Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

0

Pasar Sepekan: Rusia Tabuh Genderang 'Perang', Market Ikut Bergelombang

Selamat akhir pekan, Sobat Cuan! Akhirnya kamu bisa berakhir pekan setelah mengalami pekan yang bikin dag-dig-dug. Betapa tidak, sorotan hari ini masih berkutat di serangan Rusia ke Ukraina yang bikin pasar gonjang-ganjing. Seperti apa lengkapnya? Yuk, simak Rangkuman Pasar berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Pelaku pasar kripto nampaknya harus mengakhir pekan ini dengan cemberut. Pasalnya, mayoritas aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat harus berujung di zona merah pada akhir pekan ini. Sobat Cuan bisa melihat ringkasannya dalam tabel berikut!

Sepanjang pekan ini, pelaku pasar nampaknya ogah nyemplung ke pasar berisiko, termasuk pasar kripto, lantaran menganggap prospek ekonomi ke depan terbilang amburadul. Wajar saja jika pelaku pasar punya sentimen tersebut mengingat tensi antara Rusia dan Ukraina mencapai titik didihnya pada pekan ini.

Sekadar informasi, Rusia telah melancarkan invasi skala besar ke Rusia pada pertengahan pekan ini, bahkan memporakporandakan infrastruktur militer Ukraina dan menyerang ibu kota Ukraina, Kyiv.

Sebagai imbasnya, panic selling pun terjadi di mana-mana, termasuk di bursa kripto. Namun, kepanikan ini mereda jelang akhir pekan setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan sanksi finansial ke Rusia.

Sanksi tersebut antara lain pemblokiran dua bank terbesar Rusia, Sberbank dan VTB, dari sistem keuangan AS. AS juga membekukan aset-aset milik sejumlah bank Rusia yang terdapat di lingkup sistem finansial AS.

Nah, pelaku pasar yakin bahwa sanksi tersebut akan meningkatkan adopsi aset kripto, utamanya di Rusia dan negara tetangganya.

Pasalnya, hukuman finansial tersebut akan membuat pelaku jasa keuangan atau dunia usaha Rusia untuk mencari sumber pendanaan lain. Salah satunya, mungkin akan berasal dari aset kripto.

Alhasil, potensi adopsi kripto di Rusia berpeluang besar benar-benar akan terjadi. Pelaku pasar pun kian optimistis berkubang di pasar kripto jelang akhir pekan.

LUNA Keluar Sebagai Juara Pekan Ini

Jika menengok tabel di atas, maka Sobat Cuan bisa melihat bahwa Terra (LUNA) keluar sebagai bintang panggung kripto pada pekan ini dengan mencetak pertumbuhan nilai 47,7% dalam sepekan.

Hal ini terjadi setelah pelaku pasar nampaknya kian optimistis dengan LUNA pasca Terra mengumumkan telah menggaet pendanaan US$1 miliar untuk menggunakan BTC sebagai "aset reserve" demi menstabilkan nilai stablecoin-nya yang bernama UST.

Menariknya, pertumbuhan nilai LUNA terbilang jauh lebih kencang dibanding rata-rata pergerakan aset kripto berkapitalisasi pasar jumbo yang rata-rata amblas 7,5% sepekan terakhir.

Hanya saja, jika ditilik per sektornya, kinerja aset kripto secara umum terlihat memble. Bahkan, berdasarkan tabel di bawah ini, tiga dari enam sektor kripto mencetak pelemahan negatif dua digit dalam sepekan, yang terdiri dari sektor Web2, gaming, dan Decentralized Finance (DeFi).

Pasar AS Sepekan

Trio indeks saham AS harus memasuki akhir pekan dengan wajah muram setelah kinerjanya yang tak berarah. Bagaimana tidak, nilai indeks S&P 500 melorot 0,1% sepanjang pekan ini, sementara nilai Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Nasdaq malah terkapar lebih parah masing-masing 0,74% dan 0,16%.

Sama seperti pasar kripto, pergerakan indeks AS terbilang volatil mengikuti perkembangan tensi geopolitik Rusia dan Ukraina.

Pelaku pasar nampaknya masih belum pede menginjakkan kaki ke pasar saham AS lantaran khawatir terhadap dampak ekonomi dari peristiwa tersebut. Mereka pun akhirnya minggat ke duo aset safe haven, Dolar AS dan emas. Di saat yang sama, mereka tampaknya enggan nyemplung ke pasar obligasi pemerintah AS.

Memang, pasar saham AS akhirnya rebound di dua hari terakhir pekan ini. Tetapi, secara teknikal, pergerakan nilai indeks AS, utamanya S&P 500, sejatinya masih berada di area downtrend-nya.

Di akhir pekan, pelaku pasar nampaknya mulai cuek dengan perkembangan invasi Rusia ke Ukraina dan fokus menerka langkah kebijakan bank sentral AS The Fed ke depan.

Kini, investor berspekulasi bahwa The Fed kemungkinan tidak akan agresif dalam mengerek suku bunga acuannya. Maklum, konflik yang berkepanjangan pasti akan membawa ekonomi ke arah ketidakpastian, sehingga The Fed mungkin akan pikir-pikir ulang untuk menormalisasi kebijakannya yang rencananya bakal dilakukan tahun ini.

Jika hal ini memang terjadi, maka aset-aset berisiko seperti saham dan kripto akan siap melanjutkan relinya di beberapa pekan ke depan.

Namun di sisi lain, disrupsi suplai bahan baku dan makanan juga dapat memicu kenaikan inflasi yang lebih parah lagi. Sehingga, pelaku pasar meyakini bahwa The Fed pun nantinya akan terjebak dalam dilema, yakni antara mengendalikan inflasi atau mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian.

Baca juga: Rangkuman Pasar: Nilai LUNA Kian Menawan, IHSG Perkasa di Akhir Pekan

Pasar Emas Sepekan

Harga emas bercokol di Rp907.282 per gram pada Sabtu pukul 07.47 WIB, loncat 1,7% dibanding sepekan sebelumnya.

Nilai sang logam mulia kian mentereng seiring pamornya sebagai aset safe haven kian meningkat di tengah memansanya tensi geopolitik Rusia dan Ukraina. Ya, pelaku pasar memang selalu mengincar emas ketika prospek ekonomi ke depan dirasa penuh ketidakpastian.

Di samping itu, kenaikan harga emas juga ditopang oleh sikap pelaku pasar yang makin mengkhawatirkan inflasi. Maklum, investor memang doyan memburu emas sebagai aset pelindung kekayaan di kala inflasi diramal kian meradang.

Kecemasan investor bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, mereka bercermin dari kenaikan harga minyak dunia, yang bahkan sempat menembus US$100 per barel, dan potensi terjadinya disrupsi rantai pasok sebagai imbas dari invasi Rusia ke Ukraina.

Baca juga: Kabar Sepekan: Rusia Kena Sanksi Bejibun, Harga Minyak Naik ke Ubun-Ubun

Pasar Domestik Sepekan

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini bisa dibilang cukup menarik.

Sejatinya, pertumbuhan mingguan IHSG terbilang biasa-biasa saja. Sang indeks domestik menutup sesi perdagangan Jumat (25/2) di level 6.888,17 poin, melorot 0,07% dibanding sepekan sebelumnya. Namun, menariknya, IHSG sempat sukses mencetak rekor tertingginya 6.929,21 poin pada pertengahan pekan ini!

Kinerja pasar domestik memang sejatinya berfluktuasi gara-gara sentimen serangan Rusia terhadap Ukraina.

Pada awalnya, pelaku pasar memang melakukan panic selling lantaran khawatir bahwa tensi geopolitik di Eropa akan memperburuk prospek ekonomi ke depan. Namun, kekhawatiran tersebut mereda menuju akhir pekan atas beberapa alasan.

Pertama, tensi geopolitik tersebut telah mengerek harga-harga komoditas seperti minyak dunia, batu bara, tembaga, hingga nikel. Nah, hal ini sejatinya menjadi berkah mengingat Indonesia adalah salah satu eksportir Sumber Daya Alam terbesar dunia. Terlebih, sebagian besar emiten yang terdaftar di bursa domestik adalah perusahaan pertambangan.

Kedua, pelaku pasar menganggap bahwa negara barat tampaknya tak akan ikut campur dengan perkara Rusia dan Ukraina.

Sejauh ini, AS dan Uni Eropa hanya memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan belum mengumumkan keterlibatannya secara langsung di konflik Rusia-Ukraina. Pelaku pasar melihat hal tersebut sebagai indikasi bahwa perselisihan Eropa masih hanya akan melibatkan Rusia dan Ukraina semata, sehingga dampak ekonomi yang timbul mungkin bersifat terbatas.

Dari ketakutan akan tensi geopolitik yang memanas, investor asing kian getol memborong saham-saham domestik hingga Rp4,41 triliun sepanjang pekan ini.

Investor asing nampak melahap saham big cap seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Di sisi lain, mereka justru berbondong-bondong melepas saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES).

Analisis Teknikal IHSG

Secara teknikal, IHSG gagal untuk memecahkan level resistance-nya lagi di 6.890 pada pekan ini. Lagi-lagi, hal ini dibsebakan oleh naik-turun isu geopolitik Rusia danUkraina yang memanas pada kamis kemarin.

Jika IHSG dapat ditutup di atas level 6.890, maka Sobat Cuan kemungkinan besar akan melihat level 7.000 dalam waktu dekat.

Sementara itu, support terdekat IHSG sendiri jatuh di level 6.800 dan 6.754. Berkaca pada hal ini, Pluang berpandangan bahwa pergerakan IHSG seharusnya bisa terus reli ke level 7.000 pekan depan. Selain itu, saham-saham yang bakal menopang laju IHSG adlaah sektor perbankan berkapitalisasi jumbo, pertambangan, minyak dan juga sawit.

Hanya saja, Sobat Cuan yang ingin masuk di sektor konsumer mungkin bisa lebih waspada. Pasalnya, harga bahan baku seperti minyak sawit, gula, coklat dan kopi terus meroket. Jika kenaikan harga bahan baku ini akan berlanjut, maka cuan perusahaan konsumer bakal terkikis dan pangsa pasarnya akan tergerus.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait