Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Apakah Kamu Bisa Terapkan Strategi Dollar Cost Averaging di Kripto?
shareIcon

Apakah Kamu Bisa Terapkan Strategi Dollar Cost Averaging di Kripto?

6 Jul 2021, 8:56 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Apakah Kamu Bisa Terapkan Strategi Dollar Cost Averaging di Kripto?

Harga aset kripto belakangan ini masih terlihat suram. Jawara di dunia kripto seperti Bitcoin dan Ethereum (ETH) nilainya masing-masing masih terkoreksi 46,34% dan 47,07% dari ATH di bulan Mei.

Nah, sebagai salah satu strategi untuk mengelola risiko investasi di aset kripto, beberapa ahli mengatakan untuk menggunakan skema Dollar Cost Averaging (DCA). Strategi ini biasanya dilakukan investor dalam investasi emas, saham ataupun reksa dana.

Tapi pertanyaannya, apakah strategi ini benar-benar bisa diimplementasikan di aset kripto? Untuk itu, yuk simak artikel ini hingga habis ya, Sobat Cuan!

Penjelasan Singkat Dollar Cost Averaging

Dollar Cost Averaging adalah salah satu strategi investasi, di mana investor bisa membagi modal investasinya dalam rentang satu periode tertentu.

Dalam mekanisme DCA, Sobat Cuan tidak perlu menunggu harga turun untuk kemudian masuk dan membelinya. Istilah mudahnya, DCA adalah strategi “menabung” secara rutin dengan jumlah yang sama, bisa dalam jangka waktu setiap minggu atau setiap bulan.

Contohnya adalah seperti ini. Anggap saja kamu punya dana Rp20 juta untuk membeli Bitcoin. Tapi, kamu tidak mau langsung menggelontorkannya di depan.

Nah, dengan strategi DCA, kamu bisa membeli Bitcoin senilai Rp1 juta setiap bulan dalam 10 bulan ke depan terlepas dari kenaikan atau penurunan harganya. Mirip sekali dengan menabung, bukan?

Tujuan dari dollar cost averaging adalah untuk mendapatkan cuan yang lebih lebar ketika pasar kembali menggeliat. Sekaligus menghindari risiko volatilitas pasar yang berlangsung secara jangka pendek.

Strategi DCA juga membuat Sobat Cuan untuk tidak melakukan panic selling. Sebab, dalam kondisi apapun, kamu tetap masuk dan mengoleksi aset kripto. Intinya, strategi ini tak hanya berguna untuk memitigasi risiko, tapi juga cocok bagi pemula agar tak ikut “arus” FOMO di pasar kripto.

Namun, strategi DCA tidak hanya mengharuskan kamu untuk masuk saat harga rendah. Sebab, ketika harga sedang tinggi sekali pun, kamu bisa tetap masuk melakukan investasi dengan nominal yang sama.

Hanya saja, aset kripto mungkin memiliki lingkungan berbeda. Dunia cryptocurrency cukup sarat akan volatilitas harga yang keji nan sadis. Lantas, apakah bisa kamu menerapkan strategi Dollar Cost Averaging di dalamnya?

Baca juga: Tips Menabung Emas Berkala Supaya Makin Untung

Apakah Dollar Cost Averaging bisa Digunakan Untuk Cryptocurrency?

Jawabannya adalah ya.

Tentu saja, strategi ini bisa dilakukan olehmu ketika memutuskan untuk menggenggam aset kripto jagoanmu. Apalagi, banyak manfaat yang bisa dituai ketika menerapkan strategi Dollar Cost Averaging. Berikut di antaranya!

1. Metode Aman di Tengah Fluktuasi Kripto

Strategi Dollar Cost Averaging memang tidak menjamin kamu sukses berinvestasi kripto. Namun, hal ini tentu pilihan yang paling aman di tengah kerasnya goncangan fluktuasi harga cryptocurrency.

Apalagi, ketika pasar memang tengah bearish, strategi ini justru bermanfaat ketimbang berinvestasi secara lump sum.

Misalnya, kamu memiliki uang Rp1 juta untuk menempatkannya di aset kripto A. Kamu pun kemudian memiliki dua opsi, yakni menaruhnya secara lump sum atau menyicilnya dua kali sebesar Rp500.000 dalam dua minggu.

Jika kamu memilih opsi pertama, maka anggaplah Rp1 juta tersebut bisa dikonversikan ke dua keping aset kripto A . Namun, harga aset kripto A tiba-tiba melemah 50% sepekan kemudian, sehingga membuat nilai portofoliomu berjumlah Rp500.000 dan masih memiliki dua keping aset kripto A.

Sekarang, bandingkan hasilnya jika kamu memilih opsi kedua.

Di pekan pertama, maka uang Rp500.000 milikmu bisa diubah ke satu keping aset kripto A. Namun, dengan asumsi yang sama, maka penurunan harga aset kripto A sebesar 50% di pekan berikutnya bisa bikin kamu membeli dua cryptocurrency tersebut. Ujungnya, dengan modal yang sama seperti opsi pertama, kamu akan memiliki tiga keping aset kripto A.

Jadi, lebih baik mana Sobat Cuan? Opsi pertama atau opsi kedua?

2. Menghindari Diri dari Bad Timing

Risiko investasi aset kripto adalah fluktuasi harganya yang sadis. Maka, timing adalah kunci bagi kamu agar tetap bertahan hidup.

Hanya saja, tidak ada satu pun orang yang memprediksi kapan timing yang tepat untuk masuk ke pasar kripto. Salah timing sepersekian detik saja, potensi cuan yang bisa kamu raih pun tidak akan sama lagi.

Nah, agar kamu terhindar dari dampak bad timing, maka kamu pun bisa melaksanakan skema Dollar Cost Averaging. Sebab, bisa jadi momen pembelian aset kriptomu saat itu ternyata memang adalah saat yang paling tepat dalam membelinya.

Di samping itu, kamu pun juga tak akan terpengaruh bias maupun aksi panic selling yang dilakukan oleh pelaku pasar lainnya. Meski memang, cuan dari strategi Dollar Cost Averaging mungkin tidak akan sebesar cuan para trader ulung yang sudah paham kapan harus masuk atau keluar pasar.

Melihat pergerakan nilai aset kripto yang liar dan potensi pertumbuhannya di masa depan, memegang aset digital bisa menjadi sarana investasi yang menguntungkan.

Jika Sobat Cuan menginginkan cara yang relatif aman untuk mendapatkan keuntungan dari volatilitas kripto, strategi DCA patut dipertimbangkan.

Kelemahan Skema DCA

DCA secara inheren adalah strategi investasi jangka panjang. Artinya, kamu tidak perlu memperhatikan pergerakan pasar untuk melakukannya. Cukup dengan menempatkan uangmu secara rutin dan kamu tinggal menikmati buahnya di masa depan.

Meski begitu, dengan rutin melakukan investasi kripto setiap pekan atau setiap bulan tanpa melihat harga pasar, kamu justru berpotensi kehilangan cuan besar yang bisa diperoleh jika menggunakan skema investasi lump sum. Ingat, yang namanya pasar kripto tidak bisa diprediksi!

Di samping itu, Sobat Cuan perlu paham bahwa mekanisme pembelian aset kripto tidak murni disandarkan pada harga. Tetapi juga timing. Kalau misalkan kamu membeli aset kripto, namun satu menit kemudian harganya amblas, artinya potensi cuan aset kriptomu juga akan ambyar bukan?

Namun di tengah pro-kontra soal strategi Dollar Cost Averaging, strategi ini memang cocok bagi kamu yang sama sekali ingin menerima keterpaparan risiko cryptocurrency.

Selain itu, kamu pun harus tetap tenang dalam menjalankan strategi ini. Toh, yang dituju adalah investasi jangka panjang, dan sebelumnya Sobat Cuan juga kemungkinan pernah masuk di harga bottom. Jadi semua risikonya masih bisa dikendalikan.

Jadi, apakah kamu sudah siap melakukan strategi DCA? Jika ya, kamu bisa melakukannya di aplikasi Pluang! Di Pluang, kamu bisa mendapatkan BTC, ETH, ADA, BNB, dan DOT dalam satu aplikasi saja, lho!

Baca juga: Apakah Strategi DCA Bisa Kamu Terapkan di Investasi Emas? Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Binance, Gemini

Ditulis oleh
channel logo

Adi Putro

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1