Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 4 menit

View
0

Lebih Baik Investasi Saham Tunggal, Indeks, Atau Reksa Dana Saham?

Investasi di instrumen saham banyak jenisnya. Namun, di antara investasi indeks, saham tunggal, dan reksa dana saham, mana yang sebaiknya perlu dipilih oleh investor pemula?

Investor bisa berinvestasi secara murah dan nyaman untuk mendapatkan eksposur dari pasar saham dengan menempatkan uang di reksa dana atau indeks. Pada umumnya, manajer investasi, sebagai pengelola reksa dana, bisa memberikan eksposur terhadap satu kelas aset tertentu ke investor secara lebih efisien ketimbang investor individu.

Sebagai contoh, Sobat Cuan bisa membeli produk indeks S&P 500 di Pluang untuk mendapatkan eksposur atas kinerja indeks S&P 500 secara keseluruhan daripada membeli masing-masing 500 saham yang terdapat di indeks tersebut. Hal ini juga berlaku di pasar modal dalam negeri. Daripada kamu membeli seluruh 30 saham perusahaan berkapitalisasi pasar di Indonesia, mengapa tidak menaruh uang saja di reksa dana saham, misalnya produk Batavia Dana Saham, di Pluang?

Lagipula, jika Sobat Cuan menengok grafik di bawah ini, performa indeks IDX30 juga masih sejalan dengan pergerakan saham emiten raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). 

Tapi, ada beberapa keuntungan yang kamu dapatkan ketika berinvestasi di saham secara langsung!

Keuntungan Investasi Saham Langsung

1. Investasi Secara Terkonsentrasi

Memilih saham-saham pilihanmu sendiri dapat membantumu untuk berkonsentrasi terhadap satu sektor atau perusahaan tertentu, di mana kinerjanya kamu percaya bisa mengungguli performa pasar secara keseluruhan.

Terdapat beberapa gaya dan prinsip dalam memilih saham. Pengelola dana global (hedge fund) cenderung memilih beberapa saham tertentu saja. Sementara itu, investor yang memusatkan diri untuk menganalisa bagaimana dampak keadaan makroekonomi terhadap saham bisa  memilih saham-saham yang bergerak di sektor yang sangat dipengaruhi kebijakan moneter, misalnya saham perbankan yang tokcer akibat kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing).

Di sisi lain, momentum investors akan  mengamati pergerakan dan aliran dana ke suatu saham tertentu. Jika dana investor mengalir kencang ke sebuah saham, tentu harga aset tersebut akan menanjak terlepas dari sisi fundamentalnya. 

Apa pun gaya investasi investor, berinvestasi saham tunggal disertai dengan risiko. Beberapa investor mungkin melakukan diversifikasi portofolio dengan memilih beberapa perusahaan berbeda yang dia rasakan akan menunjukkan kinerja terbaik dan bukan dengan mengatur alokasi portofolio berdasarkan kapitalisasi pasar. 

2. Punya Kendali Penuh Atas Keluar-Masuk Pasar

Berinvestasi langsung di saham bisa memberikanmu kendali penuh untuk masuk dan keluar pasar. Ketika melakukan hal ini, kamu mungkin bisa memanfaatkan bantuan seperti tipe-tipe order seperti limits, stops, dan trailing stops demi menentukan titik masuk dan keluar yang benar-benar tepat agar keuntungan maksimal. 

Sebagai contoh, jika kamu berhasil membeli saham dengan harga 2% lebih baik dibanding yang lain dan menjualnya kembali dengan harga 2% lebih baik dibanding lainnya, maka kamu bisa mendapatkan tambahan imbal 4%. Nilai ini sudah setara dengan rerata imbal hasil indeks S&P 500 selama tiga hingga empat bulan yang terlihat dalam lima tahun terakhir.

3. Investasi Saham adalah Hal Seru

Berinvestasi saham adalah hal yang menyenangkan. Layaknya menonton tim olahraga favoritmu bertanding, memantau kinerja perusahaan favoritmu juga bisa menjadi sebuah "hiburan" yang menyenangkan. Keseruan ini tak akan kamu dapatkan jika kamu berinvestasi secara pasif.

Mengamati pasar saham akan semakin lebih seru jika kamu sudah memilih perusahaan jagoanmu. Banyak investor menikmati proses memilih perusahaan yang mereka yakini akan berjaya di masa depan.

Risiko Investasi Saham Secara Langsung

Kendati menyenangkan, namun investasi saham secara langsung memiliki risikonya tersendiri.

1. Risiko Overtrading dan Mistiming

Salah satu risiko utama bermain saham secara langsung adalah  terlalu banyak melakukan jual-beli (overtrading) dan melakukan kesalahan dalam menentukan waktu jual-beli saham (mistiming). Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa kamu bisa kehilangan hampir dari sepertiga potensi cuanmu jika kamu melewatkan lima hari terbaik dalam bull run 30 tahun terakhir.

2. Diversifikasi yang Tidak Optimal

Jika kamu berinvestasi saham tunggal maka kamu telah memilih untuk menempatkan danamu secara terkonsentrasi dalam beberapa nama saja apabila dibandingkan dengan indeks saham yang mengikuti kinerja banyak perusahaan. Sehingga kamu akan cenderung lebih berisiko dibandingkan reksadana yang alokasinya mengikuti kapitalisasi pasar dalam indeks saham. Ini merupakan kekurangan investasi saham langsung jika dibandingkan investasi reksa dana saham atau investasi indeks, di mana kamu mendapatkan eksposur atas kinerja saham-saham dari sektor beragam.

Kamu perlu yakin dan percaya bahwa pengetahuan investasimu memang akan memungkinkanmu mendulang imbal hasil yang lebih baik dari kinerja pasar secara keseluruhan dengan mempertimbangkan bahwa kamu telah menanggung risiko yang lebih tinggi dibandingkan pasar. 

3. Berinvestasi Pakai Emosi

Bermain saham bisa sangat melelahkan secara psikologis. Terkadang, jika kamu menderita kerugian dari bermain saham, maka kamu akan cenderung bertindak secara tidak rasional.  Misalnya, karena sudah terbakar sebelumnya kamu  jadi enggan berinvestasi padahal pasar akan cerah dan sebaliknya terlalu berapi-api dan malah investasi kebanyakan sesaat sebelum pasar berubah mendung.

Nah, berinvestasi saham tidak akan terlalu membebani pikiranmu untuk selalu mengatur strategi apabila kamu memilih reksadana saham atau berinvestasi langsung di indeks saham, apalagi jika kamu melancarkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA).

4. Kesulitan untuk Terus Mengalahkan Kinerja Pasar

Pada kenyataannya, akan terus sulit untuk selalu terus-menerus mengalahkan kinerja pasar. Sehingga ada baiknya kamu melakukan strategi beli dan tahan (buy-and-hold) terhadap produk indeks saham atau reksadana saham. Ini dikarenakan pasar sekarang lebih cepat dan efisien untuk menyerap kabar sehingga sulit untuk memiliki keunggulan yang bisa mengalahkan pasar sebab harga pasar sekarang akan lebih cepat bereaksi terhadap perkembangan terbaru (priced in).   

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?