Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 5 menit

View

0

Kabar Sepekan: Elon Musk Serius Beli Twitter, Credit Suisse Lagi 'Keblinger'

Selamat berakhir pekan, Sobat Cuan! Banyak berita menarik dalam sepekan terakhir, misalnya Elon Musk yang beneran niat beli Twitter hingga Credit Suisse yang diterpa "badai" keuangan. Simak selengkapnya di Kabar Sepekan berikut!

Rangkuman Kabar Internasional

1. Elon Musk Katanya Beneran Serius Beli Twitter, PHP Gak Nih?

Konglomerat dan pentolan Tesla Elon Musk kembali mengutarakan niat untuk mencaplok Twitter seharga US$44 miliar melalui secarik surat kepada Twitter yang juga dikirimkan kepada otoritas pasar modal AS (SEC).

Musk sempat ngebet mengambil alih kepemilikan Twitter pada April lalu. Namun, ia membatalkan niatan itu pada Juli setelah menuduh Twitter berbohong ihwal jumlah akun bodong (spam) dan akun bot yang berada di platform itu.

Kabar ini sukses meroketkan saham TWTR sebesar 22% pada perdagangan Selasa (4/10). Nilai koin idola Musk, Dogecoin (DOGE), juga ikut melejit 10%.

2. Credit Suisse Disebut Kena ‘Bencana’ Keuangan, Pertanda Kolaps?

Kesehatan keuangan perusahaan investasi top asal Swiss, Credit Suisse, menjadi buah bibir pasar modal global setelah nilai sahamnya di bursa saham Swiss mendadak longsor 11,5% pada Senin (3/10).

Usut punya usut, peristiwa itu dipicu oleh meroketnya tingkat premi asuransi proteksi gagal bayar (Credit Default Swap/CDS) atas obligasi Credit Suisse ke 355 basis poin, alias tingkat tertingginya dalam 20 tahun terakhir, pada Jumat (30/9). Data itu memberi sinyal bahwa Credit Suisse sepertinya tengah dilanda krisis neraca keuangan dan terancam tak bisa melunasi pinjaman surat berharganya.

Pelaku pasar sontak panik dalam merespons kabar tersebut. Mereka cemas drama keuangan Credit Suisse akan berdampak sistemik ke industri jasa keuangan dan menyebabkan krisis likuiditas, mirip seperti yang dialami bank asal AS Lehman Brothers kala krisis subprime mortgage lebih dari satu dekade silam.

3. Setelah ‘Dirujak’ Berbagai Pihak, Inggris Batalkan Pemangkasan Pajak

Pemerintah Inggris akhirnya membatalkan kebijakan pemangkasan tarif pajak terbesarnya dalam 50 tahun terakhir. Dalam sebuah cuitan di akun Twitter resminya, Menteri Keuangan Inggris Kwasi Karteng mengatakan langkah itu ditempuh setelah kebijakan kontroversial itu dianggap jadi “distraksi dalam upaya pemulihan ekonomi Inggris”.

Sebelumnya, pada Jumat (23/6), Inggris mengumumkan akan menurunkan pajak penghasilan demi menggerakkan ekonomi di negara tersebut. Hanya saja, pelaku pasar cemas kebijakan itu akan menyunat penerimaan negara Inggris dan membuat negara Eropa itu gagal membayar utangnya.

Imbasnya, investor pun minggat dari pasar obligasi pemerintah Inggris dan melumpuhkan kurs Poundsterling terhadap Dolar AS ke level terlemah dalam 37 tahun terakhir. Berbagai lembaga, termasuk International Monetary Fund (IMF), sempat ikut mengkritik kebijakan yang dimaksud.

4. Negara Tajir Minyak Sepakat ‘Sunat’ Produksi demi Stabilkan Harga

Negara-negara pengekspor minyak dunia dan mitranya (OPEC+) pada Rabu (5/10) sepakat untuk memangkas produksi hariannya sebesar 2 juta barel mulai November mendatang. Kebijakan penurunan produksi terbesar sejak 2020 itu ditempuh demi menstabilkan harga minyak dunia di tengah ancaman penurunan permintaan akibat potensi resesi ekonomi.

Hanya saja, AS kemudian mengecam langkah tersebut. Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan keputusan tersebut merupakan bukti bahwa negara-negara tajir minyak sedang bersekutu dengan Rusia, yang sama-sama merupakan anggotan OPEC+.

Baca Juga: Kabar Sepekan: Dunia Darurat Resesi, Dolar AS Semakin Unjuk Gigi

Kabar Kripto Sepekan

1. Elon Musk 'Ngebet' Beli Twitter, DOGE Pun 'Ngebut'

Nilai Dogecoin (DOGE) melesat 8% pada Selasa (4/10) setelah punggawa Tesla, Elon Musk, dikabarkan serius membeli perusahaan media sosial Twitter sesuai kesepakatan awal.

Pelaku pasar mengharapkan adopsi DOGE di Twitter jika Musk bersungguh-sungguh mencaplok perusahaan itu. Maklum, Musk selama ini dikenal sebagai fans berat koin berlogo anjing tersebut.

2. LUNC Sempat Terbang 22% Berkat 'Coin Burning' Binance

Nilai Terra Classic (LUNC) sempat melesat 22% dalam sehari pada Selasa (4/10). Ini terjadi setelah platform exchange Binance mengumumkan akan memangkas suplai LUNC dengan "membakar" biaya trading yang berdenominasi koin tersebut.

3. Pengembang Game Web3 Improbable Gaet Dana Segar US$100 Juta

Pengembang game web3 The Otherside, Improbable, akan menerima pendanaan segar senilai US$111 juta seiring niatan perusahaan untuk menciptakan lebih banyak lagi jagat metaverse bagi perusahaan Web3 seperti Yuga Labs.

4. Binance Jadi Target Peretasan, US$100 Juta Diduga Raib

Platform exchange kripto Binance pada Kamis (6/10) terpaksa menghentikan sementara operasi di jaringan blockchain Binance Smart Chain (BSC) setelah protokol tersebut menemukan "aktivitas tidak wajar" yang bisa berujung pada "potensi peretasan". 

Bahkan, bukti on-chain menunjukkan bahwa sang pelaku kemungkinan berniat mencuri 2 juta token kripto yang tersimpan di protokol BSC.

Berdasarkan data aktivitas terkini, BNB Chain memang mengakui terdapat aset kripto senilai US$100 juta hingga US$110 juta yang keluar dari jaringan tersebut pada saat itu. Namun, di saat yang sama, protokol telah membekukan transfer dana senilai US$7 juta sebagai langkah antisipasi.

Baca Juga: Pluang Insight: Gimana Prospek Saham AMD di Tengah Kompetisi Sengit Pasar Prosesor?

Kabar Domestik Sepekan

1. Inflasi RI Tembus 5,95% di September Gara-gara Kenaikan BBM

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (3/10) merilis bahwa Indonesia mencatat inflasi bulanan sebesar 1,17% di September. Ternyata, ini merupakan tingkat inflasi bulanan tertinggi Indonesia sejak Desember 2014!

Imbasnya, inflasi tahunan Indonesia menembus 5,95% pada bulan lalu, melesat dari 4,69% sebulan sebelumnya.

Rupanya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Pertalite dan Bio Solar sekaligus Pertamax menjadi biang kerok meningkatnya inflasi September. Sekadar informasi, pemerintah mengerek harga BBM rata-rata 30% di awal bulan tersebut.

2. Produktivitas Industri Manufaktur RI ‘Ngacir’ di September

Indonesia mencatatkan kenaikan produktivitas industri manufaktur sepanjang September. Hal ini tercermin dari skor Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang menyentuh 53,7 pada September alias meningkat dari 51,7 sebulan sebelumnya.

Skor di atas 50 mengindikasikan bahwa produktivitas manufaktur Indonesia masih mengalami ekspansi. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia di tengah gonjang-ganjing resesi ekonomi global.

Uniknya, prestasi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan produktivitas industri manufaktur terbaik kelima di Asia, tepat di bawah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Thailand, dan India.

3. Pemerintah Tambah Kuota Pertalite 7 Juta KL, Jamin Stok Aman Hingga Akhir Tahun

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan telah menambah kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar subsidi pada Sabtu (1/10).

Rinciannya, pemerintah menambah kuota Pertalite sebanyak 6,86 juta kiloliter (kl) dari kuota awal 23,05 juta kl sementara kuota Solar subsidi bertambah 2,73 juta kl dari angka semula 15,1 juta kl.

Kepala BPH Migas Erika Retnowati mengatakan, kebijakan ini ditempuh untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun mengingat stok Pertalite tadinya diramal habis pada bulan ini.

4. Cadangan Devisa RI Ambrol Demi Stabilkan Rupiah

Bank Indonesia (BI) mengatakan, Indonesia mencatat posisi cadangan devisa US$130,8 miliar per akhir September 2022, turun 1,06% dari US$132,2 miliar di akhir Agustus 2022.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyebut, upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melalui intervensi pasar valuta asing menjadi penyebab susutnya cadangan devisa Indonesia.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait