
Jawaban Singkat:
Net buy asing adalah kondisi ketika nilai pembelian saham oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih besar daripada nilai penjualannya dalam satu periode perdagangan, sedangkan net sell asing adalah kebalikannya — nilai jual asing melebihi nilai belinya. Data ini dipublikasikan harian oleh BEI dan menjadi salah satu indikator yang dipantau pelaku pasar untuk membaca arah minat investor institusi luar negeri terhadap emiten-emiten yang tercatat di IHSG.
Berdasarkan data BEI yang dihimpun per 28 Agustus 2026, asing mencatatkan net buy kumulatif Rp11,09 triliun sepanjang Agustus 2026 — sementara IHSG menguat 5,48% sepanjang bulan tersebut dan ditutup di level 6.525,48 pada penutupan 31 Agustus 2026 (Investing.com Indonesia, 31 Agustus 2026). Namun, arus masuk sebulan ini belum cukup menutup arus keluar yang terjadi sejak awal tahun: secara year-to-date, asing masih tercatat net sell Rp70,36 triliun per 28 Agustus 2026, turun dari posisi net sell Rp72,873 triliun pada 16 Agustus 2026 (Katadata.co.id, mengutip data BEI, 16 Agustus 2026). Dengan kata lain, Agustus 2026 adalah salah satu bulan pemulihan arus asing di tengah tren net sell YTD yang masih dominan.
Arus asing sepanjang Agustus 2026 tidak bergerak searah setiap minggu. Berikut rangkumannya berdasarkan data BEI yang dilaporkan sejumlah media:
Asing net sell Rp708 miliar dengan tekanan jual terutama pada saham-saham blue chip berkapitalisasi besar (CNBC Indonesia, 3 Agustus 2026).
Secara kumulatif, asing berbalik net buy Rp1,56 triliun (CNBC Indonesia, 13 Agustus 2026).
Tren berbalik lagi menjadi net sell Rp1,58 triliun dalam sepekan. Saham ASII turun 6,27% (menekan IHSG 13,03 poin) dan TLKM turun 3,32% (menekan IHSG 8,30 poin) menjadi dua emiten dengan kontribusi negatif terbesar (Katadata.co.id, mengutip Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris BEI, 16 Agustus 2026).
IHSG naik 0,75% meski asing tercatat net sell Rp355 miliar pada hari itu (CNBC Indonesia, 19 Agustus 2026).
Asing kembali net buy Rp279,2 miliar dalam sepekan, dengan total pembelian Rp17,57 triliun berbanding penjualan Rp17,29 triliun (CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026).
Meski arus asing berfluktuasi dari pekan ke pekan, sejumlah saham konsisten muncul sebagai incaran maupun sasaran jual asing di beberapa periode berbeda sepanjang Agustus 2026.
DSSA (Dian Swastatika Sentosa) menjadi saham yang paling konsisten diburu asing sepanjang bulan: tercatat sebagai top buy asing senilai Rp1,40 triliun pada 10 Agustus 2026 (IDN Financials, 11 Agustus 2026), lalu kembali menjadi top buy asing senilai Rp1,22 triliun pada pekan 24–28 Agustus 2026 (CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026). Pada pekan 24–28 Agustus 2026 tersebut, saham perbankan seperti BMRI (Rp582,1 miliar) dan BBCA (Rp387 miliar), serta EXCL (Rp238,9 miliar) dan SMMA (Rp178,6 miliar), turut masuk daftar saham yang paling banyak diborong asing (CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026).
ASII (Astra International) dan TLKM (Telkom Indonesia) menjadi dua emiten yang berulang kali masuk daftar saham paling banyak dilepas asing sepanjang Agustus 2026. Pada pekan 10–14 Agustus 2026, ASII turun 6,27% (menekan IHSG 13,03 poin) dan TLKM turun 3,32% (menekan IHSG 8,30 poin) akibat tekanan jual asing (Katadata.co.id, mengutip Sekretaris BEI, 16 Agustus 2026). Keduanya kembali masuk daftar top sell asing pada 27 Agustus 2026, dengan TLKM dilepas Rp87,36 miliar dan ASII Rp35,86 miliar (Databoks Katadata, 27 Agustus 2026), dan ASII kembali tercatat sebagai salah satu saham paling banyak dilepas asing senilai Rp96,7 miliar pada 31 Agustus 2026 (CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026).
Sejumlah faktor struktural disebut memengaruhi arus asing sepanjang Agustus 2026, di antaranya rebalancing indeks MSCI, stabilitas nilai tukar rupiah, dan pergerakan imbal hasil US Treasury (Receh.in, 29 Agustus 2026). Sepuluh saham yang keluar dari indeks MSCI — termasuk GOTO, ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI — baru berlaku efektif pada 1 September 2026, sehingga dampaknya terhadap arus dana asing belum sepenuhnya tercermin di data Agustus (CNBC Indonesia, 13 Agustus 2026).
Konsensus (29 Agustus 2026) memperkirakan potensi outflow dari rebalancing MSCI berkisar Rp1–2,5 triliun, atau sekitar 9–23% dari total net buy asing sepanjang Agustus 2026 (Receh.in, 29 Agustus 2026). Ini merupakan proyeksi analis, bukan rekomendasi untuk bertransaksi.
Net buy asing pada saham-saham blue chip berkapitalisasi besar berpotensi menopang momentum harga, seperti terlihat pada saham DSSA, BMRI, dan BBCA yang berulang kali diborong asing sepanjang Agustus 2026. Sebaliknya, net sell asing dalam volume besar pada saham-saham dengan bobot indeks tinggi — seperti ASII dan TLKM yang berulang kali dilepas asing sepanjang Agustus 2026 — cenderung menekan pergerakan IHSG secara langsung, karena kedua emiten tersebut memiliki market cap besar yang berkontribusi signifikan terhadap perhitungan indeks.
Namun, data historis Agustus 2026 juga menunjukkan hubungan ini tidak selalu satu arah: pada 19 Agustus 2026, IHSG tetap naik 0,75% meski asing net sell Rp355 miliar hari itu — menandakan aliran dana domestik dan faktor lain turut menggerakkan indeks (CNBC Indonesia, 19 Agustus 2026). Data net buy/net sell asing karena itu sebaiknya dibaca sebagai salah satu indikator, bukan satu-satunya acuan pengambilan keputusan investasi, mengingat kondisi likuiditas dan sentimen pasar juga dipengaruhi banyak variabel lain, termasuk aktivitas investor domestik yang turut mendominasi nilai transaksi harian di IHSG.
Data net buy dan net sell asing dipublikasikan harian oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan dapat diakses melalui laporan perdagangan resmi.
Investor dapat memantau pergerakan harga saham dan data pasar secara real-time melalui Pluang Web Trading, yang menyajikan data transaksi harian untuk saham-saham yang tercatat di IHSG.
Untuk menyaring saham berdasarkan kriteria tertentu seperti sektor atau market cap, investor bisa memanfaatkan fitur Screeners yang tersedia di aplikasi Pluang.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bagi investor yang ingin bertransaksi saham Indonesia yang tercatat di IHSG.
Net buy asing terjadi ketika nilai beli saham oleh investor asing lebih besar dari nilai jualnya dalam satu periode; net sell asing adalah kebalikannya, yaitu nilai jual asing lebih besar dari nilai belinya.
Karena arus keluar dana asing yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya di tahun berjalan 2026 jauh lebih besar dibandingkan arus masuk pada Agustus 2026, sehingga akumulasi net sell YTD (Rp70,36 triliun per 28 Agustus 2026) masih lebih besar dari net buy bulanan Agustus (Rp11,09 triliun).
Tidak selalu. Data 19 Agustus 2026 menunjukkan IHSG tetap bisa naik 0,75% meski asing net sell pada hari yang sama, karena pergerakan indeks juga dipengaruhi aliran dana domestik dan faktor lainnya.
Data resmi dipublikasikan harian oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor juga dapat memantau data transaksi dan pergerakan harga saham melalui Pluang Web Trading.
Sebaiknya tidak. Data ini berguna sebagai salah satu indikator sentimen pasar, namun keputusan investasi idealnya juga mempertimbangkan fundamental emiten, kondisi makroekonomi, dan profil risiko masing-masing investor.
Bisa. Meski data ini awalnya lebih banyak dipantau investor institusi, investor ritel juga dapat menggunakannya sebagai salah satu bahan pertimbangan tambahan — misalnya untuk melihat saham emiten mana yang sedang diminati atau dilepas asing dalam periode tertentu — selama tetap dikombinasikan dengan analisis fundamental dan analisa teknikal lainnya.
Sepanjang Agustus 2026, asing tercatat net buy Rp11,09 triliun di IHSG per 28 Agustus 2026, membalik tren net sell yang dominan sejak awal tahun — meski secara YTD asing masih net sell Rp70,36 triliun pada periode yang sama. Tren mingguannya berfluktuasi, dengan DSSA konsisten menjadi incaran utama asing sepanjang bulan bersama BMRI dan BBCA, sementara ASII dan TLKM berulang kali menjadi sasaran jual asing sepanjang Agustus 2026. Data net buy dan net sell asing bisa menjadi salah satu indikator dalam membaca sentimen pasar, namun sebaiknya dilengkapi dengan analisis fundamental dan data lain sebelum mengambil keputusan investasi.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca setelah mempertimbangkan tujuan keuangan, profil risiko, dan melakukan analisis mandiri.
Kinerja masa lalu tidak mengindikasikan proyeksi kinerja masa depan. Periode data: 1–31 Agustus 2026.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


