pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Ibu Kota Baru Jadi Polemik, Yield Obligasi AS Bikin Panik

Rangkuman kabar Rabu (19/1) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara, diantaranya rencana pemerintah untuk melakukan pelarangan ekspor komoditas baru dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.

Rangkuman Kabar Domestik

1. DPR 'Goreng' Sri Mulyani Terkait Pendanaan Ibu Kota Baru

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap bahwa sebagian anggaran program pembangunan ibu kota negara (IKN) Nusantara kemungkinan akan dimasukkan dalam anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun ini. Implikasinya, anggaran PEN akan meningkat jadi Rp455,42 triliun dari jumlah yang telah dianggarkan sebelumnya yakni Rp414 triliun.

Rencananya, anggaran program pembangunan IKN tersebut akan masuk ke dalam rincian klaster penguatan pemulihan ekonomi dalam PEN sebesar Rp178 Triliun. Sebagian dana PEN klaster ini, menurutnya, bisa digunakan untuk membiayai pembangunan jalan di IKN Nusantara.

Sayangnya, Komisi XI DPR RI melayangkan kritik keras terhadap rencana tersebut. Pasalnya, langkah ini melanggar UU Nomor 2 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi COVID-19. Terlebih, pembangunan ibu kota baru bukanlah langkah taktis untuk memulihkan ekonomi domestik selepas pandemi.

Apa Implikasinya?

Kenaikan anggaran PEN akan membengkakkan nilai belanja negara di tahun ini. Sehingga, pemerintah perlu memutar otak untuk meningkatkan penerimaan negara agar bisa membiayai kenaikan alokasi anggaran tersebut. Namun, jika penerimaan negara tidak sesuai harapan, maka pemerintah mau tak mau harus menarik pinjaman demi menutupi belanja tersebut.

2. Pemerintah Mau Batasi Ekspor Komoditas Bulan Depan. Apakah Itu?

Pemerintah akan membatasi, bahkan kemungkinan juga akan melarang, kegiatan ekspor beberapa komoditas ekspor unggulan tahun ini.

Salah satu komoditas yang ekspornya bakal disetop ialah bahan mentah bauksit yang akan diikuti pelarangan ekspor konsentrat tembaga. Selain itu, pemerintah juga memperketat aturan ekspor produk minyak sawit mentah (CPO) mulai 24 Januari mendatang untuk memenuhi ketersediaan minyak goreng tanah air. Pemerintah berdalih, larangan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menyetop ekspor bahan mentah yang dinilai memiliki nilai ekonomi lebih rendah.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah akan mengumumkan kebijakan tersebut secara resmi bulan depan.

Apa Implikasinya?

Pembatasan dan pelarangan kegiatan ekspor komoditas unggulan akan mengurangi surplus neraca perdagangan Indonesia. Surplus dagang sendiri merupakan salah satu komponen penting pembentuk cadangan devisa. Sementara itu, cadangan devisa adalah amunisi BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar valuta asing.

Namun, di sisi lain, pelarangan ekspor tersebut seharusnya bisa memacu pemerintah untuk membuka industri hilirisasi bahan mentah. Sehingga, nilai ekspor Indonesia ke depan pun akan memiliki nilai tambah.

Baca juga: Rangkuman Kabar: PPKM Gak Kelar-Kelar, Presiden China Lagi Gusar

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Yield Obligasi AS Ngebut, Capai Puncak Tertinggi dalam 2 Tahun Terakhir

Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun bertengger di level 1,88% pada hari ini, yang merupakan titik tertingginya dalam dua tahun terakhir. Yield obligasi AS juga ternyata telah melonjak 37 basis poin dalam sebulan terakhir, yang merupakan laju pertumbuhan bulanan tercepat sejak 2016 silam.

Selidik punya selidik, kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve berikut langkah pengetatan kebijakan moneter lainnya. Saking hawkish-nya sikap The Fed, investor bahkan memprediksi bahwa yield obligasi AS bertenor 10 tahun akan melampaui 2% atau 3% hingga akhir tahun nanti.

Apa Implikasinya?

Kenaikan yield obligasi AS yang tergolong instrumen investasi berisiko rendah membuat yield Surat Utang Negara (SUN) cenderung naik, sehingga harganya terkoreksi demi menjaga daya tariknya di mata investor.

Selain itu, kenaikan imbal hasil pada instrumen investasi dengan risiko relatif rendah akan membuat instrumen yang lebih berisiko jadi kurang menarik. Akibatnya, pasar saham cenderung membara, tak terkecuali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali ditutup loyo 22 poin di level 6.591,98 hari ini.

2. Inflasi Inggris Tembus Rekor dalam 3 Dekade

Inggris mengalami lonjakan Inflasi Harga Konsumen (IHK) pada bulan Desember sebesar 5,4% year-on-year (yoy). Kenaikan tertinggi dalam 30 tahun itu didorong oleh kenaikan harga makanan, minuman, restoran dan furnitur.

Lonjakan inflasi mengakibatkan daya beli masyarakat Inggris melemah. Dampaknya, para pemangku kebijakan di bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat bunga acuan secepatnya pada bulan depan. Para menteri pun mencari cara untuk meredakan lonjakan tagihan listrik bulan April yang berpotensi semakin memperparah inflasi di Inggris.

Apa Implikasinya?

Inflasi tinggi memprovokasi otoritas moneter untuk menaikkan bunga acuan dan mengetatkan kebijakan moneter. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, langkah ini akan memicu arus modal asing keluar dari sistem keuangan nasional dan beralih pada instrumen keuangan minim risiko yang imbal hasilnya jadi lebih menarik karena kenaikan bunga acuan bank sentral.

Bagi Inggris, tingkat inflasi tinggi akan menyusutkan nilai riil kapital masyarakat dan memukul daya beli rumah tangga. Imbasnya ialah perekonomian yang mandeg akibat inflsi tinggi alias stagflasi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Bloomberg

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES