Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Pasar Sepekan: Konsumsi 'Asupan Bergizi', Kripto Hingga IHSG Unjuk Gigi!
shareIcon

Pasar Sepekan: Konsumsi 'Asupan Bergizi', Kripto Hingga IHSG Unjuk Gigi!

25 Jun 2022, 3:00 AM·Waktu baca: 6 menit
shareIcon
Kategori
Pasar Sepekan: Konsumsi 'Asupan Bergizi', Kripto Hingga IHSG Unjuk Gigi!

Selamat akhir pekan, Sobat Cuan! Wah, tanggal muda kali ini memang sesuatu ya. Selain dapat gajian, kamu pasti bergelimang cuan karena market kripto, saham Amerika Serikat (AS), dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau pekan ini. Apa sih sebabnya? Simak di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Setelah melalui berbagai dinamika pekan lalu, aset kripto ternyata sanggup menunjukkan taringnya di pekan ini. Sebab, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau sepanjang tujuh hari terakhir.

Sebenarnya, sentimen pasar kripto pekan ini masih diliputi ketidakpastian.

Dari sisi makroekonomi, pelaku pasar langsung mencerna komentar Ketua The Fed Jerome Powell yang berujar bahwa otoritas moneter AS tersebut akan tetap ngebet mengerek suku bunga acuan demi mengekang inflasi. Meski memang, ia juga menyadari aksi tersebut bisa saja mengantar ekonomi AS ke jurang resesi.

Sementara itu, kabar tidak sedap lainnya juga datang dari jaringan kripto.

Pada pekan ini, pelaku pasar sempat panik setelah jaringan lapis 1 blockchain milik jaringan Harmony, Horizon, diretas dan menimbulkan kerugian hingga US$100 juta.

Di samping itu, platform exchange kripto berjangka CoinFLEX juga mengumumkan penghentian sementara proses penarikan (withdrawals) karena "kondisi pasar yang ekstrem". Sebelumnya, pada pekan lalu, platform pinjam-meminjam aset kripto Celsius juga melakukan aksi serupa dan atas alasan yang "sebelas-dua belas".

Hanya saja, pelaku pasar sepertinya cuek dengan rentetan kabar tersebut. Selain itu, pelaku pasar nampaknya juga cepat melakukan priced in terhadap komentar Powell terkait suku bunga acuan. Kok bisa begitu?

Jika dilihat secara makroekonomi, maka pergerakan aset kripto pekan ini merupakan relief rally setelah terjun bebas pekan lalu. Ada kemungkinan, pelaku pasar sudah mulai bosan mendengar kabar buruk bertubi-tubi yang menyerang pasar kripto.

Hal ini juga terjadi dengan indeks saham AS. Maklum, korelasi BTC dengan indeks Nasdaq kini sudah mendekati 1:1.

Lebih lanjut, jika Sobat Cuan menengok tabel di atas, maka kamu bisa melihat bahwa Solana (SOL) menjadi juara utama pasar kripto sepekan terakhir.

Nilai SOL melesat setelah jaringan mengaku tengah mengembangkan ponsel pintar berbasis Web3 dengan sistem operasi Android bernama Saga. 

Ponsel tersebut tidak hanya berlagak seperti ponsel pintar pada umumnya, namun juga dilengkapi oleh dompet kripto dan piranti lunak Solana Mobile Stack yang bisa digunakan untuk membangun program-program Web3. Rencananya, Saga bakal diluncurkan awal 2023 mendatang dan dibanderol US$1.000 per unitnya.

Analisis Teknikal BTC

Jika dilihat dari sisi teknikal, BTC sendiri memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya sampai ke area US$22.400 hingga US$22.700 pada pekan mendatang.

Namun, Pluang menganggap, kenaikan harga kripto yang terjadi pekan ini hanyalah semu lantaran persentase kenaikannya tidak sebanding dengan penurunannya pekan lalu. Akibatnya, beberapa trader pun makin malas untuk mengakumulasi BTC di level saat ini.

Adapun support BTC akan berada di level US$19.800 per keping. Jika harga BTC tenggelam di bawah level tersebut, maka jangan kaget jika sang raja aset kripto bakal terus melorot ke level US$17.800 hingga US$18.000.

Baca Juga: Pluang Insight: Benarkah Kripto Dihantam 'Musim Dingin'? Bagaimana Menghadapinya?

Pasar Internasional Sepekan

Serupa dengan pasar kripto, pasar saham AS ikut tampil gemilang pekan ini setelah terjatuh selama tiga pekan beruntun. Nilai indeks Dow Jones menguat 2,7% selama sepekan terakhir, sementara nilai indeks S&P 500 dan Nasdaq melompat lebih tinggi masing-masing 3,1% dan 3,3% di waktu yang sama.

Uniknya, performa gemilang S&P 500 pekan ini menjadi performa terbaik kedua yang ia bukukan sepanjang tahun ini.

Trio indeks Wall Street menguat setelah Powell menegaskan kembali komitmennya untuk meredam inflasi yang menjadi momok ekonomi AS selama setahun terakhir.

Meski The Fed bakal membombardir inflasi dengan kenaikan suku bunga acuan, namun pelaku pasar setidaknya yakin bahwa inflasi AS akan redup total. Hasilnya, mereka semakin pede untuk berkubang di pasar berisiko.

Hanya saja, pelaku pasar tetap harus waspada. Pasalnya, imbal hasil obligasi AS bertenor pendek kini sudah lebih tinggi dibanding produk serupa untuk tenor jangka panjang. Nah, kondisi yang umum dijuluki inverted yield curve tersebut merupakan sinyal-sinyal resesi.

Apalagi, data ekspektasi inflasi konsumen dari University of Michigan berada di level tertingginya dalam 14 tahun terakhir. Sehingga, potensi The Fed untuk mengerek suku bunga acuan secara ekstrem terbuka lebar.

Pluang menganggap, pergerakan indeks AS saat ini pun bisa dibilang short-term bear rally atau yang dikenal sebagai relief rally saja. Sebab faktanya, seluruh perkataan dari Powell sebenarnya hanya menambah berita buruk bagi untuk ekonomi AS. Sehingga, pelaku pasar perlu mencermati testimoni Powell berikutnya pada Rabu pekan depan. 

Selain itu, pelaku pasar juga perlu mengantisipasi earnings season yang perlahan dirilis Juli mendatang. Pasalnya, di kesempatan tersebut, investor dapat menilai bagaimana daya tahan emiten AS terhadap serangan inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga acuan AS selama ini.

Pasar Emas Sepekan

Harga emas bertengger di US$1.826,83 per ons, melemah 0,77% dibanding posisi akhir pekan lalu US$1.840 per ons.

Sepanjang pekan ini, nilai sang logam mulia memudar setelah dua musuh sengitnya, nilai Dolar AS dan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS, menunjukkan keperkasaannya.

Sekadar informasi, kenaikan nilai Dolar AS membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pelaku pasar yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Sementara kenaikan yield obligasi pemerintah AS akan membuat opportunity cost dalam menggenggam emas menjadi relatif lebih mahal.

Di samping itu, pelaku pasar juga menghindari pasar emas setelah Powell berkomitmen untuk terus membantai inflasi bersenjatakan kenaikan suku bunga acuan "apapun kondisinya". Bahkan, ia menambahkan kondisi ekonomi AS saat ini "masih cukup kuat" untuk menahan efek samping dari kenaikan suku bunga tersebut.

Namun, beberapa analis mengatakan, permintaan emas di jangka panjang kemungkinan akan terus terdongkrak menyusul kecemasan pelaku pasar atas resesi ekonomi. Ya, kenaikan suku bunga acuan The Fed yang terlampau agresif dikhawatirkan akan menyumbat pertumbuhan konsumsi dan investasi, dua motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Kabar Sepekan: The Fed Siap Kerek Bunga dengan 'Lebay', BI Malah Memilih 'Nyantai'

Pasar Domestik Sepekan

Jika dibanding kinerja kripto dan saham AS terlhat sangat kinclong, maka kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat culun. Sang indeks domestik mengakhiri perdagangan pekan ini dengan bertengger di level 7.042,94, menguat 1,5% dibanding sepekan sebelumnya.

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuannya di angka 3,5% menjadi "obat kuat" yang paling utama bagi keperkasaan IHSG pekan ini. Otoritas moneter itu terbilang nekat mengambil langkah tersebut meski The Fed berkomitmen untuk terus mengerek suku bunga acuannya demi mencabik-cabik tingkat inflasi AS yang meradang.

BI mengambil langkah tersebut dengan menimbang tingkat inflasi yang diperkirakan bakal berada dalam rentang 2% hingga 4% hingga akhir tahun nanti. Nah, dengan inflasi yang diperkirakan tetap rendah, investor berharap tingkat konsumsi tidak akan terganggu. Selain itu, pelaku pasar memandang keputusan tersebut sebagai kelanjutan komitmen BI untuk fokus memulihkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Dengan demikian, Indonesia bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas yang terjadi saat ini dengan maksimal. Perlu diingat bahwa sebagian besar konsumsi domestik berasal dari mereka yang bekerja pada sektor komoditas, seperti perkebunan kelapa sawit ataupun batu bara. Selain itu, kinerja ekspor Indonesia juga sangat tergantung dengan hasil ekstraksi Sumber Daya Alam (SDA).

Lebih lanjut, jika dilihat dari sisi sektoral, maka saham sektor konsumer menjadi bintang utama panggung pasar modal pekan ini. Laju saham sektor konsumer dipimpin oleh kenaikan harga saham PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA) masing-masing sebesar 14,4% dan 10,8% sepanjang minggu ini.

Kedua saham tersebut bergerak lincah setelah Singapura berniat akan membuka keran impor daging ayam dari Indonesia. Menariknya, ini adalah kali pertama Indonesia bisa mengekspor daging ayam ke Negara Singa tersebut.

Kendati demikian, nilai dan volume ekspor daging ayam Indonesia ke Singapura mungkin tak seberapa. Maklum, populasi Singapura saja tak setara dengan jumlah penduduk DKI Jakarta.

Tapi, tetap saja, harga ayam broiler yang bertengger di Rp21.500 per kilogram (kg) dan bibit ayam (day-old chick) yang makin langka diharapkan mengantar peternak untuk membukukan profit lebih tinggi pada kuartal III mendatang.

Asing Lancarkan Aksi Ambil Untung

Meski IHSG sukses mendarat di zona hijau, investor asing malah terlihat berbondong-bondong melakukan aksi ambil untung (profit taking). Sepanjang pekan ini, asing mencatat nilai jual bersih (net foreign sellsebesar Rp4,2 triliun.

Mereka terlihat paling banyak melego saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).

Kuat dugaan, asing menjual saham domestik dan membawa hasil untungnya "pulang kampung" ke AS. Hal ini tercermin dari nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang terpuruk dan kini berada di Rp14.835 per Dolar AS.

Meski demikian, terdapat sebagian pelaku pasar asing yang masih doyan mengoleksi saham domestik. Mereka memborong saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan juga PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). 

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 90 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Ditulis oleh
channel logo

Marco Antonius

Right baner

Marco Antonius

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
weekly news
Pasar Sepekan: Rusia Tabuh Genderang 'Perang', Market Ikut Bergelombang
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1