keuangan
Ingin Cepat Menabung Hingga Rp1 Miliar, Simak 5 Strategi Jitunya!

Last Updated: 26 Agustus 2026
Ada 4 cara utama untuk menghindari slippage saat trading: memilih waktu transaksi yang tepat, menggunakan limit order, memanfaatkan fitur slippage tolerance, dan memastikan platform trading punya kecepatan eksekusi serta transparansi order book yang memadai. Slippage adalah selisih antara harga aset yang kamu order dengan harga yang benar-benar dieksekusi oleh pasar, sehingga level harga yang kamu kehendaki bisa meleset dari ekspektasi saat posisi dibuka. Kondisi ini lumrah terjadi kapan pun kamu bertransaksi, terutama saat pasar sedang bergejolak, dan bisa memengaruhi hasil transaksi maupun psikologi trading-mu. Artikel ini membahas empat langkah praktis untuk menekan risiko slippage sebelum kamu memasang order berikutnya.
Slippage adalah kondisi ketika eksekusi order tidak sesuai dengan harga yang kamu targetkan saat memasang posisi. Imbasnya, kamu terpaksa bertransaksi pada aset yang harganya tidak sesuai dengan perhitunganmu, yang bisa memengaruhi perencanaan trading ke depan.
Slippage sendiri tidak selalu berkonotasi negatif. Ada dua jenis: slippage positif, saat eksekusi justru terjadi di harga yang lebih menguntungkan dari harga order (umum terjadi pada trader yang memakai limit order), dan slippage negatif, saat eksekusi terjadi di harga yang lebih merugikan dari ekspektasi.
Slippage umumnya muncul pada tiga kondisi: saat volume transaksi pasar sedang tinggi, saat permintaan menumpuk di level harga yang sama, dan saat volatilitas harga melonjak tajam. Ketiga kondisi ini membuat pasar kesulitan memenuhi seluruh order pada harga yang diminta karena suplai aset di level harga tersebut sudah habis lebih dulu — kesenjangan antara permintaan dan penawaran inilah yang memicu slippage.
Sebagai gambaran skala dampaknya di pasar kripto: saat terjadi flash crash pada 22 Agustus 2026, harga Bitcoin turun sekitar 3,9% (dari kisaran US$79.500 ke US$76.500) dan XRP anjlok sekitar 12% dalam hitungan jam, memicu likuidasi senilai US$1,71 miliar terhadap sekitar 281.846 trader dalam 24 jam (data per 22 Agustus 2026, sumber: Tokocrypto News). Contoh ini bersifat ilustratif untuk menunjukkan bagaimana volatilitas ekstrem memperbesar peluang slippage — bukan prediksi arah harga ke depan.
Fenomena ini kian relevan seiring pertumbuhan pasar kripto Indonesia: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor aset kripto mencapai 22,69 juta orang dengan nilai transaksi Rp28,58 triliun sepanjang Juni 2026 (data per Juni 2026, sumber: pernyataan resmi anggota Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, dipublikasikan 4 Agustus 2026). Semakin ramai partisipan pasar, semakin besar pula potensi order saling berebut likuiditas di level harga yang sama — salah satu pemicu utama slippage.
Slippage lebih sering dilaporkan di pasar cryptocurrency karena volatilitas harganya cenderung lebih tinggi dibanding kelas aset lain, tetapi kondisi serupa juga bisa terjadi di pasar valuta asing, saham, obligasi, maupun pasar berjangka.
Sebelum menerapkan langkah-langkah di bawah, pastikan kamu sudah menyiapkan:
• Akun trading yang aktif dan terverifikasi di platform berizin dan diawasi otoritas terkait.
• Saldo atau modal yang cukup untuk menjalankan strategi transaksi kamu.
• Akses ke data harga real-time dan order book (kedalaman pasar) di aplikasi trading.
• Pemahaman dasar tentang limit order dan fitur slippage tolerance.
• Koneksi internet yang stabil, karena keterlambatan koneksi bisa memperbesar risiko slippage saat eksekusi.
Berikut empat langkah yang bisa kamu terapkan untuk menekan risiko slippage saat bertransaksi.
Pilih waktu transaksi ketika volatilitas harga sedang rendah tetapi likuiditas pasar tetap tinggi. Volatilitas yang rendah menekan fluktuasi harga aset, sementara likuiditas yang tinggi menandakan banyak partisipan yang mengantre di posisi tawar-menawar. Kombinasi keduanya memperkecil kemungkinan order kamu meleset jauh dari harga yang ditargetkan.
Pasang limit order agar transaksi kamu tidak bisa dieksekusi di luar batas harga yang sudah kamu tentukan. Jika terpaksa bertransaksi di pasar yang fluktuatif, limit order membuat order hanya tereksekusi pada harga yang kamu setujui atau lebih baik. Konsekuensinya, order berpotensi tidak tereksekusi sama sekali jika harga pasar tidak pernah menyentuh level yang kamu tetapkan.
Atur batas slippage tolerance sebelum mengeksekusi transaksi, khususnya di pasar aset kripto. Fitur ini memungkinkan kamu menetapkan persentase maksimal penyimpangan harga yang masih bisa kamu terima dari harga yang diharapkan. Perhatikan gas fee saat menggunakan fitur ini: slippage tolerance yang terlalu longgar di tengah gas fee yang tinggi bisa membuat transaksi jadi kurang efisien karena biaya transaksi tetap sama besar meski jumlah aset yang diterima lebih kecil.
Gunakan platform trading yang menampilkan kedalaman order book secara transparan dan memproses eksekusi order dengan cepat. Semakin cepat sistem mencocokkan order dengan harga pasar, semakin kecil jeda waktu yang bisa dimanfaatkan pasar untuk bergerak menjauh dari harga yang kamu targetkan. Order book yang transparan juga membantumu menilai kedalaman likuiditas sebelum memutuskan memasang order.
Langkah | Estimasi Waktu Persiapan | Estimasi Biaya |
1. Pilih waktu volatilitas rendah, likuiditas tinggi | 5–10 menit (memantau chart/volume) | Tidak ada biaya tambahan |
2. Gunakan limit order | 1–2 menit (pengaturan order) | Setara fee transaksi standar |
3. Atur slippage tolerance | 1–2 menit (pengaturan di aplikasi) | Bervariasi tergantung gas fee jaringan |
4. Pilih platform eksekusi cepat & order book transparan | Sekali di awal (evaluasi platform) | Tidak ada biaya langsung |
Catatan: estimasi waktu dan biaya bersifat ilustratif dan dapat berbeda tergantung platform, jenis aset, serta kondisi pasar saat transaksi berlangsung.
Slippage adalah selisih antara harga aset yang kamu order dengan harga yang benar-benar dieksekusi oleh pasar. Kondisi ini terjadi ketika permintaan dan penawaran di level harga yang kamu targetkan tidak seimbang, terutama saat pasar sedang volatil atau ramai transaksi. Slippage bisa bersifat positif (harga eksekusi lebih baik) maupun negatif (harga eksekusi lebih buruk) tergantung arah pergerakan pasar.
Slippage sulit dihindari sepenuhnya karena merupakan karakteristik alami pasar yang bergerak real-time, termasuk pasar likuid sekalipun. Namun, risikonya bisa ditekan dengan trading saat volatilitas rendah dan likuiditas tinggi, menggunakan limit order, mengatur slippage tolerance, serta memilih platform dengan eksekusi cepat dan order book transparan.
Tidak ada angka slippage tolerance yang berlaku universal karena bergantung pada volatilitas aset, kondisi pasar, dan besaran gas fee saat itu. Menetapkan slippage tolerance terlalu ketat berisiko membuat order gagal tereksekusi, sementara terlalu longgar berisiko transaksi kurang efisien akibat gas fee yang tetap tinggi meski jumlah aset yang diterima lebih sedikit.
Ingin mempraktikkan langkah-langkah di atas dengan kontrol risiko yang lebih terukur? Kamu bisa mulai trading dengan manajemen risiko melalui Pluang Crypto Futures — catatan: produk derivatif dengan leverage seperti ini memiliki risiko tinggi dan tidak cocok untuk seluruh kalangan investor; salinan kalimat ini BUKAN teks SSOT resmi dan wajib diverifikasi/diformalkan oleh Tim Compliance sebelum publish (lihat Open Item #1).
Pelajari juga strategi trading lainnya di Akademi Pluang: Berita dan Analisis Pasar.
• Tokocrypto News, "Bitcoin, ETH, dan XRP Terkoreksi Tajam, Likuidasi Crypto Tembus US$1,7 Miliar", data per 22 Agustus 2026.
• Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pernyataan resmi anggota Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi terkait data investor dan transaksi aset kripto Juni 2026, dipublikasikan 4 Agustus 2026.
• OJK — Direktori Perizinan & Pengawasan Resmi, untuk verifikasi status berizin platform trading.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.