pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

9779

Pasar Sepekan: Tensi Geopolitik Makin 'Rempong', Market Kena Pingpong

Selamat akhir pekan, Sobat Cuan! Lagi-lagi kita menyambut akhir pekan dengan kondisi pasar yang mendung. Penyebab utamanya apalagi kalau bukan tensi geopolitik Rusia dan Ukraina. Seperti apa jelasnya? Yuk, simak Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Aset kripto nampaknya kini punya hobi baru. Yakni, bikin semua investornya gigit jari massal. Betapa tidak, nilai aset kripto utama selama sepekan terakhir terlihat melempem seperti terlihat di tabel berikut.

Di awal pekan, aset kripto sempat rebound dengan solid setelah warga Ukraina dan Rusia berbondong-bondong mengoleksi aset kripto sebagai aset pelindung nilai seiring tensi geopolitik kedua negara yang kian memanas.

Di samping itu, sanksi AS terhadap Rusia juga dipercaya akan membuat warga Rusia beralih dari menggenggam uang fiat dan berbondong menuju aset kripto. Sehingga, pemerintah Rusia diharapkan bakal meresponsnya dengan mengesahkan aset kripto sebagai alat tukar resmi di negara tersebut.

Namun, aset kripto perlahan terjungkal sejak pertengahan menuju akhir pekan.

Pelaku pasar nampaknya memilih menghindari pasar kripto demi mencerna komentar bos The Fed Jerome Powell yang menginginkan suku bunga acuan Fed Rate naik 25 basis poin saja dalam rapat pemangku kebijakan Fed bulan ini.

Pelaku pasar juga kemudian mencerna sanksi terbaru AS atas Rusia yang bisa jadi merusak harapan atas adopsi aset kripto ke depan.

Asal tahu saja, pada Kamis (3/3), Presiden AS Joe Biden telah meminta platform exchange kripto untuk menghalangi permintaan aset kripto dari kelompok orang tajir Rusia. Biden percaya bahwa kelompok-kelompok kaya Rusia tersebut akan menempatkan kekayaan di aset kripto demi menghindari sanksi AS.

Apalagi, di akhir pekan, nilai Dolar AS pun kian menjadi-jadi seiring antisipasi warga AS atas inflasi. Sekadar informasi, analis meyakini bahwa pergerakan Dolar AS dan performa aset kripto punya korelasi negatif yang kuat sejak Juli 2021.

Kendati demikian, nilai Terra (LUNA) masih bisa bertahan dengan mencetak pertumbuhan 10,16% dalam sepekan terakhir. Nilai LUNA kian kinclong setelah protokol Terra membakar 29 juta keping LUNA dan menggelontorkan US$1 miliar untuk menstabilkan nilai stablecoins-nya, UST.

Return LUNA pada pekan ini jauh mengungguli kawan-kawannya yang lain, seperti terlihat di bawah ini.

Kripto DeFi Naik Daun

Meski 10 aset kripto utama terlihat begajulan, performa aset kripto sebenarnya cukup memuaskan jika dilihat dari sektornya sepanjang pekan ini.

Grafik di atas menunjukkan bahwa lima dari enam sektor aset kripto bertumbuh dua digit salam sepekan terakhir. Kendati demikian, tetap saja pertumbuhan pasar kripto pekan ini masih belum bisa menutup pelemahan yang terjadi pada pekan lalu. 

Lebih lanjut, pada pekan ini, sektor Decentralized Finance (DeFi) keluar sebagai juaranya dengan mengantongi pertumbuhan 14%.

Pertumbuhan mumpuni ini disokong oleh performa apik THORChain atau RUNE yang sukses meluncur lebih dari 30% pada pekan ini. Adapun katalis utamanya adalah wacana integrasi main net jaringan RUNE dengan protokol Terra.

Hanya saja, aset kripto DeFi lainnya tak punya nasib semujur RUNE, seperti terlihat di grafik berikut.

Baca juga: Pluang Insight: Menilik Berkah dan Musibah dari Tensi Rusia-Ukraina

Pasar AS Sepekan

Sama halnya dengan pasar kripto, pasar AS pun harus tengkurap di minggu ini. Nilai indeks S&P 500 melorot 1,27% dalam sepekan, sementara nilai Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Nasdaq malah terkapar lebih parah masing-masing 1,3% dan 2,78%.

Tensi geopolitik Rusia dan Ukraina nampaknya masih bikin pelaku pasar ogah nyemplung ke pasar modal. Mereka khawatir bahwa krisis Eropa Timur yang berkepanjangan bakal membuat ekonomi kian tidak pasti ke depan.

Selain itu, ketakutan pelaku pasar atas inflasi juga bikin mereka tidak pede untuk membenamkan uang di pasar modal.

Ya, mereka mencemaskan inflasi yang terus membara seiring harga komoditas energi, utamanya minyak mentah dan batu bara, yang ogah melorot. Bahkan, ada kemungkinan harga minyak akan terus menjulang setelah AS sedang timbang-timbang untuk menghentikan impor minyak dari Rusia demi menghancurkan ekonomi negara tersebut.

Namun, harga minyak bisa saja bergeming asal AS bisa mencari pemasok minyak mentah dari negara lain yang punya volume produksi seperti Rusia.

Tetapi, mengerek harga energi, baik sengaja maupun tidak sengaja, tentu akan menjadi bumerang bagi indeks AS. Buktinya, indeks S&P 500 harus terjatuh di empat dari lima hari perdagangan gara-gara harga minyak dunia menembus US$115 per barel.

Pluang beranggapan bahwa harga minyak mentah bisa menyentuh US$150 per barel dalam tiga bulan ke depan jika negara-negara terus jaga jarak dari produksi minyak Rusia. Nah, kondisi ini seharusnya bisa menjadi katalis positif bagi saham emiten komoditas seperti Chevron (CVX) atau BHP Billiton (BHP).

Pluang juga berpendapat bahwa performa indeks AS bakal berlari kencang ke depan mengingat indeks utama seperti S&P, Dow Jones, MSCI dan FTSE akan mencoret saham-saham emiten asal Rusia di dalamnya. Aksi tersebut diharapkan bisa mendorong capital inflow ke bursa AS maupun Indonesia.

Namun, sebelum ke arah sana, pelaku pasar nampaknya masih harus fokus terhadap perkembangan invasi Rusia ke Ukraina. Pasalnya, tensi geopolitik tersebut sangat berpengaruh terhadap disrupsi rantai pasok dan ujungnya bikin inflasi makin menjulang.

Kendati sinyal-sinyal inflasi yang galak sudah kentara, namun Ketua The Fed Jerome Powell enggan begitu agresif. Ia justru mengusulkan agar suku bunga acuan Fed Rate naik sebesar 25 basis poin saja. Powell berdalih, meski inflasi tengah memuncak, namun upah pekerja terbilang jalan di tempat meski penyerapan tenaga kerja terbilang jor-joran.

Nah, jika The Fed benar-benar mengerek suku bunga acuannya, maka ada baiknya Sobat Cuan menghindari saham teknologi berketagori growth stocks

Pasar Emas Sepekan

Emas tengah menjadi idola investor dalam sepekan terakhir. Harganya bertengger di Rp927.687 per gram pada Sabtu pukul 08.00 WIB, menguat 2,25% dibanding sepekan sebelumnya.

Investor nampaknya masih getol mengoleksi emas sepanjang pekan ini sebagai alat penyimpan kekayaan. Mereka khawatir bahwa kondisi ekonomi bakal tak menentu ke depan seiring tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang tak kunjung reda.

Selain itu, kecemasan terhadap inflasi juga bikin mereka berbondong-bondong menggenggam emas. Ya, inflasi tengah menjadi buah bibir investor belakangan ini setelah harga komoditas energi melonjak tajam sebagai imbas dari krisis keamanan di Eropa Timur.

Di saat-saat seperti itu, pelaku pasar tentu akan melindungi kekayaannya di emas, sebuah logam mulia yang substansinya tak akan terkikis bahkan hingga 100 tahun mendatang.

Harga emas juga mendapat angin segar pekan ini setelah bos The Fed Jerome Powell mengusulkan kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin pada rapat penyusun kebijakan bank sentral bulan ini. Komentar Powell memupus ekspektasi para investor dan analis, yang sebelumnya mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan hingga 50 basis poin.

Baca juga: Rangkuman Pasar: IHSG Tampil Necis, Nasib Kripto Makin Miris

Pasar Domestik Sepekan

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa dibilang cukup menantang pekan ini meskipun harus beristirahat dua hari lantaran libur nasional.

Sejatinya, pertumbuhan mingguan IHSG pekan ini terbilang biasa-biasa saja. Sang indeks domestik menutup sesi perdagangan Jumat (25/2) di level 6.928,33 poin, menanjak 0,12% dibanding sepekan sebelumnya. Namun, menariknya, IHSG kian mendekati level psikologis 7.000 poin.

Kinerja pasar domestik terbilang berfluktuasi berkat sentimen memanasnya serangan Rusia terhadap Ukraina.

Pada awalnya, pelaku pasar memang melakukan panic selling lantaran khawatir bahwa tensi geopolitik di Eropa akan memperburuk prospek ekonomi ke depan. Namun, kekhawatiran tersebut mereda menuju akhir pekan dan bahkan berubah menjadi optimisme.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, krisis keamanan di Eropa Timur telah mendongkrak harga komoditas energi, seperti minyak bumi dan batu bara. Nah, dalam hal ini, Indonesia sejatinya akan menjadi pihak yang diuntungkan mengingat posisinya sebagai negara eksportir Sumber Daya Alam (SDA).

Kondisi itu pun, tentu saja, juga akan menjadi berkah bagi indeks domestik lantaran sebagian besar emiten yang melantai di dalamnya berkutat di sektor komoditas.

Optimisme tersebut akhirnya membuat investor asing ramai-ramai memborong saham domestik. Buktinya, mereka mencatat aksi beli sebesar Rp6,55 triliun hanya dalam tiga hari perdagangan saja.

Investor asing nampak melahap saham big cap seperti saham PT Jago Tbk (ARTO), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Analisis Teknikal IHSG

Setelah ditutup di level 6.928,33 poin pada Jumat (4/3), IHSG kini berada di atas support kuatnya yakni 6.890. Dari pergerakannya, IHSG juga terlihat akan menguji resistance psikologisnya di level 7.000.

Namun, Pluang menyarankan Sobat Cuan untuk tetap berhati-hati dan bijak jika ingin membenamkan dana di pasar domestik. Sebab, IHSG bisa saja terkoreksi kapan pun setelah menguji level 7.000.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES