Averaging Down
Averaging Down adalah strategi investasi di mana investor membeli saham tambahan saat harganya turun untuk menurunkan rata-rata harga beli keseluruhan posisinya.
Apa itu Averaging Down?
Ketika harga saham yang sudah dimiliki turun, investor yang melakukan averaging down membeli lebih banyak lembar saham dengan harga lebih rendah. Hasilnya, rata-rata harga beli (Average Price / Average Cost) keseluruhan posisi menjadi lebih rendah, sehingga dibutuhkan kenaikan harga yang lebih kecil untuk mencapai titik impas (break even).
Simulasi Averaging Down
Pembelian 1: 1.000 lembar @ Rp 5.000 = Rp 5.000.000 |
Kapan Averaging Down Bijak vs Berbahaya?
Kondisi | Averaging Down Bijak? |
Penurunan karena sentimen pasar / koreksi IHSG | Ya — jika fundamental solid |
Penurunan karena penurunan laba emiten | Hati-hati — perlu analisis ulang |
Penurunan karena masalah tata kelola (fraud) | Tidak — hindari |
Saham gorengan yang terkoreksi | Tidak — sangat berisiko |
Risiko Averaging Down yang Perlu Dipahami
Averaging down bisa menjadi jebakan serius jika dilakukan pada saham dengan fundamental yang memburuk. Strategi ini kerap disebut "menangkap pisau jatuh" (catching a falling knife) — berbahaya jika alasan penurunan harga bersifat fundamental, bukan sekadar fluktuasi pasar. Pastikan thesis investasi awal masih valid sebelum menambah posisi.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Averaging Down
Apa perbedaan averaging down dengan DCA (Dollar Cost Averaging)? DCA adalah membeli secara rutin terlepas kondisi harga (biasanya secara terjadwal). Averaging down spesifik merespons penurunan harga dengan menambah posisi.
Ditulis oleh
Davion ArsinioContent Writer at Pluang














