh dengan kilat.

Nah, kondisi tersebut tentu mempengaruhi keputusan pelaku pasar untuk mengoleksi emas. Apa sebabnya?

Asal tahu saja, kenaikan nilai Dolar AS akan membuat harga emas relatif lebih mahal bagi pelaku pasar yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Sehingga, permintaan emas akan melorot. Begitu pun sebaliknya.

Di samping itu, pelaku pasar juga makin getol mengakumulasi emas dalam rangka mengantisipasi potensi resesi ekonomi global. Maklum, pelaku pasar selama ini memandang emas sebagai aset lindung nilai efektif saat prospek ekonomi dipandang tak menentu.

Pelaku pasar mengkhawatirkan perlambatan ekonomi setelah lembaga-lembaga internasional silih berganti memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya di tahun ini.

Baru-baru ini, giliran International Monetary Fund (IMF) yang mengatakan bakal kembali "menyunat" prakiraan pertumbuhan ekonominya di 2022 dalam sebuah laporan yang sedianya dirilis pekan depan. Sebelumnya, lembaga tersebut menaksir ekonomi global bakal bertumbuh 3,6% secara tahunan di 2022.

Baca Juga: Rangkuman Pasar: Ibarat Ikut Citayam Fashion Week, Kripto & IHSG Tampil Ciamik!

Pasar Domestik Sepekan

Setelah tertekan parah pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil rebound di pekan ini. Tengok saja, nilai sang indeks domestik ditutup di level 6.886,96 poin pada Jumat (22/7), tumbuh fantastis 3,53% dibanding pekan lalu.

Kali ini, IHSG harus berterima kasih kepada gerak lincah saham emiten pertambangan seperti batu bara dan nikel.

Apabila ditilik dalam sepekan terakhir, harga batu bara memang terlihat relatif masih membara akibat potensi krisis energi yang diramal masih menjadi momok negara maju. Akibatnya, harga batu bara berjangka Newcastle bahkan sempat tumbuh 2,24% dalam sehari pada Rabu (20/7) lalu.

Kondisi tersebut tentu menjadi berkah bagi kinerja keuangan emiten batu bara dalam negeri ke depan. Tak heran, jika kemudian nilai sahamnya pun ikut terdongkrak.

Tak cuma batu bara, nikel juga pesta pora lantaran nilainya tumbuh di kisaran 10% sepanjang pekan ini dan menjadi angin segar bagi kinerja saham emiten nikel tanah air, seperti PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Namun, khusus INCO, nilai sahamnya sempat terbang 9,62% pada perdagangan Jumat setelah perseroan dikabarkan telah menjalin kerja sama dengan produsen mobil AS Ford untuk membangun fasilitas produksi mobil listrik di Indonesia.

Pluang menganggap, di tengah tren implementasi prinsip lingkungan, tata kelola, dan sosial (ESG) yang terjadi di dunia usaha saat ini, maka saham INCO bisa menarik perhatian investor institusi dan investor ritel ke depan jika kerja sama ini benar-benar berbuah cuan yang manis.

Selain didorong moncernya saham pertambangan, kinerja ciamik IHSG pekan ini juga ditopang oleh sentimen risiko global yang membaik pekan ini. Hal itu membuat pelaku pasar kembali pede berkutat di saham teknologi growth stocks dan berisiko tinggi seperti PT Bukalapak Tbk (BUKA), PT Bank Jago Tbk (ARTO), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Sayang, laju kuat IHSG sempat tertahan setelah Bank Indonesia (BI) yang lagi-lagi mempertahankan suku bunga acuannya di tingkat 3,5%. BI melakukan langkah tersebut lantaran optimistis tingkat inflasi domestik masih terjaga meski dikepung potensi perlambatan ekonomi global.

Hanya saja, Pluang beranggapan keputusan moneter tersebut bisa terus melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Pasalnya, lambatnya kenaikan suku bunga BI di tengah agresivitas kenaikan suku bunga acuan The Fed akan memudarkan daya tarik instrumen berpendapatan tetap di dalam negeri. Implikasinya, arus modal keluar dari pasar modal domestik bisa saja tak bisa terbendung dan ujungnya membuat kurs Rupiah terhadap Dolar AS kian karam.

Asing Masih Getol Borong Saham Domestik

Lebih lanjut, asing ternyata masih getol mengoleksi saham domestik meski nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kian hari kian sekarat. Hal itu tercermin dari nilai beli asing (net foreign buy) sebesar Rp420 miliar sepanjang pekan ini.

Investor asing terlihat kembali doyan melahap saham-saham big cap seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Namun, pelaku pasar juga tak boleh menafikkan aksi jual gede-gedean senilai Rp380 miliar pada Jumat kemarin.

Pluang beranggapan, derasnya aksi jual ini terkait dengan lunturnya daya tarik instrumen investasi berdenominasi Rupiah menyusul langkah BI yang kekeh mempertahankan suku bunga acuannya di tengah rentetan aksi kenaikan suku bunga acuan bank sentral global. Sehingga, pelaku pasar harusnya tidak perlu kaget jika aksi jual asing bernilai jumbo kembali muncul pekan depan.

Baca Juga: Kabar Sepekan: Tesla 'Cuci Gudang' Bitcoin, Inflasi Inggris Makin Bikin Pusing!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 110 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Selain itu, kamu sekarang bisa berdiskusi bersama komunitas di Pluang untuk mendapatkan kabar, insight, dan fakta menarik seputar investasi dari sudut pandang antar member pada Fitur Chatroom Pluang.

Tempat diskusi tanpa worry? Fitur Chatroom solusinya! Klik di sini untuk mendapatkan early access.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait