Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 5 menit

View
0

7 Risiko Utama Investasi Saham

Karena saham mewakili kepemilikan dalam perusahaan, maka kinerja saham sangat tergantung dengan perkembangan perekonomian, kondisi sektor usaha, dan faktor-faktor lain yahg mempengaruhi keadaan perusahaan tersebut.Tujuh risiko utama yang dihadapi adalah risiko ekonomi, risiko dari perubahan kebijakan makroekonomi, risiko sektor usaha atau industri, risiko persaingan usaha, risiko usaha, risiko waktu masuk-keluar pasar, dan risiko likuiditas.

Risiko Berkaitan dengan Ekonomi

1. Risiko Ekonomi

Perusahaan, konsumen, dan pemerintah adalah para pemain utama dalam perekonomian manapun. Sehingga keadaan perekonomian secara keseluruhan akan mempengaruhi tingkat permintaan agregat terhadap barang dan jasa yang pada akhirnya akan berdampak pada keuntungan perusahaan.

Sebagai contoh, pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh belahan dunia membuat kegiatan perekonomian terhenti dan memaksa banyak perusahaan untuk akhirnya gulung tikar. Sebaliknya ketika pertumbuhan ekonomi sedang panas dan bertenaga, perusahaan-perusahaan tersebut berpeluang besar untuk mendongkrak labanya.

2. Risiko Perubahan Kebijakan Makroekonomi

Risiko ini datang dari perubahan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

Kebijakan fiskal akan mempengaruhi perusahaan melalui dua cara. Pertama, ukuran anggaran pemerintah sangat mempengaruhi tingkat permintaan dalam suatu ekonomi. Jika pemerintah memperlebar defisit anggarannya (dan belanja pemerintah ditingkatkan lagi melebihi penerimaannya), maka permintaan agregat akan naik. Kedua, keputusan pemerintah untuk mengatur atau mengerek penerimaan pajak dari beberapa sektor ekonomi tertentu.

Sebagai contoh, jika pemerintah membebankan kenaikan penerimaan pajak dari perusahaan teknologi, maka laba perusahaan sektor yang dimaksud akan menyusut dan mempengaruhi nilai sahamnya.

Namun, jika peningkatan penerimaan pajak dilakukan bersamaan dengan peningkatan subsidi dalam bentuk subsidi kesehatan dan pendidikan, maka sebaliknya, keputusan ini akan menguntungkan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor tersebut.

Kebijakan moneter, terutama perubahan tingkat suku bunga acuan, akan mempengaruhi perusahaan karena akan mempengaruhi jumlah uang beredar dalam perekonomian dan tingkat suku bunga pinjaman. Ini akan mempengaruhi kegiatan investasi perusahaan dan kegiatan konsumsi masyarakat.

Selain mengerti tentang kebijakan suku bunga Bank Indonesia, seorang investor juga perlu memahami perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat mengingat 80% dari seluruh transaksi global dilakukan dalam denominasi Dolar AS

Risiko Sektor Usaha

Prospek kinerja sebuah perusahaan tak akan lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi sektor usaha atau industri di mana perusahaan tersebut bergerak. Ini termasuk tingkat persaingan, tingkat pertumbuhan industri, dan juga hubungan perusahaan dengan pemasok bahan baku dan konsumennya.

Kerangka yang dikemukakan profesor Harvard Business School, Michael Porter, membeberkan lima faktor yang mempengaruhi untung dan buntung dan buntungnya perusahaan yang berasal dari dinamika sektor usahanya.

1. Daya Tawar dari Pemasok Bahan Baku

Jika pemasok bahan baku memiliki daya tawar kuat, maka mereka bisa meminta bagian laba yang lebih banyak dari perusahaan "langganan" mereka. Hal ini kerap terjadi ketika sang pemasok memiliki kendali yang luar biasa atas beberapa sumber daya tertentu.

Sebagai contoh, Starbucks menyediakan hak waralaba kepada distributor lokal yang di Indonesia sekarang dimiliki oleh PT Mitra Adi Perkasa (Tbk) MAP. Dalam perjanjian kerja sama antara kedua perusahaan, Starbucks mengendalikan penggunaan jenama (brand), mengatur pasokan kopi, dan pelatihan bagi pegawai Starbucks di Indonesia. Karena kendali yang cukup unik tersebut, Starbucks juga mampu untuk mengatur pembagian persentase yang lumayan sebagai haknya dalam perjanjian dengan MAP tersebut.

Sebaliknya dalam platform belanja daring seperti Amazon.com, raksasa e-commerce tersebut memiliki kendali yang kuat atas pemasok yang menjual barang mereka di platform tersebut sehingga pemasok dan penjual biasanya baru menerima pembayaran setelah 90 hari setelah transaksi.

Tidak ada satu pemasok tertentu yang memiliki posisi yang cukup kuat untuk bisa menawar ketentuan Amazon. Sehingga aturan tersebut memungkinkan Amazon untuk membukukan laba dari konsumen atau pembeli sembari memaksa pemasok untuk mendanai sendiri modal kerjanya.

2. Daya Tawar Konsumen

Konsumen produk suatu perusahaan bisa memiliki daya tawar yang kuat melawan sebuah perusahaan jika penjualan perusahaan tersebut sangat tergantung permintaan suatu konsumen tertentu. Contohnya perusahaan Foxconn memiliki satu konsumen yang sangat berkuasa yaitu Apple. Sekitar 200 juta unit iPhone terjual setiap tahunnya dan kekuatan Apple sebagai konsumen besar dari produk Foxconn memungkinkannya untuk meminta syarat-syarat khusus dan naik-turunnya laba Foxconn sangat tergantung dari permintaan produk Apple.

Kondisi kontras terjadi pada Facebook dan Google. Pengguna kedua platform tersebut justru tidak punya daya tawar yang tinggi ketika menggunakan jasa keduanya. Sehingga baik Facebook dan Google dapat menghasilkan uang yang banyak dengan memonetisasi konten-konten yang dilihat pengguna.  Kedua perusahaan teknologi tersebut dapat mengubah konten (yang mungkin juga diciptakan oleh pengguna) menjadi arus pendapatan mereka tanpa keharusan bagi mereka untuk memberikan kembali sebagian pendapatan tersebut ke konsumen mereka.

3. Persaingan Usaha

Sebuah perusahaan akan sulit mengatur harga produknya jika persaingan usaha di sektor yang digelutinya terbilang sengit dan tingkat keuntungannya (profitability) akan terbatas.  Namun jika industri tersebut dikuasai oleh satu pemain yang memonopoli atau beberapa pemain (oligopoli) maka perusahaan penguasa pasar bisa mendulang laba supernormal

4. Ancaman Pendatang Baru

Perusahaan pendatang baru yang bertujuan untuk mencuri pangsa pasar yang selama ini dikuasai pemain lama biasanya akan agresif untuk menawarkan produk dengan harga yang jomplang ketimbang milik kompetitornya. Ini akan memaksa pemain lama untuk mengeluarkan biaya lebih dan melakukan investasi lebih untuk mempertahankan posisinya.

Tapi, tak semua pendatang baru bisa melenggang bebas masuk lantaran hadirnya berbagai hambatan masuk ke pasar (barriers to entry) sektor tertentu.

Contohnya industri di mana pemerintah memiliki kebijakan untuk memberikan izin usaha hanya ke sedikit pelaku pasar saja. Selain itu, pemain baru mungkin juga mengalami kesulitan untuk menembus pasar karena ongkos produksinya kalah efisien dibanding pemain lama di mana ia hanya bisa menjual barang sedikit sehingga biaya produksi rata-rata masih lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang sudah memiliki nama di industri tersebut.

5. Ancaman Produk Substitusi

Sebuah perusahaan akan menikmati profitabilitas yang tinggi jika barang dan jasa yang ditawarkannya memiliki barang dan jasa pengganti (substitusi) yang sedikit.

Sebagai contoh, hingga saat ini tidak ada sumber energi substitusi yang memiliki manfaat sepadan dengan minyak bumi. Produk substitusi biasanya baru tercipta karena teknologi produksi kian berkembang canggih. Contohnya energi terbarukan (renewable energy) seperti tenaga angin, tenaga surya, dan baterai lithium baru dalam satu dekade terakhir ini bisa menjadi sumber energi yang bisa disandingkan dengan minyak bumi.

Risiko usaha. Suatu perusahaan bisa dengan sendirinya mengalami risiko yang hanya mempengaruhi perusahaan tersebut misalnya terkena masalah hukum dan penjualan menurun di suatu atau beberapa lini produknya.

Pergerakan nilai saham juga rentan dipengaruhi risiko pasar dan sama seperti instrumen lainnya di pasar keuangan, harga akan dipengaruhi permintaan dan penawaran. Investor akan menghadapi beberapa risiko berikut ketika berinvestasi di dalam instrumen keuangan atau sekuritas:

  1. Risiko Pasar dan Volatilitas: Pergerakan suatu harga saham sedikit banyak berkorelasi dengan kinerja pasar saham secara keseluruhan. Jika kinerja pasar "loyo", maka kinerja instrumen sekuritas dengan risiko tinggi kemungkinan besar juga akan ikutan melesu. 
  2. Risiko Timing : Sebagai seorang investor, kamu mungkin saja masuk ke pasar pada saat kinerja pasar sedang tinggi-tingginya. Sehingga jika pasar mengalami koreksi , nilai investasimu juga akan terpengaruh. Dengan kata lain, kamu telah berinvestasi di waktu (timing) yang salah.
  3. Risiko Likuiditas: Dalam hal ini, likuiditas mengacu ke kemampuan, atau seberapa cepat, sebuah aset untuk ditukarkan menjadi uang tunai. Semakin lebar selisih antara harga beli dan harga jual maka pelaku pasar makin membutuhkan lama untuk akhirnya mencapai kesepakatan dan menentukan harga yang dirasakan sesuai untuk saham tersebut. 

Jika kamu menjual saham berlikuiditas rendah, maka saham tersebut tidak bisa dijual dengan cepat karena terlalu sedikit pemain yang mau dan mampu menampung saham dengan harga dan jumlah yang ingin kamu jual. Sebaliknya jika kamu ingin membeli suatu saham yang jarang diperdagangkan, ada kemungkinan kamu harus rela menunggu lama sebelum terdapat saham yang mau dilepaskan.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?