Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Kabar: China Kembali Lockdown, Produksi Nikel RI Naik Daun

Selamat sore, Sobat Cuan! Rangkuman Kabar kembali hadir menyapa Sobat Cuan semua dengan berbagai berita domestik dan internasional terkini, seperti China yang kembali melakukan lockdown hingga niatan Presiden Joko Widodo untuk mengurai perkara minyak goreng! Yuk, simak selengkapnya!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Produksi Nikel Indonesia Tembus 1 Juta Ton

Laporan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut, produksi nikel Indonesia pada 2021 tercatat 1 juta metrik ton atau naik 29,7% dibanding tahun sebelumnya yakni 771.000 ton. Dengan kata lain, Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya sebagai produsen nikel nomor wahid sejagat.

Secara keseluruhan, dunia memproduksi 2,7 juta metrik ton nikel sepanjang 2021. Sehingga, Indonesia tercatat menyumbang 37,04% produksi nikel dunia di periode tersebut.

Laporan USGS juga mendapuk Filipina sebagai negara produsen nikel terbesar ke-dua di dunia dengan produksi 370.000 metrik ton. Angka tersebut naik dibanding 2020 yakni 334.000 metrik ton.

Apa Implikasinya?

Kenaikan produksi nikel seharusnya bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat industri hilirisasi produk tambang tersebut. Sehingga, Indonesia bisa mengekspor hasil industri tersebut dan mendulang surplus neraca perdagangan yang mumpuni.

Jika surplus neraca perdagangan Indonesia melimpah, maka hal tersebut dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi domestik. Ini mengingat ekspor netto merupakan satu dari empat komponen utama pertumbuhan ekonomi selain konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah.

2. Minyak Goreng Masih Jadi Polemik, Jokowi 'Turun Gunung'

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan mengambil langkah tegas terkait drama kelangkaan minyak goreng. Jokowi rencananya akan mengambil langkah tersebut pasca menyelesaikan kunjungan kerjanya di lokasi Ibu Kota Negara (IKN).

'Hal ini (kelangkaan minyak gorenf) tidak bisa dibiarkan terlalu lama, sehingga dengan demikian direncanakan setelah kembali dari acara IKN ini, Presiden akan mengadakan rapat internal untuk segera memutuskan persoalan yang berkaitan dengan minyak goreng,' kata Pramono melalui siaran pers, Senin (14/3/2022).

Di samping itu, pemerintah juga akan menegaskan produsen minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) untuk memprioritaskan produksinya untuk memenuhi pasokan minyak goreng dalam negeri. Pramono, Indonesia saat ini rata-rata memproduksi 50 juta ton per tahun, di mana 26 juta hingga 28 juta di antaranya bagi kebutuhan ekspor.

Apa Implikasinya?

Langkah pemerintah yang serius mengurai permasalahan suplai minyak goreng tentu bisa berimbas ke penurunan harganya. Jika harga minyak goreng semakin murah, maka inflasi kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) bisa tertahan.

Sementara itu, menjaga kestabilan bahan pangan saat ini menjadi pekerjaan rumah utama pemerintah mengingat harga-harga bahan pokok lainnya biasanya akan meroket jelang bulan Ramadan.

Baca juga: Pasar Sepekan: Market 'Mencla-Mencle' di Tengah Sentimen Bertele-tele

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. COVID-19 Kembali Meluas, China 'Lockdown' Shenzhen

Otoritas China memberlakukan pembatasan sosial ketat (lockdown) terhadap kota Shenzhen di Provinsi Guandong setelah kasus COVID-19 di kota tersebut melonjak drastis. Rencananya, 17,5 juta penduduk kota tersebut akan 'dikurung' selama sepekan terhitung sejak Minggu (13/3).

Ekonom Bloomberg meramal pembatasan sosial tersebut akan memukul perekonomian China. Pasalnya, Shenzhen adalah salah satu jantung ekonomi utama provinsi Guandong, sebuah wilayah yang berkontribusi 11% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) China. Bahkan, pabrik Foxconn di Shenzhen pun harus setop beroperasi akibat pembatasan sosial tersebut.

Apa Implikasinya?

Pembatasan sosial berskala besar tentu akan menghentikan kegiatan ekonomi China. Jika itu terjadi, maka ada kemungkinan permintaan industri manufaktur China atas impor bahan baku Indonesia akan menyusut. Hal itu, tentu saja, akan menyunat surplus neraca perdagangan Indonesia dan berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi domestik.

2. AS Siap Sanksi China, Asal..

Amerika Serikat (AS) mengancam akan memberikan sanksi ekonomi bagi China jika negara tirai bambu tersebut ternyata membantu Rusia untuk menghindari sanksi dari AS dan negara-negara barat. Hal ini disampaikan oleh penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan pada Minggu (13/3) waktu setempat.

Ia menyampaikan hal tersebut sebelum melawat ke Roma, Italia untuk berbincang dengan diplomat top China Yang Jiechi. 

Sebelumnya, Rusia secara resmi meminta bantuan China untuk menyediakan alat-alat militer setelah menginvasi Ukraina pada 24 Februari lalu.

Apa Implikasinya?

Ancaman sanksi AS tersebut berpotensi membuat konflik antara Rusia dan Ukraina kian melebar. Akibatnya, dampak ekonomi yang dihasilkan dari peristiwa tersebut pun bisa ikut menyebar.

Baca juga: Kabar Sepekan: RI Mulai Sambut Endemi, Inflasi AS Kian Menjadi-jadi

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Bloomberg, Reuters

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait