Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Pelajari

5 Alasan Untuk Berinvestasi di Pasar Saham
shareIcon

5 Alasan Untuk Berinvestasi di Pasar Saham

0 dilihat·Waktu baca: 4 menit
shareIcon
5 Alasan Untuk Berinvestasi di Pasar Saham

Berikut adalah lima alasan utama mengapa Sobat Cuan perlu menaruh uang di pasar saham!

1. Nilai Saham Naik Seiring Pertumbuhan Ekonomi

Pendapatan masyarakat akan naik ketika perekonomian suatu negara makin tinggi pertumbuhannya. Sehingga, perusahaan-perusahaan bisa menghasilkan barang-barang lebih banyak bagi masyarakat dan mendulang pendapatan lebih banyak. Pertumbuhan pendapatan akan berujung ke kenaikan laba dan pada akhirnya akan mendongkrak nilai dan harga saham perusahaan tersebut. 

Pada periode setelah Krisis Keuangan Global atau sekitar tahun 2010-2021, perekonomian AS terus tumbuh dengan tingkat 2%-3% per tahun. Pada periode itu, perusahaan Amazon pun meningkatkan penjualannya dari “hanya” US$50 miliar per tahun menjadi US$500 miliar per tahun. Tidak heran bahwa kapitalisasi pasar Amazon bertumbuh 20 kali lipat dari US$80 miliar menjadi US$1,7 triliun. 

2. Saham Bisa Mengalahkan Kelas Aset Lain

Saat perekonomian sedang bertumbuh, saham adalah kelas aset dengan kinerja yang mampu mengalahkan seluruh kelas aset tradisional lainnya. Secara naluriah, hal ini disebabkan karena perusahaan-perusahaan bisa beradaptasi secara dinamis terhadap keadaannya dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan pertumbuhan mengagumkan sekarang dan di masa mendatang. Ini merupakan janji yang menarik untuk investor. 

Sementara itu, kinerja instrumen utang lebih berdasarkan janji perusahaan di masa lampau untuk “secukupnya” saja berkembang supaya ia bisa memenuhi suatu persyaratan atau kewajibannya. Walaupun perusahaan berkembang lebih pesat dari yang diperlukan, pemilik obligasi tidak akan diuntungkan. Sehingga, instrumen utang sama seperti emas, yakni bersifat lebih statis karena dipengaruhi perubahan kondisi makroekonomi dan likuiditas.

Sebagai contoh, selama 10 tahun terakhir, raksasa teknologi Amerika Serikat termasuk FAATMAN (Facebook, Apple, Amazon, Tesla, Microsoft, Alphabet, dan Netflix) terbilang lincah dalam melakukan ekspansi bisnis, utamanya dari segi peluncuran produk-produk dan teknologi anyar beserta negara tujuan pasarnya.

Saat kegiatan ekonomi terhenti akibat pandemi COVID-19, kinerja perusahaan-perusahaan teknologi tersebut menikmati pertumbuhan yang mumpuni mengingat seluruh orang membutuhkan produk-produk teknologi akibat kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home). Selama 10 tahun terakhir, indeks S&P 500 dan indeks Nasdaq secara rata-rata naik sebesar 20% dan 40% tiap tahunnya.  

3. Pelindung Terhadap Inflasi 

Nilai aset riil akan meningkat seiring kegiatan bank sentral untuk mencetak uang terus menerus. Kenaikan jumlah uang beredar akan memungkinkan investor untuk semakin mengejar aset riil yang penawarannya terbatas. Atau bisa dikatakan juga bahwa terjadi inflasi. 

Perusahaan penguasa pangsa pasar akan lebih kuat dan bahkan mungkin diuntungkan saat terjadi inflasi. Hal ini disebabkan karena pertama, perusahaan memiliki kendali yang erat dengan pemasok bahan baku dan terhadap pegawainya dan ia dapat menahan kenaikan biaya apabila terjadi inflasi. Kedua, perusahaan tersebut juga lebih mudah membebani kenaikan ongkos produksinya ke konsumen demi menjaga tingkat pendapatannya. Akibatnya, harga sahamnya pun akan terjaga tanpa tergerus dampak inflasi. 

Sebaliknya, tingkat inflasi tinggi akan menggerus nilai aset-aset moneter termasuk uang tunai dan obligasi. Jika inflasi, misalnya, membuat harga barang-barang naik 10%, maka uang selembar Rp100.000 hanya akan memiliki nilai riil sekitar Rp90.000 tahun depan. 

4. Potensi Cuan dari Capital Gain dan Dividen

Korporasi yang mendulang laba dalam satu periode tertentu bisa membagi cuannya ke investor melalui dua cara: Dividen dan capital gain.

Jika perusahaan memutuskan untuk memberikan laba dalam bentuk dividen ke investor, maka tiap investor akan menerima laba bagiannya dalam bentuk uang tunai sebagai pendapatan dividen.

Pada umumnya, perusahaan-perusahaan yang bergelut di sektor yang sudah matang, atau industri yang pertumbuhannya telah melambat dibanding industri lain, akan memberikan sebagian besar atau seluruh pendapatannya ke investor. Ini terlihat di perusahaan yang bergerak di sektor kebutuhan pokok, jasa keuangan, dan pertambangan.

Sebuah perusahaan yang masih bertumbuh akan melihat kenaikan laba. Akibatnya, valuasi perusahaan pun ikut membumbung tinggi dan meningkatkan harga saham. Nah, kenaikan harga saham ini (dibandingkan harga beli investor) adalah capital gain.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan kuat, seperti saham-saham FAATMAN, cenderung untuk menginvestasikan kembali labanya untuk memperbesar ukuran bisnisnya ketimbang membagikannya ke investor dalam bentuk dividen. Investasi terhadap diri sendiri ini akan menyebabkan kinerja perusahaan terus bertumbuh dan investor yang memiliki saham perusahaan akan mendapatkan cuan bukan dari dividen namun dari nilai saham yang terus naik.

Pada dasarnya, berinvestasi saham dapat menutupi kekurangan di investasi instrumen utang dan emas. Instrumen utang jangka pendek cenderung memberikan cuan yang sedikit, terdapat bunga dari memegangnya namun harga aset tersebut stabil atau hanya mampu naik tipis. Sementara itu, harga emas mampu naik lebih besar sehingga ada capital gain namun tidak memberikan bunga tetap sama sekali.

5. Terjangkau

Setiap investor bisa memulai perjalanan membangun kekayaannya di aplikasi Pluang. Sobat Cuan bisa berinvestasi di saham-saham unggulan pasar modal domestik seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Unilever Indonesia Tbk melalui reksadana saham atau nantinya produk saham indonesia atau saham AS seperti Facebook, Apple, Alphabet, hingga Microsoft yang akan segera diluncurkan di Pluang.

Di Pluang, investor juga bisa membeli saham tunggal AS dengan kepemilikan paling kecil 0,1 lembar saham! Yuk, segera miliki saham tunggal AS di Pluang!

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
1.

3 Cara Valuasi Saham

card-image
2.

6 Faktor Mempengaruhi Harga Saham

card-image
3.

Mengenal Indeks Saham Utama

card-image
4.

Mengapa Harga Saham Sulit Diramal?

card-image
5.

Lebih Baik Investasi Saham Tunggal, Indeks, Atau Reksa Dana Saham?

card-image
6.

Lebih Baik Investasi Saham Domestik atau Saham Global? Atau Keduanya?

card-image
7.

Apa Itu Pasar Modal?

card-image
8.

7 Risiko Utama Investasi Saham

card-image
9.

5 Alasan Untuk Berinvestasi di Pasar Saham

card-image
10.

3 Jenis Gaya Investasi Saham

card-image

Pelajari Materi Lainnya

cards
Pemula
Diversifikasi 101

Salah satu konsep penting dalam investasi adalah...

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1