Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Kebutuhan Uang Ramadan Naik, Lapangan Kerja AS Membaik?

Selamat sore, Sobat Cuan! Tak terasa sudah mau menginjak akhir pekan lagi, ya. Demi menutup pekan ini, Rangkuman Kabar kembali hadir menyapa kamu semua, di antaranya terdapat kabar mengenai kebutuhan uang selama Ramadan dan sinyal bahwa warga Amerika Serikat (AS) sudah pada dapat pekerjaan! Simak di sini!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Kebutuhan Uang Tunai Saat Ramadan & Lebaran Diramal Naik

Bank Indonesia (BI) meramal kebutuhan uang selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri mendatang mencapai Rp175,3 triliun. Jumlah tersebut naik 13,4% dibanding realisasi kebutuhan uang saat Ramadan hingga Idul Fitri tahun lalu.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan, kebutguhan uang selama periode tersebut berpotensi naik dengan melihat asumsi makroekonomi dan tren realisasinya dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, penyaluran bantuan sosial (bansos) pemerintah juga mengerek kebutuhan dana tunai selama masa-masa tersebut.

Apa Implikasinya?

Pertumbuhan proyeksi jumlah kebutuhan uang saat Ramadan menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi bakal meningkat di Indonesia. Nah, aktivitas tersebut diharapkan juga mampu mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I mendatang.

Hanya saja, proyeksi kebutuhan uang itu juga bisa berimplikasi ke kenaikan inflasi.

2. 'Pabrik Petrokimia Terbesar Sejagat' Bakal Mejeng di Kalimantan Utara

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengklaim, Indonesia bakal memiliki pabrik petrokimia terbesar di dunia yang berlokasi di kawasan industri hijau Kalimantan Utara.

Luhut berujar, pabrik itu akan berlokasi di Integrated Green Industrial Park yang membentang seluas 32.000 hektare (ha) dan membutuhkan investasi senilai US$132 miliar hingga 2029.

Ia menuturkan, bahwa industri hijau tersebut akan memproduksi berbagai kebutuhan berbasis kimia seperti paracetamol dan bahan baku obat lainnya.

Apa Implikasinya?

Pembangunan pabrik petrokimia memiliki dampak ekonomi yang besar.

Pertama, pabrik tersebut diharapkan bisa memproduksi produk-produk petrokimia yang selama ini diimpor Indonesia. Jika pabrik tersebut beroperasi, maka Indonesia bisa menekan nilai impornya dan mendongkrak surplus neraca perdagangannya.

Kenaikan surplus neraca perdagangan sendiri bisa mengerek nilai cadangan devisa. Sementara itu, cadangan devisa adalah amunisi BI untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah melalui intervensi pasar valas.

Kedua, pembangunan pabrik tersebut juga mampu menciptakan lapangan kerja baru. Hal itu akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan tingkat konsumsi, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal semakin mumpuni.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Bunga Fed Merekah, BI Tak Mau 'Latah'

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Makin Sedikit Warga AS Minta Subsidi Pengangguran. Udah Pada Dapat Kerjaan?

Departemen Ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) mencatat sebanyak 214.000 warga AS mengklaim bantuan pengangguran pada pekan lalu. Uniknya, angka tersebut merupakan titik terendah dalam 52 tahun terakhir!

Hal ini terjadi setelah dunia usaha AS menambah permintaan tenaga kerja masif sejak awal Maret. Kondisi ini pun sejalan dengan geliat manufaktur AS yang mulai bertumbuh, terlihat dari skor indeks manufaktur PMI AS di Februari sebesar 58,6 atau naik 1 persen poin dibanding sebulan sebelumnya.

Apa Implikasinya?

Hal itu mengindikasikan bahwa kegiatan ekonomi AS sudah kembali bergeliat dan bisa menuntun negara Paman Sam tersebut mencetak pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Selain itu, data tersebut juga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi bank sentral AS The Fed sebelum mengutak-atik kebijakan moneternya di masa mendatang.

2. Presiden China Janji Pulihkan Ekonomi China Pasca 'Lockdown' Sana-Sini

Presiden China Xi Jinping berjanji untuk menimalisasi dampak negatif dari kebijakan anti-COVID China terhadap kegiatan ekonomi. Ia menyampaikan hal itu di hadapan komite Politburo, yang merupakan lembaga penentu kebijakan Partai Komunis China, pada Kamis (17/3).

Xi mengatakan, China tetap menjalankan kebijakan Covid-Zero di negaranya. Namun, di sisi lain, upaya pencegahan COVID-19 di negara tersebut harus memiliki biaya efisien dan tidak memukul ekonomi negara panda tersebut.

Apa Implikasinya?

Kondisi ekonomi China yang bergeliat tentu akan menguntungkan Indonesia. Pasalnya, industri manufaktur China tentu bakal menambah permintaan bahan baku dari Indonesia. Hal itu, tentu saja, bisa meningkatkan nilai ekspor Indonesia.

Baca juga: Pluang Insight: Mengadu Prospek Alibaba & Baidu Pasca Jadi Bintang Dadakan

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: CNN Indonesia, CNN Indonesia, Reuters, Bloomberg

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait