pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

2904

Rangkuman Kabar: Saham Netflix Anjlok, Batu Bara RI Terus Diserok

Rangkuman kabar Jumat (21/1) mengurai perkembangan domestik dan mancanegara diantaranya target pertumbuhan produksi batu bara yang ekspansif tahun ini serta saham Netflix yang anjlok!

Rangkuman Kabar Domestik

1. BI Ramal Pertumbuhan Kredit Tahun Ini 8,7%

Hasil survei perbankan Bank Indonesia menunjukkan optimisme para responden yang memperkirakan kredit akan tumbuh 8,7% tahun ini, meningkat dibanding realisasi pertumbuhan kredit tahun lalu yakni 5,2%. Optimisme tersebut didorong oleh kondisi moneter dan ekonomi Indonesia yang diprediksi tetap stabil dan terjaganya risiko penyaluran kredit.

Di sisi lain, BI juga memprediksi terjadinya perlambatan penyaluran kredit baru pada kuartal I/2022. Ini terindikasi dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) prakiraan penyaluran kredit yang hanya sebesar 52%, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yakni 87%.

Apa Implikasinya?

Optimisme responden terhadap penyaluran kredit perbankan berbanding lurus dengan ekspektasi masyarakat terhadap prospek perekonomian. Jika prediksi tersebut benar adanya, maka aktivitas konsumsi dan investasi masyarakat Indonesia akan bertumbuh. Ujung-ujungnya, hal tersebut bisa mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini.

2. RI Patok Produksi Batubara Tumbuh 6,1% di 2022

Pemerintah menargetkan produksi batu bara 663 ton pada tahun ini, tumbuh 6,1% dari target tahun lalu. Kenaikan juga terjadi pada target pemanfaatan batubara domestik menjadi 165,7 juta ton.

Pada realisasinya, produksi batu bara tahun 2021 mencapai 614 juta ton atau 98,2% dari target. Sementara itu, pemanfaatan batubara domestik terealisasi 08,7% dari target yakni 137,5 juta ton.

Kendati masih dalam periode pelarangan ekspor hingga 31 Januari nanti, pemerintah telah mengizinkan 96 kapal pengangkut batu bara untuk melakukan ekspor setelah memenuhi domestic market obligation (DMO) 100%. Hingga hari ini, terdapat 139 perusahaan batu bara yang telah memenuhi kewajiban DMO 100% dan dipersilakan untuk melakukan ekspor.

Apa Implikasinya?

Kenaikan target produksi batubara akan berimbas pada peningkatan volume ekspor batubara yang menyumbang surplus neraca dagang Indonesia nantinya. Selain itu, kenaikan produksi batu bara juga bisa mempertebal kantong negara dari pos Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Namun, pemerintah tetap perlu berhati-hati. Sebab, kenaikan angka produksi batu bara tahun ini bisa mengurangi cadangan terbukti batu bara dalam negeri. Hasilnya, ketahanan energi Indonesia di masa depan pun bisa terancam.

Baca juga: Rangkuman Kabar: BI Ganti Kebijakan Moneter, Joe Biden Bikin Geger

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Harga Nikel Capai Rekor dalam Satu Dekade Terakhir

Harga acuan nikel di pasar London Metal Exchange (LME) melonjak 1,8% menjadi US$23.565 per ton, kemarin. Bahkan, harga nikel sempat menyentuh angka US$24.435 per ton yang merupakan level tertingginya sejak Agustus 2011. Sementara itu, kontrak nikel di pasar Shanghai Futures Exchange mencetak rekor tertingginya di angka 176.289 yuan atau setara US$27.796,52 per ton.

Melonjaknya harga nikel didorong oleh permintaan yang meningkat lantaran kegunaannya sebagai komponen baterai kendaraan listrik. Di sisi lain, menghangatnya situasi geopolitik AS dengan Rusia selaku produsen nikel utama dunia diramal bikin kelangkaan suplai semakin menjadi-jadi.

Apa Implikasinya?

Melonjaknya harga nikel akibat menguatnya permintaan dan kelangkaan suplai merupakan peluang bagi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel dunia. Kendati Presiden Joko Widodo telah melarang ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah, Indonesia masih dapat menyuplai kebutuhan global berupa produk nikel yang telah dihilirisasi.

2. Saham Netflix Anjlok 20%!

Saham Netflix (NFLX) kehilangan valuasi pasar sebanyak US$45 miliar, anjlok 20% ke level US$404,5 dalam beberapa jam setelah pembukaan pasar hari ini. Pasalnya, pertumbuhan subscribers baru perusahaan penyedia jasa streaming film tersebut melandai hingga 50% secara tahunan pada 2021 lalu.

Netflix hanya menambah 18,2 juta pelanggan baru menjadi 221,8 juta subscribers secara global. Padahal, pertumbuhan subscribers Netflix di tahun 2020 mencapai 36,6 juta. Tak hanya itu, perusahaan yang makin naik daun gara-gara Squid Game ini malah memasang target rendah untuk pertumbuhan pelanggan baru pada kuartal I 2022 yakni 2,5 juta saja.

Meski jumlah pelanggannya tak bertambah signifikan, Netflix tetap membukukan keuntungan US$607 juta pada kuartal IV/2021, tumbuh 16% secara tahunan.

Apa Implikasinya?

Lesunya  saham netflix ini bisa menjadi sinyal bahwa kinerja saham-saham growth dan raksasa mulai melambat tahun ini. Hal ini semakin akan menekan saham-saham growth stocks yang geraknya juga akan terhalang oleh rencana pengetatan moneter The Fed tahun ini.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNN, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Bloomberg

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES