Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Pasar Sepekan: Indeks Saham AS Memble, Aset Kripto Makin Kece
shareIcon

Pasar Sepekan: Indeks Saham AS Memble, Aset Kripto Makin Kece

2 Oct 2021, 3:12 AM·Waktu baca: 6 menit
shareIcon
Kategori
Pasar Sepekan: Indeks Saham AS Memble, Aset Kripto Makin Kece

Mengawali akhir pekan, Sobat Cuan bisa menyimak rangkuman pasar sepekan berikut!

Pasar Internasional

Pekan ini nampaknya menjadi masa-masa berduka bagi tiga indeks saham utama AS. Sepanjang minggu ini, nilai Dow Jones Industrial Average turun 1,36% dan indeks S&P 500 turun 2,21%. Pelemahan nilai terparah dialami oleh indeks Nasdaq Composite yang amblas 3,2%.

Secara keseluruhan, September memang bulan apes bagi indeks saham AS. Indeks S&P 500, khususnya, selalu terjun ke teritori negatif pada September setiap tahunnya. Namun, September tahun ini benar-benar jadi bulan terburuk S&P 500 dalam 10 dan 20 tahun terakhir.

September 2021 juga menjadi bulan terburuk S&P 500 sejak pandemi COVID-19 menyeruak secara global di Maret 2020.

Indeks saham AS selama September terlihat kurang darah sepanjang September lantaran investor ketar-ketir bahwa krisis gagal bayar utang Evergrande bisa membuka pintu terhadap krisis finansial yang lebih besar.

Namun, trio indeks saham AS sepertinya bisa memutar nasib pada pekan depan. Investor mulai meyakini bahwa polemik utang Evergrande nampaknya tidak akan merembet ke sektor real estat AS.

Selain itu, kinerja indeks saham AS pekan depan juga didorong angin segar dari segudang perilisan data ekonomi penting.

Pekan lalu, contohnya, indeks manufaktur AS September yang dirilis Institute of Supply Management (ISM) ternyata mengalami kenaikan dari Agustus, yakni dari 59,9 ke 61,1. Di samping itu, jika data indeks jasa AS yang dirilis pekan depan melebihi ekspektasi analis, maka investor bisa semakin tergugah untuk menginjakkan kaki di pasar saham AS. Alhasil, nilai indeks saham AS, yang dipimpin oleh S&P 500, bisa mengalami reli yang luar biasa di awal Oktober.

Tapi tetap saja, investor akan mengamati dengan cermat data pembukaan tenaga kerja baru AS (Non-Farm Payroll/NFP) dan tingkat pengangguran. Investor khawatir bahwa kondisi manufaktur AS pada Agustus lalu akan terulang di September. Sekadar informasi, pada Agustus lalu, AS mencatat kenaikan angka pengangguran dan penurunan penyerapan tenaga kerja baru di tengah kenaikan nilai indeks manufaktur.

Dengan kata lain, indeks saham AS tetap akan mengalami jungkat-jungkit sebelum akhirnya membentuk sentimen bullish yang solid.

Pasar Kripto

Berbeda dengan indeks saham AS, harga aset kripto sepanjang pekan ini malah terlihat semringah.

Nilai dua punggawa jagat kripto, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), masing-masing melonjak 13,3% dan 14,5% dalam sepekan terakhir per Sabtu (2/10) pukul 08.20 WIB. Sementara itu, harga altcoin utama seperti BNB, XRP, LTC, MATIC, FIL, FTM, SOL, LINK dan THETA kompak mencetak pertumbuhan di atas 10% di periode yang sama.

Uniswap memimpin laju pergerakan harga altcoin dengan kenaikan 30% selama sepekan terakhir. Di sisi lain, harga ADA dan ALGO terpaksa longsor 0,25% dalam sepekan terakhir.

Harga aset kripto berhasil pulih dengan cepat setelah keok di awal pekan gara-gara sikap tegas pemerintah China yang mendapuk seluruh transaksi dan aktivitas berbau aset kripto sebagai tindakan ilegal.

Namun, beribu-ribu kilometer dari China, Ketua Bank Sentral AS The Fed Jerome Powell pada Kamis (30/9) mengatakan bahwa otoritas moneter itu tak berniat untuk melarang aset kripto di AS, termasuk Stablecoins. Pernyataan Powell seolah-olah menjadi obat bagi harga aset kripto setelah sebelumnya sakit kronis di awal pekan.

Harga aset kripto juga melonjak seiring keputusan pemerintah Iran untuk mencabut pelarangan penambangan aset kripto di negara tersebut. Iran sebelumnya melarang aktivitas penambangan aset kripto mulai 26 Mei 2021 di bawah instruksi mantan presiden Hassan Rouhani gara-gara penggunaan listrik yang boros.

Sentimen di komunitas kripto diramal tetap bullish pada Oktober. Bahkan, beberapa analis dan trader merujuk bulan Oktober sebagai “Uptober” di Twitter. Yakni, sebuah slang yang mewakili ekspektasi pelaku pasar bahwa harga kripto akan reli di bulan ini.

Salah satu sosok yang optimistis terhadap reli aset kripto bulan ini adalah strategist sekaligus trader kripto kawakan yang dikenal dengan nama samaran Inmortal. Ia mengatakan bahwa harga Bitcoin memang masih akan jatuh hingga awal Oktober. Namun, nilai sang raja aset kripto diperkirakan akan terus melesat menuju rekor terbarunya.

Pada dasarnya, Oktober adalah bulan penuh bunga bagi aset kripto. Kabar mengenai longsornya harga saham serta pelarangan China terhadap aset kripto sangat mirip seperti kondisi awal bull run kripto yang dimulai kuartal IV 2020.

Emas

Harga emas spot ditutup pada level US$1.790,96 per ons sementara harga emas berjangka ditutup di level US$1.761,2 per ons. Dengan kata lain, keduanya menguat tipis selama sepekan terakhir.

Pada pekan ini, harga emas sejatinya terombang-ambing setelah duet maut imbal hasil obligasi pemerintah AS dan Dolar AS sama-sama perkasa. Kondisi itu diperparah dengan serangkaian komentar pejabat The Fed pekan ini yang silih berganti menegaskan kebijakan tapering dan kenaikan suku bunga acuan yang lebih cepat dari jadwal seharusnya.

Namun, harga emas kemudian mendadak tokcer setelah biaya barang dan jasa terlihat menanjak tajam pada Agustus, sehingga bikin angka inflasi tahunan AS mencetak rekor tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Kekhawatiran inflasi pun bikin investor menyerbu emas. Maklum, emas selama ini dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.

Powell pun akhirnya mengaku bahwa ia cukup “frustrasi” melihat inflasi AS yang kian meradang. Dalam pernyataannya di hadapan Senat AS, ia mengatakan bahwa inflasi diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Pernyataannya sontak bikin kaget mengingat Powell selama ini memandang inflasi tinggi AS sebagai kondisi sementara.

Ketakutan investor soal inflasi juga berhulu dari survey ISM yang menunjukkan bahwa produsen manufaktur AS ternyata mengalami perlambatan penyaluran bahan baku dan membayar bahan baku lebih mahal pada September.

Dolar AS

Nilai indeks Dolar AS ditutup pada 94,04 pada Jumat (1/10), atau naik 0,8% sepanjang pekan ini. Dengan kata lain, Dolar AS mengalami pekan terbaiknya sejak Juni.

Nilai Dolar AS kian berjaya setelah investor meramal bahwa nada hawkish The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sesegera mungkin. Alhasil, kini investor benar-benar serius menanti aksi tapering The Fed November dan kenaikan suku bunga acuan tahun depan.

Penguatan nilai Dolar AS juga didukung oleh sentimen pasar yang cemas terhadap penyebaran kasus COVID-19, olengnya pertumbuhan ekonomi China, dan “adu jotos” pemerintah versus Senat AS dalam menaikkan pagu pinjaman pemerintah AS.

Sayangnya, aksi ambil untung sekaligus tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang kian letoy menghambat laju penguatan Dolar AS. Hal itu diperparah dengan ekspektasi investor soal kecemasan inflasi di masa-masa mendatang.

Nasib nilai Dolar AS pekan depan akan ditentukan oleh beberapa rilis data ekonomi penting, salah satunya adalah NFP. Data NFP akan memegang kunci penting lantaran investor bisa mengharapkan kondisi stagflasi di AS jika penyerapan tenaga kerja baru kian menyusut antar bulan. Adapun, stagflasi adalah kondisi di mana inflasi tinggi terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi lambat.

Pasar Domestik

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.228,25 pada Jumat (1/10), atau meningkat 1,39% sepanjang pekan ini. Kinerja indeks domestik terbilang cemerlang lantaran investor ternyata semakin getol mengoleksi saham-saham dalam negeri. Sebagai buktinya, nilai beli bersih asing (net buy) pada Rabu dan Kamis sama-sama menembus Rp1,7 triliun dan Rp1,94 triliun.

Penguatan IHSG sejalan dengan aksi yang dilakukan oleh Evergrande, raksasa properti asal China. Setelah sempat membuat pasar keuangan ketar-ketir lantaran potensi gagal bayar utang senilai Rp4.000-an triliun, pada Kamis (30/9) perseroan mengumumkan sudah berhasil mendapatkan dana tunai sekitar Rp21,43 triliun.

Penguatan IHSG juga sejalan dengan kinclongnya emiten batu bara yang kecipratan berkah akibat kenaikan harga batu bara. Pada pekan ini, harga batu bara tembus rekor di atas US$200 per ton akibat kenaikan permintaan dari Eropa yang saat ini mengalami krisis energi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Ditulis oleh
channel logo

Satya Nagara

Right baner

Satya Nagara

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
weekly news
Pasar Sepekan: Rusia Tabuh Genderang 'Perang', Market Ikut Bergelombang
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1