Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Memahami US Debt Ceiling dan Dampaknya bagi Investasi
shareIcon

Memahami US Debt Ceiling dan Dampaknya bagi Investasi

4 Jul 2023, 8:24 AM·Waktu baca: 4 menit
shareIcon
Kategori
US Debt Ceiling

US Debt Ceiling adalah salah satu gejolak politik AS yang mempengaruhi investasi. Apa alasannya? Simak selengkapnya di sini!

Apa itu US Debt Ceiling?

Ambang batas penarikan utang AS (US Debt Ceiling) adalah jumlah maksimal utang yang bisa ditarik secara kumulatif oleh pemerintah AS melalui penerbitan surat utang. Ketentuan tersebut diatur di dalam Undang-Undang (UU) Second Liberty Act yang dirilis 1917 silam.

Ketentuan ini dimaksudkan agar pemerintah AS masih bisa menarik pinjaman untuk membiayai anggaran belanjanya. Namun, di saat yang sama, hal itu diharapkan tidak pula membebani kesehatan keuangan pemerintah AS.

Tetapi, seiring membengkaknya defisit anggaran pemerintah AS, maka kongres AS pun rutin menaikkan pagu utang pemerintah antar waktu. Sejak 1960, kongres AS tercatat sudah menaikkan US Debt Ceiling sebanyak 78 kali dan per 2023, ambang batas utang yang berlaku adalah US$31,4 triliun.

Jika pemerintah AS terus menarik utang hingga mendekati ambang batasnya, maka Departemen Keuangan AS harus mencari cara lain untuk menunaikan pelunasan utangnya.

Baca Juga: Rasio Utang Terhadap PDB

Mengapa US Debt Ceiling Diberlakukan?

Apabila ditilik dari sejarahnya, aturan US Debt Ceiling muncul ketika pemerintah AS tengah menghimpun pendanaan demi membiayai Perang Dunia I pada 1917 silam.

Kala itu, pemerintah AS menerbitkan obligasi pemerintah pertama bernama Liberty Bond dengan imbal hasil 3,5%, alias jauh di bawah imbal hasil surat utang lain, demi membiayai Perang Dunia I. Surat utang itu bertenor 30 tahun dengan catatan khusus dapat dibeli kembali oleh pemerintah setelah 15 tahun.

Memanfaatkan rasa patriotisme warga negaranya, surat utang dengan yield murah itu berhasil menghimpun dana sebanyak US$2 miliar. Akan tetapi, penjualan Liberty Bond tidak semulus harapan Departemen Keuangan AS.

Kemudian, demi menghimpun dana lebih banyak lagi, pemerintah AS pun kemudian menerbitkan Liberty Bond kedua dengan tingkat imbal hasil lebih tinggi, yakni 4%. Hanya saja, penerbitan surat utang itu juga dibarengi dengan UU Second Liberty Act yang menegaskan bahwa pemerintah AS wajib membatasi penarikan utangnya sebesar US$15 miliar.

Aturan tersebut dimaksudkan agar pemerintah AS bisa bertanggung jawab secara fiskal. Selain itu, US Debt Ceiling juga ditetapkan agar proses penerbitan surat utang menjadi lebih mudah. Selama masih dalam pagu yang ditetapkan, obligasi pemerintah AS masih bisa diterbitkan pemerintah tanpa memerlukan persetujuan kongres.

Hanya saja, seiring waktu, berutang sudah jadi tradisi pemerintah AS yang terlena dengan defisit anggaran selama puluhan tahun. Pasalnya, jika pemerintah tidak menaikkan pagu utangnya, maka pemerintah AS berpotensi tidak bisa menarik utang untuk melunasi utang-utang sebelumnya. Pada akhirnya, pemerintah AS pun akan terjebak pada kondisi gagal bayar utang (default).

Lantas, apa yang terjadi jika AS terjebak dalam kondisi gagal bayar utang? Dan apa dampaknya ke dunia investasi?

Bagaimana Dampak Gagal Bayar Utang Pemerintah AS?

1. Peringkat Utang AS Turun

Dampak gagal bayar utang pemerintah secara umum akan memengaruhi peringkat utang. Semakin rendah peringkat utang, maka akan semakin mahal biaya dananya. Akan tetapi, jika hal ini sampai terjadi pada pemerintah AS, maka dampaknya akan semakin meluas.

Tanpa pembiayaan ekstra, pemerintah AS akan kesulitan dalam membiayai anggaran-anggaran yang ditujukan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonominya. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi AS bisa menjadi taruhannya. Bahkan, firma analis kredit Moody's Analytics memprediksi bahwa Pendapatan Domestik Bruto (PDB) AS bisa tergerus 4% jika pemerintahnya gagal bayar utang.

2. Arus Modal Keluar dari AS

Penurunan peringkat utang pemerintah AS akan menurunkan kepercayaan investor. Pada akhirnya, hal itu akan menyebabkan arus modal keluar dari pasar modal AS dan membuat gejolak di pasar finansial. Bahkan, arus modal yang kencang itu pun bisa menurunkan nilai tukar Dolar AS terhadap mata uang lain.

Hal ini sempat terjadi pada 2011 lalu, di mana Mantan Presiden AS Barack Obama dan Dewan Legislatif AS hampir tidak mencapai kata sepakat untuk mengerek US Debt Ceiling. Akibatnya, nilai saham-saham berguguran dan pasar modal mengalami volatilitas yang kencang.

Nah, sebenarnya, hal inilah yang sangat ditakutkan investor dari permasalahan ambang batas utang. Pasalnya, jika pemerintah AS sampai terpapar default, maka nilai portofolio mereka di pasar modal juga ikut terguncang.

3. Instabilitas Politik

Kongres kerap menggunakan US Debt Ceiling sebagai salah satu instrumen politik, yakni alat tawar-menawar dengan pemerintah. Tiap kali proses ini berjalan alot, pemerintah AS yang kehabisan dana untuk menjalankan pemerintahannya mengalami government shutdown alias kelumpuhan pemerintahan.

Hanya saja, shutdown tersebut akan membuat jutaan pekerja federal AS luntang-lantung tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan selama beberapa waktu. Hal ini, tentu saja, akan berimbas negatif ke pertumbuhan ekonomi AS.

Salah satu kasus shutdowns terlama di tahun 2013, yakni ketika pemerintah AS lumpuh selama 16 hari lantaran kongres meminta pembiayaan program Obama Care dibatalkan sebagai syarat diluluskannya kenaikan pagu anggaran.

Apakah AS Selalu Berhasil Mengatasi Masalah US Debt Ceiling?

Jawabannya adalah ya. Kongres AS umumnya selalu menuruti kemauan pemerintah untuk menaikkan pagu utang lantaran menyadari dampak ekonomi negatif dari kondisi default. Meski memang, keputusan itu selalu didahului oleh drama politik dan diputuskan menjelang beberapa saat sebelum default benar-benar terjadi.

Hanya saja, kenaikan US Debt Ceiling akan meningkatkan rasio utang pemerintah AS. Para ekonom memprediksi bahwa rasio utang AS akan mencapai 181% dari PDB di 2053 alias melesat dari 107% di 2023.

Baca Juga: APBN

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi Saham ASindeks saham ASemas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Investopedia, CNN

Ditulis oleh
channel logo

Fathia Nurul Haq

Right baner

Fathia Nurul Haq

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
investasi
Sobat Cuan, Begini Lho Cara Jitu Screening Saham Favoritmu!
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1