pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

1251

Rangkuman Kabar: Harga Minyak Goreng Bikin Cemas, India Gandrungi Emas

Rangkuman kabar rabu (5/1) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara diantaranya harga minyak goreng yang tengah jadi sorotan.

Rangkuman Kabar Domestik

1. Harga Minyak Goreng Jadi Momok, Pemerintah Bakal Kucur Subsidi

Pemerintah akan menggelontorkan subsidi sebesar Rp3,6 triliun untuk membantu daya beli masyarakat dalam membeli minyak goreng. Kebijakan ini ditempuh setelah harga minyak goreng melambung dan bahkan menyumbang andil inflasi 0,31% terhadap inflasi 2021 yakni 1,87% secara tahunan.

Subsidi tersebut rencananya digunakan untuk menutup selisih harga pasar dengan harga eceran yang ditetapkan pemerintah bagi 1,2 miliar liter minyak goreng bersubsidi yang disebar lewat operasi pasar selama enam bulan ke depan.

Operasi pasar tersebut diharapkan dapat menurunkan harga minyak goreng menjadi Rp14.000 hingga Rp14.500 per liter, yakni level harga eceran tertinggi yang telah ditetapkan pemerintah. Sepanjang tahun lalu harga minyak goreng terus meroket secara fluktuatif hingga menyentuh level Rp25.000 per kg.

Apa Implikasinya?

Menekan laju kenaikan harga minyak goreng dapat membantu menekan tingkat inflasi bahan pangan bergejolak (volatile food). Inflasi jenis ini terkenal "jahat" karena tidak serta merta mencerminkan daya beli masyarakat. Malahan, inflasi ini justru menahan konsumsi masyarakat.

Jika konsumsi masyarakat mandeg, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terancam. Selain itu, sebagian besar pendapatan masyarakat akan lari konsumsi, sehingga porsi pendapatan mereka untuk tabungan dan investasi akan menyusut.

2. Sukuk Biayai Rp1,1 Triliun Proyek Infrastruktur RI di 2021

Kementerian Keuangan telah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) senilai Rp1,1 triliun untuk membiayai proyek pembangunan sepanjang 2021.

Hingga saat ini, realisasi pembangunan proyek tersebut telah mencapai 85%, bahkan bisa mencapai 95% ke depan.

Adapun proyek yang bakal dan telah dibiayai oleh himpunan dana SBSN tersebut antara lain Kereta Api Trans Sulawesi-Pare-Pare- Makassar, Tol Trans Sumatera, dan Jembatan Youtefa. SBSN juga menjadi salah satu alternatif pembiayaan ibu kota baru di Kalimantan Timur seperti pembangunan Bandara APT Pranoto dan Jembatan Pulau Balang.

Selain itu, Kemenkeu juga merilis bahwa total nilai penerbitan SBSN sejak tahun 2013 menebus angka Rp175,38 triliun. Tahun ini, pemerintah akan menerbitkan SBSN berbasis proyek sebesar Rp29 triliun. Kamu tertarik, Sobat Cuan?

Apa Implikasinya?

Pembangunan infrastruktur akan membantu roda perekonomian masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Sebab, investasi merupakan satu dari empat komponen utama Produk Domestik Bruto (PDB).

Di samping itu, realisasi proyek infrastruktur akan memberikan efek pengganda berupa penyerapan lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat.

Baca juga: Rangkuman Kabar: COVID Bikin Kantong RI Boncos, Manufaktur China Makin Joss!

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Omicron Susutkan PMI Zona Eropa

IHS Markit merilis bahwa indeks manufaktur (Purchasing Managers Index) zona Eropa pada Desember menyusut dari 55,4 di November menjadi 53,3 pada Desember. Level tersebut menjadi yang terendah sejak bulan Maret akibat kembali merebaknya COVID-19 varian Omicron.

Apa Implikasinya?

Susutnya PMI di negara yang tengah mengalami lonjakan kasus COVID-19 dapat menjadi parameter bagi Indonesia untuk waspada jika tidak ingin progres pemulihan ekonominya mundur kembali saat lonjakan serupa kembali terjadi.

2. Impor Emas ke India Melonjak Dua Kali Lipat

India mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah sebagai importir emas di tahun 2021 senilai US$55,7 miliar, dua kali lipat lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yakni US$22 miliar.

Melonjaknya permintaan terhadap emas di India disebabkan oleh masifnya pesta perkawinan tahun lalu. Pasangan mempelai di India yang memilih untuk menunda pesta di tahun 2020 memutuskan untuk menghelatnya tahun lalu.

Secara volume, total impor emas tahun lalu mencapai 1.050 ton emas. Jumlah ini jauh melampaui volume impor tahun 2020 yakni 430 ton emas.

Apa Implikasinya?

Tingginya permintaan impor emas ke India tentu berdampak pada naiknya harga emas yang juga dipengaruhi oleh gejolak perekonomian global. Bagi negara penghasil emas seperti Indonesia, kondisi ini merupakan peluang untuk merambah pangsa pasar India guna menaikkan nilai dan volume ekspor emas.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC Indonesia, Kontan, Antara, Katadata, Reuters, India Times

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES