Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 7 menit

View

0

Pasar Sepekan: Pasar Kripto Sekarat, IHSG & Emas Terus Melesat!

Investor saham AS dan aset kripto harus kembali memasuki akhir pekan dengan kecewa. Betapa tidak, kinerja keduanya terbilang cukup tragis sepanjang pekan ini. Namun, investor emas dan pasar saham Indonesia boleh saja tampil necis lantaran nilai portofolionya pekan ini tumbuh manis. Yuk, simak selengkapnya di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Aset kripto harus pasrah nangkring di zona merah sepekan terakhir karena kekhawatiran pelaku pasar akan aset yang lebih berisiko. Aset kripto bahkan tak cuma mendekam di zona merah, namun juga tenggelam selama sepekan terakhir. Sobat Cuan bisa melihat ringkasannya pada tabel berikut!

Kinerja aset kripto memang sudah terlihat menyedihkan sejak awal pekan. Namun, pasar kripto akhirnya mengalami tekanan hebat pada Jumat (21/1) ketika BTC tidak kuat menopang dirinya sendiri dan akhirnya breakdown titik support-nya di level US$39.000.

Sejatinya, sinyal-sinyal pelemahan BTC sudah terjadi sejak awal perdagangan pekan ini di mana BTC sudah retest level US$43.000 sebanyak dua kali.

Sesuai analisis teknikal di bawah, Sobat Cuan bisa melihat bahwa harga BTC sedang dalam fase downtrend keras dan membuat titik terendah (low) baru. Support BTC sendiri berada di level US$34.800 sementara resistance terdekat ada di US$37.600. Apakah ini akan menjadi low terakhir BTC bulan ini?

Mengingat BTC adalah "raja" aset kripto, tak heran bila pergerakan altcoin pun mengikuti jejaknya pada pekan ini. Melansir Cointelegraph, anjloknya aset kripto memang disebabkan oleh tekanan aksi jual yang begitu kuat. Namun, analis masih mencari tahu sentimen utama yang mendorong aksi jual tersebut.

Di bawah ini, Sobat Cuan bisa membaca beberapa sentimen negatif yang menghantam pasar aset kripto sepekan belakangan!

Sentimen Negatif Pasar Aset Kripto

Sentimen negatif pertama, dan diduga paling keras menghantam pasar kripto, datang dari Rusia. Bank sentral Rusia mengumumkan akan melarang masyarakat negara beruang merah itu untuk menggunakan dan menambang aset kripto. Otoritas moneter itu berdalih, kedua aktivitas tersebut terbilang ilegal dan berpotensi mengancam stabilitas finansial dan aktivitas ilegal.

Kabar itu jelas memukul pasar aset kripto. Maklum, Rusia adalah negara pertambangan BTC terbesar ke-tiga sedunia.

Selain dari Rusia, pandangan sinis terhadap kegiatan kripto lainnya datang dari Pakistan. Biro Investigasi negara tersebut dikabarkan telah meminta Otoritas Telekomunikasi Pakistan untuk memblokir situs-situs yang berkaitan dengan aset kripto. Kabar ini muncul tepat beberapa hari setelah bank sentral Pakistan berniat melarang segala aktivitas berbau aset kripto di negara tersebut.

Kemudian, sentimen negatif lainnya datang dari Amerika Serikat (AS). Niatan bank sentral AS untuk mengerek suku bunga acuannya, yang diduga akan sebanyak lebih dari tiga kali di tahun ini, bikin pelaku pasar ragu-ragu nyemplung ke pasar kripto.

Apalagi, ekonomi pun tengah diliputi ketidakpastian berkat penyebaran COVID-19 varian Omicron yang menjadi-jadi. Alhasil, kedua kondisi itu sukses membuat pelaku pasar social distancing dengan pasar aset kripto yang berisiko tinggi dan memilih menggenggam instrumen lain yang lebih aman. Hal ini terbukti dari 10 tahun obligasi AS yang meroket ke 1,89, lebih tinggi ketimbang masa-masa awal pandemi COVID-19 terjadi.

Uniknya, korelasi antara BTC dengan indeks Nasdaq, yang didominasi perusahaan teknologi, sekarang berada di 0,4 atau tertinggi sejak 2011. Perlu diketahui, jika korelasi keduanya di angka 1, maka pergerakan BTC dan indeks Nasdaq terbilang berbanding lurus.

Kemudian, pasar kripto saat ini tengah berada dalam level "extreme fear" menurut Fear and Greed Index. Artinya, pelaku pasar punya ketakutan yang agak lebay untuk masuk ke pasar kripto. Padahal, data on-chain menunjukkan bahwa bandar kripto atau whales justru memborong BTC sebelum kabar dari Rusia tersebut mencuat.

Pasar Saham AS Sepekan

Kondisi apes juga dialami Pasar Saham AS. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melorot 4,58%, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq terjungkal lebih parah masing-masing 5,68% dan 7,5%. Bahkan, nilai Nasdaq sudah anjlok 12% sepanjang Januari, performa terburuknya sejak krisis finansial global 2008 silam.

Sama seperti yang terjadi di pasar aset kripto, pelaku pasar nampaknya lagi tidak nafsu menempatkan dana di pasar AS karena beberapa sentimen.

Pertama, investor makin khawatir dengan ancaman inflasi, sehingga mereka meyakini bahwa The Fed akan bersikap sangat agresif di tahun ini. Nah, sikap "pasang kuda-kuda" investor tersebut menyeret saham-saham raksasa teknologi berkategori growth stocks. Sebab, kenaikan suku bunga acuan akan menyandung pertumbuhan ekonomi, sementara saham growth stocks berkinerja moncer kala ekonomi sedang tokcer.

Sesuai grafik berikut, indeks Nasdaq dan S&P500 memiliki korelasi yang berlawanan dibandingkan obligasi negara 10 tahun AS. Hal ini lumrah saja, Sobat Cuan, sebab pelaku pasar tentu akan lari ke aset yang aman jika pasar sedang ajeg.

Jika Sobat Cuan perhatikan secara seksama, investor mulai meninggalkan saham teknologi sejak Desember ketika The Fed mengumumkan percepatan tapering dan merebaknya COVID-19 varian Omicron.

Kedua, investor nampaknya juga kesal dengan hasil pelaporan keuangan kuartal III dan IV emiten AS yang nampak di luar ekspektasi, misalnya kinerja emiten sektor keuangan. Namun, hasil laporan keuangan yang bikin kaget adalah Netflix.

Menurut laporannya, perusahaan streaming daring tersebut ternyata mengalami penurunan jumlah subscribers sepanjang 2021. Alhasil, saham Netflix sempat terbanting 20% pada sesi perdagangan Jumat (21/1). Peristiwa tersebut bikin pelaku pasar berkesimpulan bahwa pamor saham-saham kesayangan di masa pandemi akan redup seiring pulihnya ekonomi.

Selain itu, saham-saham berbasis teknologi pun sudah dianggap kemahalan, makanya gugurnya pun relatif cepat. Faktanya, nilai saham di sektor teknologi ini selalu jatuh sekitar 1% setiap harinya di pekan ini dan bikin investor makin malas membenamkan dana di sektor tersebut. Survey Bank of America menunjukan bahwa investor institusi global sudah mengurangi alokasinya di saham teknologi ke level terendah sejak 2008. 

Apakah kondisi saat ini akan berakhir seperti dot-com bubble yang terjadi di tahun 2000?

Untuk data makroekonomi terakhir, AS mencatat kenaikan klaim bantuan tunakarnya sebanyak 55.000 pengajuan dalam sepekan terakhir. Ternyata, data ini jauh lebih tinggi dari ekspektasi pasar.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemilik bisnis tengah merumahkan pegawainya sebagai imbas penyebaran Omicron. Meskipun demikian, dampak perlambatan ini seharusnya berdampak sementara saja.

Pasar Emas Sepekan

Mendungnya langit di atas pasar saham AS dan kripto tampaknya tidak terjadi pada emas. Sebab, harga emas bertengger di Rp867.544 per gram pada pukul 08.02 WIB, atau naik 0,68% dibanding sepekan sebelumnya.

Nilai sang logam mulia bergerak positif setelah pelaku pasar ternyata memborong emas sebagai aset safe haven. Maklum, investor saat ini sedang ketar-ketir akan potensi inflasi yang kian meradang di berbagai belahan dunia, sehingga mereka memilih untuk memborong emas. Menurut hukum alam, nilai kemuliaan logam emas tak akan susut dimakan waktu, sehingga tak heran jika mereka menyimpan kekayaannya dalam bentuk emas.

Kembalinya "hantu" inflasi terjadi setelah Inggris mengumumkan inflasi tertingginya dalam 30 tahun terakhir. Selain itu, harga minyak yang kembali merangkak pekan ini juga bikin investor makin takut dengan inflasi.

Tidak hanya inflasi, data klaim bantuan pengangguran AS yang tinggi sebesar 286,000 pengajuan baru dan juga rapat FOMC The Fed pekan depan pun jadi sorotan investor.

Sayangnya. laju harga emas tertahan oleh keperkasaan dua musuh bebuyutannya, Dolar AS dan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS pekan ini.

Sekadar informasi, kenaikan nilai Dolar AS akan bikin harga emas menjadi lebih mahal bagi mereka yang jarang bertransaksi dengan mata uang tersebut. Sementara itu, kenaikan yield obligasi AS akan meningkatkan opportunity cost investor dalam menggenggam emas, sebuah instrumen investasi yang tak menelurkan imbal hasil secara periodik.

Baca juga: Rangkuman Pasar: Aset Kripto Menjerit, IHSG Justru Melejit!

Pasar Domestik Sepekan

Nasib mujur juga dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sang indeks domestik menutup pekan ini di level 6.726,37 poin atau lompat 0,49% dibanding pekan lalu.

Penguatan IHSG pekan ini pun hampir menular ke semua sektor mengingat saham emiten berkapitalisasi mini justru menjadi kekuatan utama yang mendorong laju IHSG.

Namun, bintang utama pekan ini disematkan kepada saham-saham emiten produsen nikel seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang kinerjanya meroket. Dua saham tersebut kecipratan berkah dari kenaikan harga nikel hingga lebih dari 10% dalam sepekan saja. Usut punya usut, pengetatan suplai nikel menjadi alasan di balik ngebutnya harga bahan baku baterai mobil listrik tersebut.

Kabar tersebut tentu menjadi berkah bagi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel utama dunia. Sebab, kendati Presiden Joko Widodo telah melarang ekspor nikel mentah, Indonesia masih dapat menyuplai kebutuhan global berupa produk hilirisasi nikel.

Hanya saja, penguatan IHSG pekan ini sejatinya tertahan oleh kondisi ekonomi global, di mana inflasi dan kebijakan hawkish The Fed masih menjadi perhatian investor. Apalagi, penyebaran kasus konfirmasi positif COVID-19 di tanah air pun kembali menanjak. Nah, kedua hal ini bikin investor agak sangsi dengan pertumbuhan ekonomi domestik, sehingga saham sektor teknologi dalam negeri pun ikut tercekik.

Kemudian, bagaimana pergerakan IHSG jika dilihat dari sisi analisis teknikal? Sobat Cuan bisa menyimaknya di grafik berikut!

Dari sisi teknikal, IHSG telah retest support-nya di area 6.544, yang juga memiliki titik pantulan. Tetapi, sinyal ini belum cukup valid sebagai dalih bahwa IHSG akan kembali bullish lagi mengingat indeks saham domestik sedang dalam fase rally base rally. Jika memang IHSG dapat ditutup di atas level 6.760, maka IHSG diharapkan akan melanjutkan penguatan sampai ke level 7.000.

Pemerintah Kerek Anggaran PEN

Salah satu sentimen yang mempengaruhi bursa domestik pekan ini muncul dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ia mengatakan, pemerintah akan mengerek anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun ini dari Rp414 triliun ke Rp455,42 triliun demi membiayai pembangunan ibu kota negara (IKN) Nusantara.

Rencananya, anggaran pembangunan IKN tersebut akan masuk ke dalam rincian klaster penguatan pemulihan ekonomi dalam PEN sebesar Rp178 Triliun. Sebagian dana PEN klaster ini, menurutnya, bisa digunakan untuk membiayai pembangunan jalan di IKN Nusantara.

Sayangnya, Komisi XI DPR RI melayangkan kritik keras terhadap rencana tersebut. Pasalnya, langkah ini melanggar UU Nomor 2 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi COVID-19. Terlebih, pembangunan ibu kota baru bukanlah langkah taktis untuk memulihkan ekonomi domestik selepas pandemi COVID-19.

Kenaikan anggaran PEN akan membengkakkan nilai belanja negara di tahun ini. Sehingga, pemerintah perlu memutar otak untuk meningkatkan penerimaan negara agar bisa membiayai kenaikan alokasi anggaran tersebut. Namun, jika penerimaan negara tidak sesuai harapan, maka pemerintah mau tak mau harus menarik pinjaman demi menutupi belanja tersebut.

Baca juga: Pasar Sepekan: DOGE Makin Garang, Pasar Saham Masih Bimbang

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait