
Saham IPO adalah saham yang dijual sebuah perusahaan kepada masyarakat umum untuk pertama kalinya, menandai perubahan status perusahaan dari tertutup (private) menjadi terbuka (Tbk). Setelah IPO, nama perusahaan resmi bertambah imbuhan "Tbk" dan sahamnya bisa diperjualbelikan siapa saja di BEI.
Di Indonesia, seluruh proses IPO diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dijalankan lewat sistem e-IPO (Electronic Indonesia Public Offering) milik BEI. Investor perlu memiliki Rekening Dana Nasabah (RDN) dan Single Investor Identification (SID) sebelum bisa memesan saham IPO — dua syarat dasar yang sama dipakai untuk transaksi saham reguler di BEI.
Ada 5 tahap utama dalam proses IPO saham, dari persiapan internal perusahaan sampai saham resmi diperdagangkan:
Persiapan & due diligence — perusahaan menunjuk penjamin emisi (underwriter), auditor, dan konsultan hukum, lalu menyusun prospektus.
Book building — penjamin emisi mengumpulkan minat pasar untuk menentukan kisaran harga penawaran.
Offering (masa penawaran) — investor memesan saham lewat sistem e-IPO sesuai jumlah lot dan dana di RDN.
Penjatahan (allotment) — BEI dan penjamin emisi membagi alokasi saham; jika permintaan melebihi jumlah yang ditawarkan (oversubscribed), penjatahan investor ritel bisa tidak penuh.
Listing — saham resmi dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI; saham yang teralokasi masuk ke portofolio investor pada hari ini.
Aktivitas IPO di BEI terus berjalan sepanjang 2026. Per 10 Juli 2026, tujuh perusahaan telah resmi melantai dengan total dana terhimpun Rp2,16 triliun, sementara total emiten tercatat di BEI mencapai 963 perusahaan (sumber: Saidu Solihin, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, data per 10 Juli 2026, dikonfirmasi lintas sumber via Kompas, Antara, dan Suara Surabaya). Untuk keseluruhan tahun, BEI menargetkan 50 perusahaan baru melantai di 2026 — naik dari 26 IPO sepanjang 2025 (data BEI, 2026).
Untuk memahami mekanismenya, berikut ilustrasi perhitungan sederhana (angka contoh, bukan data emiten riil):
Komponen | Nilai Ilustrasi |
|---|---|
Harga IPO per lembar | Rp1.200 |
Saham dilepas ke publik | 200 juta lembar (20% dari total) |
Total saham beredar setelah IPO | 1 miliar lembar |
Dana yang dihimpun perusahaan | Rp240 miliar (200 juta lembar × Rp1.200) |
Modal minimum investor (1 lot = 100 lembar) | Rp120.000 |
Artinya, seorang investor yang ingin ikut serta cukup menyiapkan dana sejumlah harga penawaran dikalikan 100 lembar per lot — bukan harus membeli dalam jumlah besar.
Kelebihan | Risiko |
|---|---|
Berpotensi membeli di harga penawaran, sebelum diperdagangkan bebas di pasar reguler | Penjatahan bisa tidak penuh jika permintaan oversubscribed |
Ikut memiliki bagian perusahaan sejak awal berstatus terbuka (Tbk) | Harga saham bisa turun di bawah harga IPO setelah listing |
Transparansi lewat prospektus wajib yang ditelaah OJK dan BEI | Rekam jejak perusahaan sebagai emiten publik masih minim |
Proses pemesanan sepenuhnya digital lewat e-IPO | Volatilitas harga cenderung tinggi pada hari-hari awal perdagangan |
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat investasi individual. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor; nilai investasi saham, termasuk saham IPO, dapat naik maupun turun.
Buka rekening investasi saham Indonesia di aplikasi sekuritas berizin OJK, lengkapi verifikasi (KYC), lalu aktifkan Rekening Dana Nasabah (RDN).
Pantau jadwal IPO terbaru lewat situs resmi IDX Go Public atau menu Saham IPO di aplikasi broker.
Baca prospektus perusahaan yang akan IPO — cek rencana bisnis, penggunaan dana, dan faktor risikonya sebelum memutuskan ikut.
Ajukan pemesanan lewat sistem e-IPO sesuai jumlah lot dan dana yang tersedia di RDN.
Tunggu hasil penjatahan; saham yang teralokasi otomatis masuk ke portofolio pada hari listing.
Di luar masa IPO, saham-saham yang sudah listing bisa diperdagangkan setiap hari bursa. Untuk gambaran lengkap membuka rekening dan bertransaksi saham reguler, simak panduan cara beli saham untuk pemula.
Tidak selalu. Sebagian saham IPO memang naik pada hari pertama listing, namun tidak sedikit yang harganya turun di bawah harga penawaran. Keuntungan bergantung pada fundamental perusahaan, valuasi saat IPO, dan kondisi pasar saat listing — bukan jaminan otomatis hanya karena berstatus saham baru.
IPO adalah proses perusahaan menjual sahamnya pertama kali ke publik, sedangkan e-IPO adalah sistem elektronik resmi milik Bursa Efek Indonesia (BEI) yang digunakan investor untuk memesan saham IPO tersebut secara online, tanpa perlu datang langsung ke kantor sekuritas atau penjamin emisi.
Modal minimum mengikuti rumus 1 lot (100 lembar) dikalikan harga penawaran IPO, sehingga nilainya bisa mulai ratusan ribu rupiah tergantung harga yang ditetapkan emiten. Di Pluang, pemesanan saham IPO maupun saham Indonesia reguler bisa dimulai dari modal per lot di bawah Rp500 ribu.
Saham IPO adalah pintu masuk untuk ikut memiliki perusahaan sejak awal go public — dengan potensi sekaligus risiko yang perlu dipahami sebelum ikut memesan. Mulai investasi saham Indonesia di Pluang, platform yang berizin dan diawasi OJK, untuk memantau jadwal IPO dan saham reguler dalam satu aplikasi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.