Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Sempat Jadi Katalis Positif Harga BNB, Apa Itu Binance Smart Chain?
shareIcon

Sempat Jadi Katalis Positif Harga BNB, Apa Itu Binance Smart Chain?

23 Jul 2021, 5:00 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Sempat Jadi Katalis Positif Harga BNB, Apa Itu Binance Smart Chain?

Sobat Cuan tentu sudah dengar mengenai Binance Coin (BNB), kan? Memang, pamor aset kripto satu ini cepat melejit sepanjang 2021. Kini, kapitalisasi pasar BNB sudah mencapai US$49,63 miliar dan menempati posisi ke-empat cryptocurrency terpopuler sejagat.

Nah, tapi apakah kamu sudah pernah mendengar tentang “rumah” BNB yakni Binance Smart Chain (BSC)? Teknologi blockchain besutan perusahaan exchange kripto Binance ini wajib kamu perhatikan perkembangannya. Sebab, segala hal yang terjadi di dalamnya akan mempengaruhi permintaan BNB dan tentu saja bisa menggerakkan harganya.

Untuk itu, yuk berkenalan lebih jauh dengan Binance Smart Chain!

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Prospek Binance Coin Akan Cerah di Masa Depan

Apa Itu Binance Smart Chain?

Binance Smart Chain adalah teknologi blockchain besutan Binance yang berjalan beriringan dengan teknologi milik Binance lainnya bernama Binance Chain (BC). Lantas, kenapa Binance harus memiliki dua rantai blockchain di dalam jaringannya?

Awalnya, Binance meluncurkan Binance Chain pada April 2019 dengan fokus untuk memfasilitasi trading cryptocurrency dengan cepat dan terdesentralisasi. Salah satu aplikasi (dApps) yang dibangun di atas jaringan Binance Chain adalah Binance DEX, sebuah platform exchange kripto terdesentralisasi yang populer. Binance Chain juga merupakan kediaman BNB untuk pertama kalinya.

Hanya saja, jaringan ini banyak kelemahannya. Salah satunya adalah perkara fleksibilitas.

Binance Chain dibangun agar pengguna bisa melakukan trading secara cepat. Namun, fokus tersebut membuat BC tidak fleksibel seperti blockchain lain, yakni bisa digunakan untuk membangun beberapa program di atasnya memanfaatkan teknologi smart contract.

Namun, jika BC memasang teknologi smart contract, maka kecepatan transaksi di atasnya bisa semakin lambat. Hal itu tentu akan menurunkan pamor Binance Chain sebagai jaringan transaksi tercepat. Apalagi, skalabilitas transaksi selalu menjadi tantangan terberat dalam pengembangan blockchain.

Nah, oleh karenanya, Binance meluncurkan Binance Smart Chain yang berisikan teknologi smart contract di dalamnya. Sehingga, pengguna Binance bisa memanfaatkan kecepatan transaksi yang dimiliki BC sekaligus memanfaatkan teknologi smart contract di BSC.

Karena kedua blockchain berjalan beriringan, maka Binance Smart Chain bukanlah teknologi lapis kedua Binance Chain, begitu pun sebaliknya. Keduanya adalah blockchain independen yang saling bisa menyokong satu sama lain ketika salah satu diantaranya mengalami mati total.

Apa Fungsi Binance Smart Chain?

Layaknya teknologi blockchain berbasis smart contract lainnya, BSC bisa digunakan pengembang untuk mengembangkan aplikasi terdesentralisasi. Bahkan, teknologi BSC terbilang kompatibel dengan Ethereum Virtual Machine, yakni teknologi yang bisa menerjemahkan smart contract ke dalam instruksi yang bisa dibaca komputer.

Selain itu, Binance Smart Chain juga berfungsi agar pengguna Binance bisa mengatur digital asetnya secara cross-chain dengan delay yang rendah dan kapasitas besar. Intinya, kehadiran BSC bisa dibilang memperkaya ekosistem Binance yang sebelumnya dikenal punya kecanggihan dalam bentuk waktu transaksi yang cepat.

Baca juga: Sobat Cuan, Simak Sejarah Altcoin dalam Satu Dekade Terakhir di Sini!

Apa Hubungan Binance Smart Chain dan Harga BNB?

Seperti yang telah disinggung di atas, BSC memiliki koin native yakni Binance Coin.

Koin ini dipergunakan untuk menjaga keandalan dan keamanan sistem blockchain BSC, mengingat teknologi blockchain BSC menggunakan algoritma konsensus Proof of Stake. Di dalam algoritma ini, pengguna harus memiliki koin BNB untuk memvalidasi setiap transaksi yang akan ditambahkan ke buku besar blockchain BSC.

Selain itu, BNB juga digunakan pengembang untuk membayar biaya transaksi (gas fees) atas seluruh kegiatan yang terjadi di atas teknologi ini.

Lantas, apa hubungan harga BNB dengan teknologi blockchain BSC?

Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa salah satu penyebab kenaikan harga suatu barang adalah permintaannya. Jika permintaan naik, maka bisa jadi harga barang tersebut juga akan melonjak dengan asumsi suplainya tidak berubah.

Salah satu hal yang mendorong permintaan BNB adalah penggunaan koin tersebut di teknologi BSC. Jika banyak pengembang merangsek masuk Binance Smart Chain, sudah barang tentu permintaan BNB akan kian deras. Hal itu tentu akan mengerek harga BNB di masa depan.

Kestabilan harga BNB ke depan juga akan didukung dengan mekanisme coin burning. Nah, Sobat Cuan yang belum paham mekanisme tersebut bisa meluncur ke artikel ini, ya!

Apakah Ada Bukti Penggunaan Teknologi BSC ke Harga BNB?

Nah, Sobat Cuan mungkin ingat bahwa harga BNB sempat meroket di kuartal I hingga kuartal II tahun ini. Harga BNB tercatat mencapai rekor tertingginya pada 10 Mei 2021 dengan nilai US$690,93 per keping, meski harganya di awal tahun hanya US$37 per keping. Alias, dalam lima bulan, nilai BNB melonjak 1.767,38%!

Adapun salah satu penyebab lonjakan harga tersebut adalah maraknya pengembang yang berbondong-bondong hijrah ke blockchain BSC. Musababnya adalah harga gas fees dan lambatnya waktu transaksi di rival Binance Smart Chain, yakni blockchain Ethereum.

Apalagi, di awal tahun, komunitas BSC juga mendiskon biaya gas fees dari 15 Gwei ke 10 Gwei di Februari. Hal ini tentu menjadi daya tarik pengembang yang ingin menciptakan dApps baru namun dengan biaya lebih efisien. Selain itu, investor crypto staking pun lebih memilih jaringan Binance Smart Chain lantaran biaya transaksinya yang juga cukup rendah.

Seluruh peristiwa itu mendorong permintaan BNB dan sudah bisa ditebak, akhirnya harga BNB pun menanjak di awal tahun ini.

Bukti maraknya pengembang yang lebih memilih jaringan BNB tercermin dari jumlah aplikasi terdesentralisasi yang diciptakan.

Per juni 2021, Ethereum menjadi rumah bagi 2.800 dApps, sementara BSC hanya memiliki 810 aplikasi. Jumlah aplikasi BSC memang kecil. Namun, BSC berhasil meraih jumlah tersebut hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, sementara Ethereum sudah hadir lebih dari delapan tahun.

Hal lainnya juga tercermin dari aktivitas transaksi hariannya. Pada Mei lalu, BSC berhasil mencatat 11 juta transaksi harian seperti yang terlihat dari grafik berikut.

Grafik transaksi harian Binance Smart Chain. Sumber: bscscan

Nah, angka tersebut ternyata jauh lebih besar dibanding Ethereum yang tak pernah menyentuh lebih dari 1,8 juta transaksi harian, seperti terlihat di grafik berikut.

Ethereum
Grafik transaksi harian blockchain Ethereum. Sumber: Etherscan

Dengan prospek yang menjanjikan, apakah Sobat Cuan juga tidak tertarik menggenggam BNB? Yuk, miliki BNB di Pluang sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Binance, Binance, Coinmarketcap, Etherscan, BSCscan

Ditulis oleh
channel logo

Adi Putro

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1