Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Mengulik Aspek Keuangan dan Prospek Netflix Sebagai 'Raja' Streaming
shareIcon

Mengulik Aspek Keuangan dan Prospek Netflix Sebagai 'Raja' Streaming

20 Jul 2023, 6:54 AM·Waktu baca: 9 menit
shareIcon
Kategori
Netflix

Netflix selama ini memantapkan diri sebagai raja "streaming" sejagat. Namun, apakah perusahaan mampu mempertahankan titel tersebut ke depan?

Profil Perusahaan

Netflix, Inc. (NFLX) adalah perusahaan layanan hiburan yang menyajikan serial televisi, film, dan game kepada lebih dari 232 juta pelanggan di lebih dari 190 negara. Pelanggan dapat menikmati berbagai layanan hiburan tersebut kapan pun, di mana pun, dan melalui gawai apapun asalkan terhubung dengan internet. Selain itu, pelanggan pun dapat mengubah paket berlangganannya kapan saja.

Pendapatan Netflix Berdasarkan Daerah
Pendapatan Netflix Berdasarkan Daerah

Perusahaan ini memiliki kesepakatan dengan berbagai operator kabel, satelit, dan telekomunikasi untuk membuat layanannya tersedia melalui set-top box TV para penyedia layanan ini. Namun, selain melalui kerja sama, Netflix juga memperoleh, melisensikan, dan memproduksi konten orisinil.

Baca Juga: Membedah Aspek Keuangan dan Prospek Bank of America

Tesis Investasi

Pertumbuhan Jumlah Pengguna dari Kebijakan Pelarangan Berbagi Akun

Netflix bisa dibilang cukup kesal setelah mengetahui bahwa 100 juta rumah tangga membagikan akses akunnya, baik username dan kata sandinya, ke pihak-pihak lain yang tidak tinggal satu atap dengan pengguna rumah tangga tersebut. Pasalnya, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan jumlah pengguna Netflix. Terlebih, pertumbuhan itu semakin melandai di tahun lalu.

Imbasnya, sejak awal kuartal II 2023, perusahaan pun mengimplementasikan kebijakan pelarangan berbagi akun bagi pengguna rumah tangga. Peraturan ini menegaskan bahwa jika terdapat dua rumah tangga menggunakan satu akun Netflix bersama, maka mereka perlu merogoh kocek tambahan sebesar US$7,99 di AS. Namun, jika mereka enggan membayar ekstra, maka kedua rumah tangga tersebut harus memiliki akun Netflix-nya masing-masing.

Netflix yakin bahwa kebijakan ini akan bisa mengerek jumlah pengguna Netflix sebesar 43%. Untungnya, perusahaan pun sudah memetik buah manisnya pada kuartal II 2023 ketika 5,9 juta pelanggan baru akhirnya mendaftarkan diri di platform hiburan tersebut.

Paket Nonton ‘Hemat’ Bisa Jadi Sumber Pendapatan Baru

Pada November 2022, Netflix meluncurkan paket berlangganan baru bernama Basic with Ads, di mana penggunanya bisa mengakses katalog hiburan Netflix dengan harga 20-40% lebih murah dari paket berlangganan biasa. Namun konsekuensinya, pengguna harus rela menonton iklan sepanjang lima menit jika menikmati konten Netflix setiap satu jam sekali.

Netflix melempar inisiatif ini atas dasar dua tujuan, yakni meningkatkan pertumbuhan jumlah pengguna dan meraup ekstra pendapatan, khususnya dari biaya berlangganan dan pendapatan iklan.

Upaya tersebut sepertinya cukup berhasil di kuartal I 2023. Pada periode tersebut, perusahaan melaporkan bahwa pendapatan dari paket “hemat” ini sudah melebihi pendapatan dari paket standar di AS. Selain itu, kemunculan paket berlangganan baru tersebut juga sukses mendongkrak jumlah pengguna aktif bulanan (Monthly Active Users/MAU) Netflix menjadi 5 juta pengguna di periode yang sama.

Bahkan menariknya, Netflix juga melaporkan bahwa sebagian pelanggan paket nonton murah tersebut lambat laun mengganti paket berlangganannya ke paket-paket yang lebih mahal. Oleh karenanya, tak heran jika analis menganggap inisiatif ini benar-benar bisa mengerek pendapatan perusahaan di masa depan.

Proyeksi Pendapatan Iklan Netflix
Proyeksi Pendapatan Iklan Netflix

Untuk mendorong pertumbuhan pendapatan iklan, Netflix kini tengah mengembangkan kemampuan periklanannya seperti memasang teknologi yang bisa menargetkan iklan sesuai target pasarnya dan dengan format yang berbeda-beda.

Di samping itu, Netflix juga berencana untuk mengimplementasikan metode periklanan secara episodik, di mana pelanggannya bisa menonton iklan dengan tema serupa satu sama lain ketika menonton konten.

Masih Punya Posisi Sebagai ‘Raja Streaming’

Meski pangsa pasarnya kian menurun akibat kompetisi sengit di industri hiburan, Netflix masih menjadi pemimpin dengan pangsa pasar sebesar 38%.

Selain itu, dengan pendapatan yang diprediksi mencapai US$33 miliar di 2023, pendapatan layanan streaming Netflix masih 57% lebih tinggi dari pesaing terdekatnya, Disney. Dengan skala yang besar ini, Netflix mampu bertahan di tengah melambatnya pertumbuhan industri video streaming dan justru mampu meningkatkan free cash flow dan marginnya.

Dari sisi pendapatan, manajemen memproyeksikan margin pendapatan sebelum pajak dan bunga (EBIT) dalam kisaran 18%-20% pada 2023, yang masih di bawah rekor tingkat margin tertingginya di 2021 sebesar 20,86%. Namun, tingkat margin tersebut diharapkan bisa melaju melebihi 20% di tahun ini seiring peluncuran paket hemat sejak akhir tahun lalu.

Selain itu, investasi perusahaan di produksi konten diperkirakan akan mencapai US$17 miliar per tahun baik di 2023 maupun tahun depan, alias masih di rentang angka yang sama seperti dua tahun sebelumnya. Hal ini diharapkan bisa membantu perusahaan menumbuhkan jumlah pelanggannya, sehingga setiap US$1 dari investasi tersebut diharapkan bisa menghasilkan pendapatan yang mumpuni.

Sementara itu, dari sisi arus kas bebas, Netflix pun punya fondasi yang sangat kokoh, terbukti dari posisi arus kas bebasnya yang mencapai US$2,17 miliar di kuartal I 2023 atau pulih signifikan dari rekor free cash flow terburuknya di 2019 yakni -US$3,14 miliar.

Tak ketinggalan, perusahaan juga berhasil mendongkrak margin arus kas bebasnya sebanyak dua kali lipat dari 10,19% di kuartal I 2022 ke 25,9% di triwulan yang sama tahun berikutnya.

Pangsa pasar yang besar plus kokohnya arus kas bebas menjadikan Netflix sebagai pemilik titel “raja” streaming sejagat. Bahkan, posisinya diharapkan bakal semakin kuat setelah merebak rumor bahwa Netflix akan melakukan kesepakatan lisensi konten dengan HBO. Selain itu, terbuka peluang bahwa Disney juga kemungkinan akan mengikuti langkah serupa lantaran platform streaming miliknya, Disney+, terlihat kesulitan dalam menggaet penerimaan.

Jelas saja, jika perusahaan-perusahaan tersebut mencoba melisensikan konten mereka sendiri, maka mereka akan semakin kesulitan bersaing dengan Netflix yang notabene punya pustaka konten yang "tebal". Sehingga, Netflix akan memiliki value proposition yang lebih menarik dibanding pesaing-pesaingnya.

Terdapat Potensi dari Siaran Olahraga

Menurut analisis yang diterbitkan Research and Market, pasar live video streaming olahraga akan bernilai US$87,34 miliar pada 2028 dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) 21,7%. Tak heran jika kemudian berbagai perusahaan streaming berlomba-lomba untuk masuk ke pasar ini dengan harapan bisa menggaet pelanggan baru dan meningkatkan pendapatan periklanan. 

Kendati begitu, sejauh ini, Netflix sepertinya jarang menggarap segmen hiburan olahraga kecuali menciptakan konten “Formula 1 Drive to Survive”. Namun, Co-Chief Executive Netflix Ted Sarandos pada Januari lalu mengatakan bahwa minimnya konten-konten olahraga bukanlah murni keinginan perusahaan. Ia beralasan, hingga saat ini, Netflix belum menemukan cara untuk menawar hak streaming kompetisi olahraga besar yang menguntungkan bagi Netflix.

Akan tetapi, Wall Street Journal mengabarkan bahwa kini Netflix telah memulai langkah awal untuk merambah segmen penyiaran olahraga. Perusahaan dikabarkan tengah berdiskusi dengan sejumlah pihak terkait agar mampu menyiarkan program olahraga pertamanya, yakni sebuah turnamen golf yang diikuti oleh selebritas, pemain golf profesional, dan pebalap profesional Formula One.

Keputusan Netflix untuk memilih acara tersebut sebagai siaran olahraga pertamanya menandakan kehati-hatian perusahaan untuk masuk ke pasar penyiaran olahraga. Dengan masuk ke pasar penyiaran olahraga, Netflix akan mendapatkan kesempatan untuk mendiversifikasi pustaka konten yang ia miliki. 

Terlebih, dengan munculnya peristiwa mogok kerja massal pelaku industri hiburan (Writer’s Strike), maka menyiarkan tayangan olahraga sepertinya bisa menjadi opsi menarik dan "anti masalah" bagi Netflix.

Baca Juga: Pluang Insight: Bisnis Lesu di Kuartal Lalu, Alibaba Siap Buat Gebrakan Baru!

Pesatnya Pendapatan dari Asia Pasifik

Di tengah fluktuasi pertumbuhan pelanggan Netflix di berbagai belahan dunia, terdapat satu wilayah operasi yang menghasilkan pertumbuhan kinerja keuangan dan operasional yang kinclong nan konsisten, yakni wilayah Asia Pasifik. 

Pada kuartal I 2023, perusahaan mencatat tambahan 1,46 juta pelanggan baru di wilayah tersebut atau hampir tiga kali lipat lebih besar dari wilayah operasi dengan pertumbuhan jumlah pengguna tertinggi kedua, Eropa Timur, yakni 640.000. Alhasil, wilayah Asia Pasifik pun berkontribusi 83% terhadap total pertumbuhan jumlah pelanggan Netflix di periode tersebut.

Sebenarnya, jumlah pelanggan Netflix di Asia Pasifik telah tumbuh dengan konsisten dan stabil selama beberapa kuartal terakhir mengingat besarnya populasi di wilayah tersebut. Sehingga, angka tersebut pun sejatinya bukanlah kejutan baru bagi perusahaan. Dalam catatannya, Netflix sukses menambah setidaknya 1 juta pelanggan baru dari Asia Pasifik per kuartal dalam lima triwulan terakhir

Pun demikian, wilayah Asia Pasifik masih merupakan wilayah dengan jumlah pelanggan terkecil bagi Netflix, yakni 39,5 juta pelanggan. Jika dibandingkan dengan pengguna Netflix di AS dan Kanada sebesar 74,4 juta pelanggan dan negara-negara maju sebesar 77,4 juta, maka angka tersebut tentu terlihat seperti “kurcaci”.

Oleh karena itu, untuk mempercepat pertumbuhan di Asia-Pasifik, Netflix terus mendorong investasi di konten-konten Asia Pasifik. Investasi yang diproyeksikan oleh Netflix sebesar US$1,9 miliar dalam konten lokal di wilayah Asia Pasifik tahun ini akan mewakili 47% dari pendapatan, dengan didorong oleh Korea dan Jepang, diikuti oleh India, Australia, dan sebagian Asia Tenggara. 

Mengulik Aspek Finansial Netflix

Pendapatan

Secara historis, Netflix berhasil membukukan rata-rata pertumbuhan pendapatan sebesar 15,6% secara tahunan selama enam tahun terakhir. Sayangnya, laju pertumbuhan tersebut kian melambat antar periode. Bahkan, pada 2022, perusahaan hanya berhasil membukukan pendapatan US$31,62 miliar atau “hanya” melonjak 6,46% dibanding tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan yang kian melambat terjadi akibat ketatnya persaingan dan jumlah kompetitor Netflix. Bahkan, sebuah studi lembaga riset Nielsen mengungkapkan bahwa penonton mungkin merasa jenuh dengan banyaknya layanan streaming yang tersedia di pasar. Selain itu, Netflix juga sepertinya bakal kesulitan menggaet pelanggan baru di pasar-pasar yang sudah matang seperti AS dan Uni Eropa. 

Meski begitu, hadirnya paket nonton hemat, pertumbuhan pasar Asia Pasifik, dan kebijakan pelarangan berbagi akun diprediksi akan kembali meningkatkan pertumbuhan pendapatan Netflix. 

Data Pendapatan Netflix
Data Pendapatan Netflix

Apalagi, Netflix juga sejatinya masih bisa meraup rata-rata pendapatan per pengguna (Average Revenue per User/ARPU) dengan nilai tertinggi di Amerika Utara dibanding kompetitor-kompetitor terbesarnya, seperti terlihat dari grafik di bawah.

Data ARPU Pelaku Industri Hiburan Digital
Data ARPU Pelaku Industri Hiburan Digital

Laba Bersih

Tak hanya pertumbuhan pendapatan, laba perusahaan pun sejatinya masih terbilang tiarap. Sebagai buktinya, perusahaan hanya mampu membukukan laba US$4,5 miliar di 2022 atau anjlok 12,2% jika dibanding setahun sebelumnya.

Hal ini terjadi akibat sikap perusahaan yang mulai merestrukturisasi biayanya, salah satunya adalah menggelontorkan US$150 juta untuk membayar kompensasi bagi pegawai yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penurunan nilai sewa real estate.

Selain itu, amortisasi untuk konten Netflix juga mengalami peningkatan signifikan dari mulanya US$12.230 hingga menjadi US$14.026.

Valuasi dan Prospek

Prospek Keuangan Netflix

Tahun 2022 bukanlah masa bulan madu bagi Netflix. Namun, kinerja keuangan perusahaan diharapkan bisa kembali membaik pada 2023 dan 2024. Seperti yang disinggung sebelumnya, katalis positif atas perbaikan kinerja tersebut bersumber dari hadirnya paket berlangganan hemat, pertumbuhan pengguna di Asia Pasifik, dan kebijakan pelarangan berbagi akun.

Adapun Netflix diperkirakan akan membukukan pendapatan US$38,25 miliar di 2024, tumbuh 20,98% dari posisi akhir 2022 US$31,61 miliar.

Proyeksi Pendapatan Netflix
Proyeksi Pendapatan Netflix

Sementara itu, perusahaan diharapkan bisa meraup laba bersih US$6,5 miliar di tahun yang sama, atau melejit 44,7% dari US$4,49 miliar di 2022.

Proyeksi Laba Netflix
Proyeksi Laba Netflix

Valuasi

Berdasarkan data Bloomberg, valuasi saham perusahaan dari sisi rasio harga saham per pendapatan (rasio P/E) per 5 Juli 2023 adalah 50,6x, atau jauh lebih “mahal” ketimbang rata-ratanya dalam lima tahun terakhir yakni 31,6x.

Kemudian, analis menilai bahwa nilai wajar saham Netflix saat ini adalah 39,37x. Sehingga, karena nilai wajarnya dianggap lebih tinggi, maka analis pun mengganjar rating HOLD untuk saham Netflix.

Baca Juga: Pluang Insight: Tinggal Sejengkal Lagi, Grab Siap Lolos dari Jeratan Rugi

Risiko

Netflix merupakan salah satu dari 5 saham teknologi AS yang memiliki performa terbaik yang dikenal dengan FAANG. Namun, dalam berinvestasi, tentunya tetap saja ada risiko yang mesti diwaspadai investor. 

Berikut beberapa risiko yang wajib diketahui sebelum berinvestasi di saham Netflix.

  1. Persaingan Pasar: Industri streaming sangat kompetitif, dengan beberapa pemain besar bersaing untuk memperebutkan pangsa pasar. Persaingan yang semakin intens dari perusahaan-perusahaan mapan dan pesaing baru dapat mempengaruhi pertumbuhan jumlah pelanggan Netflix dan posisinya di pasar.
  2. Churn Pelanggan: Model bisnis Netflix bergantung pada mempertahankan pelanggan yang ada dan menarik yang baru. Tingkat perputaran pelanggan yang tinggi, di mana pelanggan membatalkan langganan mereka, dapat mempengaruhi pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas. Faktor-faktor seperti kenaikan harga, ketersediaan konten, dan persaingan dapat mempengaruhi retensi pelanggan.
  3. Disrupsi Teknologi: Industri streaming berkembang dengan cepat, dan kemajuan teknologi dapat mengganggu pasar. Perubahan dalam teknologi streaming, munculnya platform baru, atau pergeseran preferensi konsumen menuju bentuk hiburan alternatif dapat mempengaruhi model bisnis Netflix.
  4. Ketergantungan pada Konten Asli: Strategi Netflix sangat bergantung pada produksi dan promosi konten asli. Keberhasilan dan respon terhadap acara dan film asli ini dapat secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan retensi pelanggan. Kegagalan dalam menghasilkan konten yang menarik dapat menyebabkan penurunan keterlibatan pelanggan.

Transaksi Saham Netflix di Sini!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
pluang insight
Pluang Insight: Lahan Virtual, Proyek Menggiurkan atau Bakal Gagal Total?
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1