Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Pasar: Investor Kompak Wait & See, Kripto & IHSG Gagal Tampil Seksi

Halo, Sobat Cuan! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar kripto kompak melemah karena pelaku pasar sedang wait and see. Lantas, apa alasan mereka melakukan hal tersebut? Simak di Rangkuman Pasar berikut!

IHSG

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertengger di 6.858,40 poin menutup sesi perdagangan Senin (25/7), ambles 0,41% dibanding penutupan perdagangan Jumat (25/7).

Awalnya, laju IHSG terlihat menjanjikan, bahkan menembus level 6.908 poin di sesi pertama perdagangan hari ini. Sayang, sang indeks domestik kemudian berbalik arah hingga akhirnya mendarat di zona merah.

Pelaku pasar memang terlihat jaga jarak dengan pasar saham domestik lantaran mereka menanti perilisan laporan keuangan emiten untuk periode kuartal II 2022.

Musim pelaporan keuangan tersebut bahkan sudah dimulai hari ini setelah beberapa emiten, misalnya PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), menyuguhkan hasil kinerja keuangannya triwulan lalu.

Di samping itu, serbuan sentimen eksternal juga mempengaruhi dinamika pasar saham dalam negeri hari ini. Salah satunya adalah ancaman mengenai potensi resesi ekonomi global.

Ya, pelaku pasar mulai mencemaskan perlambatan pertumbuhan ekonomi global pasca Menteri Keuangan AS Janet Yellen berkomentar bahwa ekonomi AS bisa saja berpotensi masuk ke jurang resesi. Di samping itu, harga minyak dunia yang melandai selama empat hari berturut-turut juga ditanggapi pelaku pasar sebagai pertanda bahwa permintaan minyak dunia bakal melambat di masa depan.

Nah, barisan sentimen tersebut ternyata tak hanya bikin sang indeks domestik KO. Di kawasan Asia, misalnya, nilai indeks Nikkei 225, Hang Seng, dan Shanghai kompak rontok ke zona merah pada hari ini.

Baca Juga: Kabar Sepekan: Tesla 'Cuci Gudang' Bitcoin, Inflasi Inggris Makin Bikin Pusing!

Aset Kripto

Kondisi setali tiga uang juga terjadi di pasar kripto. Melansir Coinmarketcap pukul 15.18 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar masih terbenam di zona merah dalam 24 jam terakhir.

Sejatinya, tidak ada sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan harga kripto di awal pekan. Sehingga, analis cenderung fokus ke tiga faktor utama yang diduga menjadi biang kerok peristiwa tersebut.

Pertama adalah aspek teknikal.

Harga aset-aset kripto diketahui berguguran setelah nilai BTC gagal mengakhiri akhir pekan lalu di atas level Simple Moving Average berdurasi 200 pekan (SMA 200-week) yakni US$22.800. Apa alasannya?

Pelaku pasar menangkap kegagalan BTC untuk bertahan di atas level tersebut sebagai sinyal bahwa aksi akumulasi pelaku pasar kian mengering. Implikasinya, pasar kripto jadi dijejali kaum bear yang getol melakukan aksi jual.

Asal tahu saja, pelaku pasar selalu menganggap indikator SMA 200-week sebagai pertanda "titk balik" harga aset. Jika harga aset menembus level SMA 200-week dan bertahan dalam jangka waktu lama, maka ada kemungkinan harga aset tersebut sudah lolos dari jeratan bottom.

Kedua, analis juga mengaitkan lemahnya harga aset kripto kali ini dengan tumbangnya selera risiko pelaku pasar secara umum. Argumen itu muncul setelah ketiga indeks saham Wall Street gugur berjemaah menyusul lembeknya hasil kinerja keuangan triwulanan perusahaan teknologi, seperti Snap dan Twitter, yang dirilis akhir pekan lalu.

Sekadar informasi, analis dan pelaku pasar kini menemukan korelasi kuat antara pergerakan harga aset kripto dan saham-saham teknologi berkategori growth stocks lantaran keduanya punya profil risiko yang "sebelas dua belas".

Ketiga, pelaku pasar sepertinya memilih wait and see menanti kebijakan suku bunga teranyar The Fed yang dijadwalkan rilis pada Kamis (28/7) mendatang.

Memang, sepanjang pekan lalu, pelaku pasar sejatinya sudah priced in terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 75 basis poin. Namun, mengingat kondisi likuiditas pasar yang cenderung lebih "kering" di musim panas, price action yang dilakukan pelaku pasar setelah pengumuman tersebut bisa latah diikuti pelaku pasar lainnya.

Baca Juga: Pasar Sepekan: Investor Kompak Unjuk Taring, Market Rebound dengan Nyaring!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 110 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Selain itu, kamu sekarang bisa berdiskusi bersama komunitas di Pluang untuk mendapatkan kabar, insight, dan fakta menarik seputar investasi dari sudut pandang antar member pada Fitur Chatroom Pluang.

Tempat diskusi tanpa worry? Fitur Chatroom solusinya! Klik di sini untuk mendapatkan early access.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait