Sepanjang Agustus 2026, investor asing tercatat net buy Rp11,09 triliun di pasar saham Indonesia per 28 Agustus 2026, membalik tren net sell yang mendominasi awal tahun (Receh.in, 29 Agustus 2026). Meski begitu, secara year-to-date (YTD) asing masih net sell Rp70,36 triliun pada periode yang sama. Artikel ini merangkum data net buy dan net sell asing di IHSG sepanjang Agustus 2026, tren mingguannya, saham yang paling banyak diborong dan dilepas, hingga faktor pendorongnya.
Berdasarkan pola pembagian dividen interim sepanjang semester II 2025, sejumlah emiten blue chip seperti ASII, AALI, UNTR, BBCA, BBRI, dan SIDO secara historis membagikan dividen interim pada periode Oktober–Desember, sehingga berpotensi mengulang pola serupa di semester II 2026. Ini bukan kepastian maupun jaminan — jadwal dan nominal dividen tahun 2026 sepenuhnya bergantung pada kinerja dan keputusan masing-masing emiten, dan baru resmi begitu diumumkan lewat keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dividen 100 lot saham BBCA bernilai sekitar Rp3.260.000 dari akumulasi tiga pembayaran dividen sepanjang 2026 (data per 1 September 2026), sementara nilainya berbeda untuk emiten lain seperti BBRI, BMRI, dan TLKM karena masing-masing punya kebijakan dividen per saham yang berbeda. Karena 1 lot saham di Bursa Efek Indonesia setara 100 lembar, maka 100 lot sama dengan 10.000 lembar saham — dan nilai dividen yang diterima tinggal dikalikan dari dividen per saham yang diumumkan emiten.
ANTM, Newmont, dan ETF Emas seperti GLD sama-sama memberi investor eksposur ke harga emas, tetapi lewat mekanisme yang berbeda. ANTM (Aneka Tambang) adalah saham emiten tambang emas Indonesia yang bergerak mengikuti kinerja perusahaan sekaligus harga emas; Newmont Corporation adalah perusahaan tambang emas multinasional yang sahamnya diperdagangkan di New York Stock Exchange (NYSE); sementara GLD (SPDR Gold Shares) adalah ETF yang menyimpan emas fisik sehingga pergerakannya cenderung mengikuti harga emas dunia secara langsung. Ketiganya berbeda dari emas digital, yang merupakan kepemilikan emas fisik langsung tanpa risiko korporasi maupun risiko manajer investasi.
IPO PT Swayasa Prakarsa Tbk (kode saham: SWAP) menawarkan harga Rp130–140 per saham dengan target dana maksimal Rp45,22 miliar dan jadwal listing di BEI pada 10 September 2026. Di balik statusnya sebagai perusahaan manufaktur alat kesehatan berbasis riset yang dikendalikan Universitas Gadjah Mada (UGM), laba bersih 2025 turun 58,97% dan perusahaan mencatat rugi bersih pada periode dua bulan pertama 2026. Artikel ini membahas jadwal, valuasi, struktur kepemilikan, dan risiko utama yang perlu dipahami sebelum investasi saham.














