Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Mending Mana? Investasi di Obligasi atau Reksadana Pendapatan Tetap?
shareIcon

Mending Mana? Investasi di Obligasi atau Reksadana Pendapatan Tetap?

15 Jul 2021, 10:45 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Mending Mana? Investasi di Obligasi atau Reksadana Pendapatan Tetap?

Berinvestasi di obligasi atau reksadana obligasi, mana yang lebih menguntungkan ya?

Kedua instrumen ini, yakni obligasi dan reksadana obligasi, alias pendapatan tetap, tergolong instrumen investasi dengan tingkat risiko yang rendah lho, Sobat Cuan. Meski begitu, keduanya merupakan produk yang jauh berbeda.

Namun, kenapa produk ini bisa berbeda? Padahal bukankah keduanya sama-sama mengusung nama “obligasi” di dalamnya? Untuk lebih jelasnya, yuk simak artikel berikut!

Obligasi vs Reksadana Obligasi

Sebelum kamu memutuskan lebih jauh instrumen mana yang akan jadi pilihanmu dalam berinvestasi rendah resiko, kenali dulu yuk perbedaan keduanya.

Baca juga: Mau Investasi Jangka Pendek Saat Pandemi? Simak Pilihan Aset Berikut!

Apa Itu Obligasi?

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), obligasi adalah surat utang jangka menengah maupun jangka panjang yang dapat diperjualbelikan. Obligasi berisikan janji dari pihak yang menerbitkan efek untuk membayar imbalan berupa kupon pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada akhir waktu yang telah ditentukan kepada pembeli obligasi.

Karena adanya kupon ini, obligasi jadi termasuk ke dalam instrumen investasi berpendapatan tetap yang bertujuan untuk memberikan tingkat pertumbuhan nilai investasi yang stabil. Kamu bisa membeli obligasi saat penawaran perdana maupun di pasar sekunder.

Jenis-jenis Obligasi

Obligasi yang terbit di Indonesia ada tiga jenis, yakni

1. Obligasi Pemerintah, yaitu obligasi dalam bentuk Surat Utang Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah RI. Pemerintah menerbitkan obligasi dengan kupon tetap (seri FR- Fixed Rate), obligasi dengan kupon variable (seri VR –Variable Rate) dan obligasi dengan prinsip syariah/ Sukuk Negara.
2. Obligasi Korporasi, yaitu obligasi berupa surat utang yang diterbitkan oleh Korporasi Indonesia baik BUMN maupun korporasi lainnya. Sama seperti obligasi pemerintah, obligasi korporasi terbagi atas obligasi dengan kupon tetap, obligasi dengan kupon variabel dan obligasi dengan prinsip syariah. Ada Obligasi Korporasi yang telah diperingkat atau ada yang tidak diperingkat.
3. Obligasi Ritel, yang diterbitkan oleh Pemerintah yang dijual kepada individu atau perseorangan melalui agen penjual yang ditunjuk oleh Pemerintah. Biasanya ada beberapa jenis yaitu ORI atau Sukuk Ritel.

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana obligasi, atau yang lebih dikenal sebagai reksadana pendapatan tetap (RDPT) adalah reksadana yang mengalokasikan minimum pengelolaan dananya sebesar 80% pada obligasi. Selayaknya reksadana, RDPT merupakan produk investasi yang diterbitkan dan dikelola oleh manajer investasi (MI).

Jika kamu membeli unit reksadana obligasi, nantinya dana kamu tidak hanya akan dialokasikan untuk membeli satu jenis obligasi saja. Artinya, portofolio investasi kamu akan terdiversifikasi dengan baik dalam berbagai surat utang milik pemerintah maupun swasta.

Kamu juga dapat memilih produk reksadana mana yang akan kamu beli berikut dengan profil alokasi dananya.

Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

Obligasi Vs Reksadana Obligasi, Mana yang Lebih Baik?

Setelah memahami perbedaan kedua instrumen investasi tersebut, kira-kira mana yang lebih baik? Semua itu berbalik pada rencana investasi kamu. Tapi, yuk kita bahas satu per satu plus dan minus dari keduanya.

Fleksibilitas Obligasi Vs Reksadana Obligasi

Jika ditilik dari aspek fleksibilitasnya, reksadana obligasi tentu lebih unggul ketimbang membeli obligasi secara langsung. Kamu hanya perlu membeli unit RDPT dari MI yang kamu percayai.

Selain itu, fleksibilitas reksadana obligasi juga unggul dari terkait jumlah investasi minimum. Jika obligasi mensyaratkan investasi minimum Rp1 juta, reksadana obligasi hanya menerapkan nominal minimum Rp10.000 saja atau seharga satu unit RDPT yang berlaku.

Kamu pun hanya perlu menyetorkan KTP dan rekening bank saat akan membeli reksadana obligasi. Sementara syarat membeli obligasi secara langsung mengharuskan kamu setor NPWP juga.

Saat akan menjual reksadana obligasi, kamu tidak perlu menunggu tenornya jatuh tempo. Unit reksadana yang kamu pegang dapat dilepas kepada MI tempat kamu membeli kapan saja sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam hal ini, obligasi juga menawarkan fleksibilitas. Yakni, investor diberi keleluasan untuk menjual obligasi di pasar sekunder sebelum jatuh tempo. Kemungkinan juga kamu akan mendapat margin dari selisih harga jual dan belinya.

Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

Imbal Hasil dan Risiko Reksadana Obligasi Vs Obligasi

Obligasi menawarkan cuan berupa kupon, yield, atau diskonto yang dibayarkan secara berkala sebelum jatuh tempo atau sesuai ketentuan yang berlaku. Besarnya kupon biasanya tergantung pada fundamental dan kebijakan lembaga penerbit obligasi milikmu.

Surat Utang Negara (SUN) biasanya memberikan imbal hasil 5-7% tergantung kebijakan pemerintah dan kondisi perekonomian, begitu juga dengan obligasi swasta dan ritel.
Sementara itu, imbal hasil reksadana obligasi bergantung pada kinerja dana kelola.

Biasanya angkanya tidak jauh berbeda dengan rata-rata imbal hasil obligasi mengingat 80% dana dikelola dalam instrumen itu. Perbedaannya adalah pada reksadana obligasi dana kamu diversifikasi pada sejumlah obligasi dengan tingkat bunga yang beragam.

Selain itu, MI kerap membeli dalam jumlah besar yang membuatnya punya daya tawar untuk meminta harga lebih murah. Praktik ini mereduksi risiko investasi kamu terkikis biaya-biaya admin maupun perpajakan.

Pajak

Perbedaan lain yang tak kalah fundamentalnya antara dua instrumen ini ada kedudukannya di mata otoritas perpajakan.

Obligasi merupakan objek pajak yang dikenakan pajak penghasilan, sementara reksadana obligasi bukanlah objek pajak. Artinya, imbal hasil yang kamu terima dari obligasi masih dipotong oleh pajak sementara imbal hasil reksadana kamu bisa kamu kantongi utuh!

Nah, bagi kamu investor yang cari risiko aman dan investasi nyaman, tentu berinvestasi di reksadana pendapatan tetap terlihat lebih menguntungkan, bukan?

Kalau kamu tertarik berinvestasi pendapatan tetap, kamu bisa mendapatkannya di Pluang! Di Pluang, kamu bisa mendapatkan reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang hanya Rp15.000 saja! Dijamin aman karena sudah diawasi oleh OJK!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Bareksa, Reksadana Community

Ditulis oleh
channel logo

Fathia Nurul Haq

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1