Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

0

Pasar Sepekan: Pasar Kripto, Saham, Emas Oleng ‘Disenggol’ Inflasi & COVID

Pekan ini menjadi pekan yang cukup bikin deg-degan ya, Sobat Cuan. Betapa tidak, pasar aset kripto, IHSG, hingga emas semuanya terpantau memble selama sepekan terakhir.

Apa sih yang sebenarnya terjadi dengan dunia investasi minggu ini? Yuk, simak selengkapnya di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Aset Kripto Sepekan

Sobat Cuan pasti paham bahwa kita tidak boleh bersikap jemawa kalau tidak mau kena karmanya. Nah, hal serupa juga terjadi di pasar aset kripto. Setelah merasa “angkuh” lantaran mencetak pertumbuhan mumpuni beberapa pekan terakhir, pasar aset kripto pun kena tulahnya pada pekan ini.

Melansir data Coinmarketcap pukul 08.15 WIB, hampir seluruh aset kripto utama terjebak di zona merah kecuali Binance Coin (BNB) dalam seminggu belakangan. Untuk lebih jelasnya, Sobat Cuan bisa menyimak rangkumannya di tabel berikut!

Amblasnya nilai geng koin digital sejatinya tak diantisipasi pelaku pasar. Pada awal pekan, nilai-nilai aset kripto terlihat kegirangan setelah investor ternyata memborong aset kripto mumpung murah (buy the dip), sehingga ada harapan bahwa pasar kripto akan kembali subur.

Namun, situasi tersebut berubah 180 derajat di pertengahan pekan setelah nilai Dolar Amerika Serikat (AS) menguat akibat keputusan Presiden AS Joe Biden yang kembali menominasikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.

Nah, kejadian tersebut bikin pelaku pasar berbondong-bondong keluar dari pasar kripto dan memilih menggenggam Dolar AS. Apalagi, dengan kembalinya Powell sebagai pucuk pimpinan The Fed, maka pelaku pasar bisa berharap bahwa bank sentral AS itu tidak akan mengubah kembali kebijakan moneternya. Artinya, kebijakan tapering dan kenaikan suku bunga acuan masih tepat di depan mata.

Investor makin tergugah melakukan aksi jual setelah pemerintah India berniat untuk melarang peredaran aset kripto, termasuk Bitcoin dan Ethereum. Kebijakan itu rencananya akan dituangkan di Rancangan Undang-Undang (RUU) Mata Uang Kripto dan Regulasi Mata Uang Digital Resmi.

Di samping itu, beberapa analis juga mengatakan bahwa aksi jual investor tak terbendung setelah pelaku pasar memilih untuk cut-loss.

Situasi pasar kripto yang pesakitan cukup disayangkan mengingat terdapat sentimen positif mengenai rencana adopsi aset kripto ke depan. Salah satunya datang dari lembaga investment bank AS Morgan Stanley yang telah menambah kepemilikan produk dana amanah Bitcoin Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) menjadi 6,62 juta unit.

Cardano Amblas, Koin Metaverse Makin Ngegas

Kemudian, menengok tabel di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa Cardano (ADA) terlihat paling ambyar pada pekan ini. Hal ini terjadi setelah platform investasi eToro tidak akan lagi menyediakan akses transaksi Cardano dan Tron (TRX) bagi penggunanya di AS. Nasib apes Cardano pun menular ke “pembunuh Ethereum” lainnya Polkadot (DOT) yang ikut oleng 15,18%.

Namun, nasib berbeda ditunjukkan oleh koin-koin gaming dan dunia maya. Nilai The Sandbox (SAND), contohnya, melonjak 59,09% dalam sepekan terakhir akibat antusiasme komunitas kripto tentang pembukaan The Sandbox Alpha. Yakni, sebuah rangkaian turnamen game di mana pemain bisa bertanding di 18 laga antara 29 November hingga 20 Desember mendatang.

Selain itu, moncernya performa SAND juga terjadi setelah Adidas mengumumkan kerja sama dengan Coinbase dan The Sandbox untuk membantunya “menjelajahi” potensi bisnis baru di kancah Non-Fungible Token (NFT).

Tak hanya SAND, nilai Decentraland (MANA) juga mencetak pertumbuhan mumpuni pekan ini yakni 7,11%. Bahkan, MANA sempat mencetak rekor tertingginya sepanjang masa di US$5,9 per keping!

Tokcernya nilai MANA disebabkan oleh animo tinggi publik terkait kehidupan maya Metaverse. Seperti diketahui, di dalam Decentraland, pengguna bisa membeli kavling tanah digital yang nantinya bisa dibangun atau disewakan ke pengguna lainnya. Nah, pada Rabu (24/11), nilai penjualan kavling tanah tersebut menyentuh rekor US$2,4 juta. Makanya, tak heran jika permintaan MANA meningkat dan harganya ikut terdongkrak.

Melihat antusiasme tinggi di dunia Metaverse, apakah kamu juga tidak ikut tertarik, Sobat Cuan?

Pasar AS Sepekan

Tak cuma pasar kripto saja yang ketiban apes pada pekan ini. Ketiga indeks saham utama AS pun ternyata ikut terkapar setelah melalui pekan yang bikin ketar-ketir. Pada minggu ini, nilai indeks Dow Jones Industrial Average melorot 2,53%, sementara nilai S&P 500 dan Nasdaq masing-masing lunglai 2,27% dan 2,23%.

Ketiga indeks saham Wall Street terbanting setelah Biden menominasikan kembali Powell sebagai Ketua The Fed dalam empat tahun mendatang. Kabar tersebut bikin pelaku pasar meyakini bahwa bank sentral AS tersebut tak akan mengubah pandangan dan kebijakan moneternya. Alias, tetap ngotot pada pendiriannya untuk melancarkan tapering dan menaikkan suku bunga acuan.

Nah, ketakutan investor atas ancaman pengetatan kebijakan moneter Fed kian kentara menjelang perayaan Thanksgiving. Pada Rabu, AS merilis data inflasi versi pengeluaran masyarakat Personal Consumption Expenditure/PCE) ternyata meningkat 5% di Oktober, atau rekor tertingginya dalam 30 tahun terakhir.

Data PCE sendiri digunakan The Fed untuk menentukan arah kebijakan moneternya ke depan. Makanya, tak heran jika pelaku pasar khawatir bahwa otoritas moneter AS itu akan mengetatkan kebijakan moneternya berbasiskan data tersebut.

Kegalauan investor tersebut pun berujung pada sikap mereka yang tergesa-gesa melego saham-saham raksasa teknologi berkategori growth stocks. Apa alasannya?

Kenaikan suku bunga acuan akan mengerem konsumsi masyarakat dan ekspansi dunia usaha di masa depan, sehingga pertumbuhan ekonomi akan menjadi korbannya. Maka dari itu, tak heran jika pelaku pasar melepas growth stocks yang punya kinerja moncer kala pertumbuhan ekonomi tokcer.

Namun, penderitaan indeks saham AS tidak hanya berhenti di situ saja, Sobat Cuan. Kini, pelaku pasar diliputi kekhawatiran soal pembatasan sosial lanjutan setelah ditemukannya varian virus Corona baru di Afrika Selatan yang diduga punya resistensi antibodi yang lebih kuat dibanding “nenek moyangnya”.

Pembatasan sosial tentu akan menghentikan kegiatan ekonomi, yang nantinya bisa berimbas ke kinerja keuangan emiten-emiten AS. Nah, apakah pembatasan sosial benar-benar akan kembali berjalan pekan depan? Tunggu saja kelanjutannya!

Pasar Emas Sepekan

Harga emas ternyata juga ikutan lesu mengikuti jejak pasar kripto dan pasar modal AS. Setelah mengawali pekan yang mantap di US$1.847,27 per ons, harga emas harus terjungkal 2,95% ke US$1.792,6 per ons di akhir pekan.

Lagi-lagi, penyebabnya adalah ketakutan investor soal pengetatan kebijakan moneter The Fed. Kekhawatiran ini merebak setelah Biden menominasikan Powell sebagai Ketua The Fed dan perilisan CPE yang memperlihatkan bahwa inflasi makin ngamuk.

Sekadar informasi, antisipasi investor atas pengetatan kebijakan moneter akan bikin nilai dua musuh bebuyutan emas, Dolar AS dan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS, kian perkasa.

Di satu sisi, kenaikan nilai Dolar AS akan membuat harga emas lebih mahal bagi investor yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Di sisi lain, kenaikan yield obligasi pemerintah AS akan membuat opportunity cost dalam menggenggam emas semakin mahal. Jadi, jika diibaratkan permainan video game, maka harga emas pekan ini harus pasrah dihantam serangan combo dengan damage yang bertubi-tubi.

Tapi, pelemahan harga emas tertahan oleh sikap beberapa investor yang memilih mengoleksi emas. Ya, nampaknya mereka takut bahwa inflasi di AS tidak akan mereda, sehingga mereka berburu emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven).

Pasar Domestik Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) undur diri di level 6.561,55 poin alias longsor 2,42% dibanding pekan lalu 6.720,26 poin. Kondisi ini cukup ironis, mengingat sang indeks domestik sempat menyentuh rekor tertingginya pada Senin (22/11) yakni 6.723,39 poin.

Pelemahan ini bisa dimaklumi, Sobat Cuan. Sebab, investor nampaknya keburu merealisasikan cuannya melalui aksi profit taking setelah IHSG “pecah telor” di awal pekan. Tetapi, nilai IHSG makin terpuruk setelah pelaku pasar mengantisipasi pengetatan kebijakan moneter The Fed serta ketidakpastian dari sisi regulasi setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkana gugatan uji formil terhadap UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Sekadar informasi, di dalam amar putusannya, MK meminta pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk segera merevisi beleid tersebut dalam dua tahun mendatang. Jika tidak, maka UU lama yang direvisi oleh UU Cipta Kerja akan berlaku kembali. Peristiwa itu pun sontak bikin pelaku pasar enggan menanamkan uang di pasar modal lantaran putusan tersebut akan membuat ketidakpastian iklim ekonomi dari sisi regulasi.

Ibarat peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga”, IHSG pun makin menunjukkan raut cemberut di akhir pekan setelah investor khawatir terhadap gelombang ke-tiga COVID-19 di Indonesia. Sikap waswas ini muncul pasca ditemukannya varian B.1.1.529 yang berasal dari Afrika Selatan dan bikin investor cemas bahwa pemerintah akan kembali meresponsnya dengan pembatasan sosial yang ketat.

Lantas, bagaimana nasib IHSG ke depan di tengah ketidakpastian tersebut? Yuk, ikuti terus perkembangannya di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait