pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

2244

Rangkuman Kabar: The Fed Bakal Gak Santai, Harga Minyak Ogah Melandai

Rangkuman kabar Senin (24/1) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara, diantaranya indikator meningkatnya inflasi.

Rangkuman Kabar Domestik

1. Kemenkeu Buka Penawaran Perdana SBN Ritel Pertama Tahun Ini

Kementerian Keuangan resmi membuka masa penawaran Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI021 hari ini. ORI bertenor tiga tahun dengan imbal 4,9% per tahun ini akan mengawali rangkaian perilisan enam Surat Berharga Negara (SBN) ritel lain yang juga ditawarkan tahun ini.

ORI021 diklaim sebagai produk unggulan yang dapat dibeli secara daring dengan nominal minimal Rp1 juta dan maksimal Rp2 miliar. Hasil penjualan ORI021 akan digunakan untuk pembiayaan penanganan pandemi COVID-19 termasuk vaksinasi.

Apa Implikasinya?

Sebagai salah satu instrumen investasi dengan risiko rendah, ORI dapat menjadi opsi menarik untuk berinvestasi di kala perekonomian sedang kurang stabil seperti saat ini.

Selain itu, penerbitan SBN ritel akan menambah jumlah investor domestik di pasar SBN. Jika jumlah investor tersebut meningkat, maka pemerintah bisa mengurangi ketergantungan akan investor asing secara perlahan. Akibatnya, sistem pasar finansial dalam negeri bisa tahan dari aneka goncangan eksternal.

2. Uang Beredar Tembus Rp7.867,1 Triliun

Bank Indonesia mencatat jumlah uang beredar sebesar Rp7.867,1 triliun per Desember 2021, tumbuh 13,9% yoy dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu didorong oleh kenaikan uang beredar dalam arti sempit atau M1 sebesar 17,9% dan uang kuasi sebesar 9,3%.

Sementara itu, pertumbuan M2 dipengaruhi oleh ekspansi keuangaan pemerintah dan penyaluran kredit. Bank sentral juga mencatat tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 37,7% yoy, melambat dari bulan sebelumnya 30,4% yoy. Melambatnya tagihan bersih menahan tingkat pertumbuhan uang beredar lebih tinggi.

Apa Implikasinya?

Peningkatan uang beredar mengindikasikan bahwa kegiatan ekonomi Indonesia tengah bergeliat. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia terindikasi mengalami perbaikan daya beli.

Namun di saat yang sama, kondisi ini juga bisa menjadi sinyal bahwa inflasi dari sisi permintaan akan melonjak ke depan. Sehingga, BI juga harus menerapkan kebijakan moneter dan makroprudensial yang tepat agar pertumbuhan ekonomi tetap stabil namun inflasi dapat tertahan.

Baca juga: Kabar Sepekan: Bank Sentral Sedunia Lagi Puyeng, Harga Komoditas Cespleng!

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Goldman Sachs Ramal The Fed Bakal Makin 'Hawkish'

Goldman Sachs meramal bahwa The Fed kemungkinan bakal lebih agresif dibandingkan ekspektasi sebelumnya.

Menurut laporannya pada akhir pekan lalu, Goldman Sachs memprediksi bahwa bank sentral AS tersebut akan meningkatkan suku bunga acuannya mulai Maret. Kemudian, The Fed pun diramal akan mengerek suku bunga acuannya di rapat FOMC Juni, September dan Desember. Hal ini, menurut Goldman Sachs, bakal terjadi lantaran tekanan inflasi di AS bakal menjadi-jadi.

Laporan Goldman Sachs tentu bikin geger pasar investasi. Sebab, beberapa analis sebelumnya memperkirakan bahwa The Fed hanya akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali tahun ini.

Apa Implikasinya?

Tiap langkah pengetatan kebijakan moneter The Fed berisiko memprovokasi modal asing untuk 'pulang kampung' dari sistem keuangan negara berkembang dan instrumen investasi berisiko tinggi. Semakin besar peluang terjadinya pengetatan yang lebih agresif, maka pasar akan meresponsnya dengan mengatur ulang portofolio investasinya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Indonesia tentu harus memperdalam pasar keuangannya agar segala kebijakan moneter The Fed tak bikin ekonomi domestik oleng.

2. Harga Minyak Dunia Bakal Terus Melambung

Harga minyak dunia terus bergerak naik hingga mencapai US$88,58 per barel untuk jenis Brent dan US$85,84 per barel untuk jenis West Texas Intermediate (WTI). Para ekonom memperkirakan harga minyak dapat mencapai angka US$100 per barel tahun ini, hingga US$120 pada awal tahun depan sebelum neraca suplai dan demand mencapai titik setimbang tahun 2023 nanti.

Penyebab kenaikan harga minyak ialah permintaan yang tetap tinggi kendati varian omicron masih marak di segala penjuru dunia. Efek yang lemah dari varian ini terhadap permintaan minyak ternyata tidak sebanding dengan suplai yang tersedia. Kondisi ini diperparah oleh situasi geopolitik yang memanas antar negara-negara penghasil minyak dan anggota OPEC+.

Apa Implikasinya?

Naiknya harga minyak dunia akan menambah tekanan pada komponen biaya energi yang berandil besar terhadap inflasi di negara-negara maju. Akibatnya, ada risiko inflasi semakin tidak terkendali yang membuat otoritas moneter harus menerapkan kebijakan moneter ketat.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNN Indonesia, Investing, CNBC Indonesia, Bank Indonesia, Oilprice

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES