Pluang+

Biaya

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan

Pluang Insight: Menguak Biang Keladi di Balik Runtuhnya FTT

Waktu baca: 4 menit

Tags
Pluang Insight: Menguak Biang Keladi di Balik Runtuhnya FTT

Nilai token FTT yang terjun bebas 72% dalam sehari per Rabu (9/11) ikut membuat satu pasar kripto terguncang. Lantas, seperti apa kronologis dan awal mula peristiwa tersebut? Simak selengkapnya di Pluang Insight berikut!

Kronologis Kejatuhan FTT

Peristiwa runtuhnya FTT, token milik platform exchange FTX, dan penularannya ke pasar kripto dimulai pada Minggu (6/11). Kala itu, CEO Binance Changpeng Zhao melempar cuitan ke akun Twitter pribadinya yang mengatakan bahwa Binance akan menjual token FTT miliknya.

Hanya saja, Zhao tidak membeberkan alasan jelas di balik keputusan tersebut. Ia hanya mengatakan keputusan itu dibuat berdasarkan "fakta terbaru", sembari mengatakan penjualan FTT oleh Binance akan dilakukan secara perlahan demi meminimalisasi dampak buruk ke pasar kripto.

Selain itu, Zhao pun tidak membongkar nilai FTT yang akan dilepas. Namun, ia mengindikasikan bahwa Binance memiliki kurang lebih US$2,1 miliar dalam bentuk BUSD dan FTT. 

Rupanya, likuidasi secara perlahan ini mirip seperti sikap perusahaan ketika nilai Terra Classic (LUNC) terjun bebas pada pertengahan 2022. Hal ini kemudian membuat komunitas kripto menerka-nerka alasan sesungguhnya di balik keputusan tersebut.

Komunitas kripto kemudian mengaitkan tindakan Zhao dengan krisis neraca keuangan yang tengah dilanda firma trading crypto "saudara" FTX, Alameda Research.

Ternyata, sebagian besar aset Alameda terdiri dari aset yang tidak likuid sehingga Alameda bisa jadi terjebak pada situasi insolvensi. Bahkan, 54% dari isi neraca FTX adalah utangAdapun secara rinci, Alameda memiliki aset FTT tidak terkunci sebesar US$366 miliar, kolateral dalam bentuk FTT sebesar US$2,16 miliar dan aset FTT terkunci sebesar US$292 juta.

Alameda pun langsung mencoba menepis rumor tersebut. CEO Alameda Caroline Ellison mengungkapkan bahwa kondisi keuangan perusahaannya lebih kuat daripada yang tercermin di neraca mereka. Selain itu, dirinya pun menawarkan untuk membeli FTT dari Binance di harga US$22 per keping. Namun, Binance secara tegas menolak tawaran tersebut.

Sayangnya, dugaan-dugaan tersebut keburu membuat pelaku pasar menarik dananya dari FTX dan melepas token FTT. Reuters bahkan melaporkan bahwa FTX mengalami penarikan dana sebesar US$6 miliar dalam beberapa hari terakhir.

Namun, penarikan dana yang tak terbendung membuat likuiditas FTX semakin seret. Dengan kata lain, FTX tidak mampu untuk mengembalikan dana yang sudah ditaruh oleh para pengguna aplikasi FTX.

Akhirnya, dalam sebuah cuitan di akun Twitter-nya pada Selasa (8/11) malam, Zhao mengakui bahwa FTX tengah mengalami masalah likuiditas dan secara resmi telah meminta uluran tangan Binance. 

Ia menambahkan Binance sepakat akan mengakuisisi ftx.com, tak termasuk ftx.us, dalam sebuah surat komitmen yang tak mengikat (non-binding letter of intent). Hanya saja, Zhao menyebut proses ini belum terjadi karena Binance memerlukan uji tuntas sebelum merealisasikan niatan tersebut.

Kabar ini pun kemudian dikonfirmasi oleh pendiri FTX Sam Bankman-Fried. Melalui cuitan di akun Twitter-nya, ia menyebut FTX dan Binance telah sepakat untuk melaksanakan “transaksi strategis” demi mengatasi masalah likuiditas yang mendekam FTX.

Tapi, pengumuman tersebut tak serta merta membuat pelaku pasar tenang. Pasalnya, bantuan Binance hanya mencakup FTX.com saja, tidak termasuk masalah insolvensi yang didera Alameda. Akibatnya, muncul rumor baru bahwa Alameda kemungkinan akan “menjual” tokennya demi mengatasi masalah keuangan tersebut.

Akhirnya, penarikan dana jumbo dari FTX tak terbendung. FTX pun terpaksa menghentikan proses penarikan dana (withdrawals) pada Rabu (9/11) pagi. Nilai FTT pun terjun bebas dari US$19,33 per keping pada Selasa (8/11) menjadi US$5,58 saja sehari setelahnya. Satu jagat kripto pun kena tulahnya, bahkan nilai Bitcoin (BTC) ambles 10% di waktu yang sama.

Baca Juga: Pluang Insight: Cardano Siap Hard Fork! Apakah Jadi Sentimen Positif bagi ADA?

Mengapa Pasar Panik Atas Peristiwa Ini?

Sejatinya, banyak hal yang mendasari kepanikan pasar yang berujung pada "cuci gudang" FTT dan menular ke pasar kripto secara umum.

Faktor kepanikan pertama adalah nilai kepemilikan FTT Binance yang mencapai US$2,1 miliar. Jika token tersebut benar-benar dilempar ke pasar, maka ditakutkan tidak ada satu orang atau institusi besar yang berani menampungnya. Peristiwa itu bisa-bisa membuat harga FTT longsor, sehingga pelaku pasar memilih untuk melepas FTT miliknya daripada amsyong di kemudian hari.

Faktor kepanikan kedua adalah kecemasan bahwa drama FTT akan mengikuti peristiwa yang sebelumnya terjadi di pasar kripto.

Rupanya, kekuatan finansial yang digemborkan FTT tidak tertransmisikan dengan baik ke pasar. Imbasnya, pelaku pasar pun berpikir keras dan mulai untuk menarik dana mereka dari FTX. Pasalnya, mereka takut jika drama yang menyangkut FTT akan berakhir sama seperti yang dialami Celsius, Blockfi, Voyager ataupun LUNC.

Tapi, pertanyaan terbesarnya, mengapa harga aset kripto lain ikut "tertular" dari peristiwa ini?

Pluang menganggap, kondisi tersebut bisa jadi disebabkan oleh komentar Zhao yang menegaskan bahwa Binance masih dapat menarik diri dari kemitraan strategisnya dengan FTX. Dengan kata lain, penyelamatan likuiditas FTX masih bersifat belum pasti.

Nah, jika Binance tak jadi mencaplok FTX, maka bisa dipastikan FTX terjebak ke masalah likuiditas. Ia diramal tak akan mampu untuk mengembalikan dana penggunanya yang terdapat di platform tersebut.

Hal lain yang mendukung penurunan harga kripto yang cukup tajam datang dari margin call yang terjadi. Faktanya, terdapat kurang lebih BTC senilai US$614 juta yang berisiko untuk terlikuidasi dari posisi long. Pemegang posisi long tentu akan menjual BTC-nya secara paksa jika terdapat likuidasi. Artinya, tekanan penjualan aset kripto akan semakin besar.

Posisi long versus short BTC. Sumber: Coinglass

Selain itu, nasib apes tampaknya tak akan lepas dari bayang pasar kripto.

Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi Oktober pada Kamis (10/11). Jika angka inflasi berada di atas ekspektasi pasar, maka bisa dikatakan akan ada tekanan lebih dalam bagi pasar kripto. 

Baca Juga: Pluang Insight: Faktor Makroekonomi Apa Saja yang Pengaruhi Pasar Kripto?

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait