Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Pasar: Investor Masih 'Bulan Madu', Kripto & IHSG Masih Melaju!

Selamat sore, Sobat Cuan! Pelaku pasar kembali tersenyum senang di Kamis sore (16/6) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aset kripto kompak melaju ke zona hijau. Mengapa dua market tersebut terlihat semringah? Simak selengkapnya di sini!

IHSG

Investor Cerna Data Fed, IHSG Anti Kepeleset!

IHSG undur diri dari sesi perdagangan Kamis di level 7.050,32 poin atau tumbuh 0,62% dibanding kemarin. Dewi Fortuna tampaknya masih berada di sisi IHSG, terbukti dari pergerakan nilainya yang sukses mengambang di zona hijau seharian.

Tak dapat dipungkiri, penguatan IHSG kali ini pun tak lepas dari sentimen eksternal, utamanya dari pengumuman kebijakan moneter The Fed pagi tadi.

Ya, pejabat The Fed memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 75 basis poin tadi pagi, lebih tinggi dari prakiraan semula yakni 50 basis poin. Mereka menempuh langkah tersebut demi menjinakkan inflasi AS, yang pada Mei lalu menyentuh 8,6% secara tahunan.

Pengumuman tersebut seharusnya bikin panik pelaku pasar, seperti yang terjadi di masa lampau. Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan imbal hasil instrumen berpendapatan tetap. Alhasil, investor pun bakal memalingkan wajah dari pasar modal.

Namun, investor perlahan tenang setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa otoritas moneter tersebut hanya akan mengerek suku bunga acuan dengan kencang "di awal".

Pelaku pasar menangkap komentar tersebut sebagai sinyal bahwa The Fed hanya akan mengetatkan kebijakan moneter untuk sementara dan tidak berencana mengerek suku bunganya secara agresif di jangka panjang. Akibatnya, mereka kembali optimistis berkubang di pasar modal.

Memang, kenaikan suku bunga acuan seharusnya mendorong capital outflow dari pasar modal Indonesia, seperti yang terjadi pada 2013 silam. Namun, pelaku pasar dan analis percaya, ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih kuat dan mampu menghalau dampak buruk dari pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Sebagai contohnya, saat ini kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) sudah berada di angka 17%. Selain itu, cadangan devisa Indonesia pun masih mumpuni untuk menahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Kendati demikian, tetap saja ada sentimen negatif yang mengerubungi pasar modal domestik. Kali ini, sentimen tersebut datang dari data penjualan ritel China yang merosot tajam 7% secara bulanan di Mei.

Pelemahan daya beli masyarakat China tentu akan berdampak ke kinerja manufaktur tanah air. Maklum, China merupakan salah satu mitra negara ekspor utama Indonesia.

Asing Kembali Lancarkan Aksi Beli

Cerahnya cuaca di atas IHSG hari ini pun mendorong pelaku pasar asing untuk memborong saham-saham domestik. Hal itu tercermin dari nilai beli bersih asing (net foreign buy) sebesar Rp392,14 miliar sepanjang hari ini.

Mereka terlihat getol memborong saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp313,6 miliar. Tak ketinggalan, mereka juga mengoleksi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) masing-masing Rp138 miliar dan Rp36 miliar.

Di sisi lain, mereka malah melepas paling banyak saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp103,6 miliar. Selain itu, asing juga melakukan "cuci gudang" saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) masing-masing Rp62,2 miliar dan Rp60,8 miliar.

Baca juga: Rangkuman Pasar: Investor Mulai Panik, Kripto & IHSG Makin 'Tercekik'

Aset Kripto

Kripto Masih Betah di Zona Hijau

Seolah tak mau kalah, aset kripto pun menunjukkan performa kinclongnya di Kamis sore. Melansir Coinmarketcap pukul 15.24 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar masih betah nongkrong di zona hijau dalam 24 jam terakhir.

Meski terlihat bergairah hari ini, aset kripto sejatinya masih belum bangkit sepenuhnya. Pasalnya, jika Sobat Cuan melihat laju harga kripto selama sepekan ke belakang, maka mereka sejatinya masih terjebak dalam zona merah.

Seperti yang telah diketahui, pelaku pasar perlahan tenang untuk masuk ke pasar aset berisiko setelah The Fed mengumumkan kebijakan moneternya tadi pagi.

Adapun sumber ketenangan mereka adalah kepastian bahwa The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 hingga 75 basis poin pada rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) bulan depan. Selain itu, dalam konferensi persnya, Powell juga memberi sinyal bahwa The Fed hanya akan mengetatkan kebijakan moneter ekstrem untuk sementara waktu saja.

Pasar kripto menyambut hangat sinyal positif tersebut. Pasalnya, komentar Powell tersebut setidaknya memberi kejelasan terkait arah kebijakan moneter The Fed dalam jangka pendek. Terang saja, kabar tersebut pun menjadi angin segar yang membuat investor kembali optimistis ke pasar kripto.

Kendati demikian, pelaku pasar saat ini diliputi kegelisahan terkait apakah harga aset kripto sekarang sudah benar-benar mencapai bottom atau belum. Kecemasan inilah yang menghalangi mereka untuk sepenuhnya optimistis melakukan aksi akumulasi secara masif.

Pelaku pasar pun berkaca pada peristiwa Bitcoin crash yang terjadi 2013 hingga 2015 lalu. Sekadar informasi, harga BTC di November 2013 sempat menyentuh US$1.100 per keping dan kemudian hancur berkeping-keping 85% ke US$172 per keping di Januari 2015.

Sementara itu, saat ini harga BTC yang mendekati US$22.000 ternyata "baru" susut sekitar 67% dari level tertinggi BTC sepanjang masa yakni sekitar US$68.000. Sehingga, pelaku pasar mengira bahwa harga BTC bisa jadi berpeluang untuk terjun lebih dalam lagi dengan nilai persentase penurunan yang menyamai peristiwa crash 2013 silam.

Nah, takut bahwa sejarah akan terulang kembali, pelaku pasar pun memilih untuk tidak terlalu all out meski The Fed telah memberikan petunjuk kebijakan moneternya.

Selain itu, aksi derisking pelaku pasar tampaknya masih bakal menjadi tema besar di pasar kripto hingga situasi makroekonomi mulai kembali kondusif. Bahkan, sikap pelaku pasar tersebut nampaknya kian kentara di kuartal ini.

Data terbaru Coinmetrics menunjukkan bahwa total suplai stablecoin menyusut untuk pertama kalinya dalam sejarah sepanjang kuartal II 2022. Ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar memang mencari jurus untuk melindungi portofolionya dari risiko. Maklum, stablecoin adalah aset digital yang dianggap punya nilai cukup stabil dibanding aset kripto pada umumnya.

Baca juga: Pluang Pagi: The Fed Beri Sinyal Positif, Kripto & Saham AS Bergerak Agresif!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 90 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait