Risiko Likuiditas
Table of Contents
Apa Itu Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko di mana sebuah perusahaan atau individu tidak memiliki uang kas yang cukup untuk melunasi kewajiban finansialnya, alias utang, secara tepat waktu.
Dalam hal ini, likuiditas merujuk pada seberapa cepat perusahaan bisa mengubah aset-aset yang dimilikinya menjadi kas. Sehingga, risiko ini adalah risiko yang timbul dari permasalahan satu perusahaan yang tidak mampu mengonversi aset-aset tersebut menjadi uang kas.
Definisi lainnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merujuk risiko likuiditas sebagai risiko yang ditanggung perusahaan atau bank akibat situasi bangkrut atau penutupan operasional.
Sementara itu, bagi sektor perbankan, definisi risiko likuiditas tercantum di dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum.
Beleid tersebut menjelaskan bahwa risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank (atau perusahaan) untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa menganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank (atau perusahaan).
Baca Juga: Mempelajari Margin of Safety, Konsep Kunci Pengukuran Risiko Investasi
Apa Saja Faktor Risiko Likuiditas?
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi risiko likuiditas sebuah perusahaan. Beberapa di antaranya yakni:
1. Penurunan Pendapatan
Jika perusahaan mengalami penurunan pendapatan yang signifikan, maka kemampuannya untuk menambah arus kas masuk juga akan tersendat. Hal itu, apabila dibiarkan terus, tentu akan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajibannya.
2. Ketergantungan pada Pinjaman
Jika perusahaan terlalu bergantung pada pinjaman, maka risiko likuiditasnya dapat meningkat. Kondisi itu bisa semakin parah jika kondisi pasar sedang tak stabil atau suku bunga acuan menanjak.
3. Ketidakmampuan Menagih Piutang
Jika perusahaan menghadapi kendala atau tidak mampu menagih piutang dari pelanggan atau mitra yang bekerja sama dengannya, maka hal itu akan membuat arus kas perusahaan menjadi seret. Tanpa penanganan yang jelas, masalah tersebut bisa berkembang menjadi risiko likuiditas.
4. Perubahan Regulasi atau Kebijakan
Perubahan regulasi atau kebijakan pemerintah yang berdampak pada perusahaan dapat mengganggu likuiditasnya. Misalnya, perubahan tarif pajak tentu akan memperbesar beban pajak dan mengurangi sisa kas perusahaan.
5. Penarikan Dana yang Masif
Kondisi ini umumnya terjadi pada sektor keuangan.
Sebagai contoh, kepanikan finansial pada krisis keuangan 2007-2008 silam membuat nasabah panik sehingga mereka pun buru-buru mengambil simpanannya di bank. Hanya saja, kondisi yang dijuluki bank run itu berimbas pada kenaikan risiko likuiditas sektor perbankan.
Namun, hal ini tidak hanya terjadi di sektor keuangan saja. Likuiditas perusahaan sektor lainnya bisa terkuras dengan cepat jika pemegang sahamnya melakukan penarikan dana besar-besaran.
6. Kurangnya Diversifikasi Sumber Dana
Bergantungnya perusahaan pada satu sumber dana utama saja juga bisa menjadi pangkal risiko likuiditas. Sebab, jika arus kas dari sumber tersebut mandek, maka kas perusahaan secara keseluruhan pun bisa menjadi seret.
7. Ketidakmampuan Mengonversi Aset Menjadi Dana Tunai
Jika perusahaan memiliki aset yang sulit untuk dijual atau dikonversi menjadi uang tunai dengan cepat, maka risiko likuiditasnya bisa meningkat.
Baca Juga: Risk Averse
Apa Saja Dampak Risiko Likuiditas?
Tingkat risiko likuiditas yang tak terkontrol akan sangat mempengaruhi keberlangsungan sebuah perusahaan. Lantas, apa saja dampak bagi perusahaan jika risiko tersebut dibiarkan berlarut-larut?
1. Gangguan Operasional
Risiko likuiditas yang tinggi dapat menghambat perusahaan dalam memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari, seperti membayar gaji karyawan, membayar pemasok, atau membiayai proyek baru.
2. Kerugian Finansial
Jika perusahaan terpaksa menjual aset dengan harga yang rendah untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, maka hal itu dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan.
3. Ketidakmampuan Memanfaatkan Peluang (Opportunity Cost)
Jika perusahaan tidak memiliki likuiditas yang cukup, maka mereka mungkin tidak dapat memanfaatkan peluang bisnis yang muncul, seperti investasi atau ekspansi.
Bagaimana Cara Mitigasi Risiko Likuiditas?
Dampak dari ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya bisa berujung ke kerugian, yang tentu tak diiinginkan baik oleh manajemen maupun investor perusahaan tersebut.
Untuk mencegahnya, perusahaan memerlukan upaya-upaya untuk memitigasi risiko likuiditas sebelum hal itu berubah jadi bencana. Berikut beberapa di antaranya:
1. Membuat Rencana Likuiditas yang Baik
Menyusun rencana likuiditas yang matang dapat membantu perusahaan memperkirakan kebutuhan likuiditasnya di masa depan.
Rencana ini harus mempertimbangkan kemungkinan situasi yang tidak terduga dan mencakup strategi untuk menghadapi penarikan dana besar-besaran.
2. Diversifikasi Sumber Dana
Penting bagi perusahaan untuk mendiversifikasi sumber dana mereka. Dengan memperoleh dana dari berbagai sumber, perusahaan dapat mengurangi risiko jika satu atau beberapa sumber dana mengalami ketidakstabilan atau ketidaktersediaan.
3. Menjaga Aset Likuid
Perusahaan harus memastikan bahwa mereka memiliki aset yang dapat diubah menjadi dana tunai dengan cepat jika diperlukan.
Memiliki portofolio investasi yang mencakup aset likuid dapat membantu mengatasi kebutuhan dana yang mendesak.
4. Mengatur Kebijakan Pinjaman dan Penarikan Dana
Perusahaan harus memiliki kebijakan yang jelas terkait dengan pinjaman dan penarikan dana. Hal ini dapat membantu mengendalikan risiko likuiditas dengan memastikan bahwa permintaan penarikan dana tetap sesuai dengan kemampuan entitas untuk memenuhinya.
Baca Juga: Analisis Rasio Keuangan
Bagaimana Cara Menghitung Tingkat Risiko Likuiditas?
Risiko likuiditas adalah risiko yang sangat dihindari oleh perusahaan. Namun, bagaimana caranya perusahaan mengetahui bahwa mereka memiliki risiko tersebut?
Nah, dalam hal ini, perusahaan dan analis biasanya menggunakan metode tertentu untuk mengukurnya, contohnya adalah:
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah salah satu indikator utama dalam mengukur risiko likuiditas. Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aset yang likuid.
2. Cash Flow Analysis
Analisis arus kas dapat membantu dalam mengukur risiko likuiditas dengan menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari operasional bisnisnya.
Jika arus kas yang dihasilkan tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, maka risiko likuiditas dapat meningkat.
3. Analisis Diversifikasi Sumber Dana
Mengukur tingkat diversifikasi sumber dana dapat memberikan indikasi tentang seberapa rentan perusahaan terhadap risiko likuiditas.
Jika perusahaan sangat bergantung pada satu atau beberapa sumber dana saja, maka risiko likuiditas dapat meningkat.
Analisis ini dilakukan dengan cara memantau proporsi dana yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti pinjaman bank, penjualan saham, atau pendapatan operasional.
Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!
Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi Saham AS, indeks saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!
Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!
Sumber: Investopedia





