Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Sama-Sama Banjir Cuan, Apa Beda Yield Farming dan Crypto Staking?
shareIcon

Sama-Sama Banjir Cuan, Apa Beda Yield Farming dan Crypto Staking?

20 May 2021, 6:32 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
yield farming vs staking

Ibarat banyak jalan menuju roma, banyak juga jalan bagi kamu untuk mendulang cuan dari aset kripto. Salah satunya adalah dengan mengikuti tren terbaru dengan “menanam” aset kripto di dompet digital dan biarkan ia berkembang dan berbuah dengan sendirinya.

Banyak yang bilang, kegiatan ini disebut crypto staking. Namun, ada juga yang bilang bahwa ini adalah yield farming. Lantas, bagaimana jika kita adukan yield farming vs staking?

Baca juga: Bunga Nabung di Aset Kripto Cuan Banget Dibanding Bank. Darimana Asal Bunganya?

Konsep Umum Yield Farming vs Staking

Untuk menyelami perbedaan keduanya, tentu kita harus memahami apa arti sesungguhnya dari yield farming dan crypto staking.

Penjelasan lengkap mengenai crypto staking bisa kamu baca di artikel ini. Namun secara garis besar, crypto staking adalah kegiatan di mana pengguna aset kripto dapat mendulang cuan hanya dengan memvalidasi transaksi atau segala aktivitas yang terjadi di atas sistem blockchain.

Crypto staking diturunkan dari sistem algoritma konsensus Proof-of-Stake yang berlaku di dalam sistem Ethereum 2.0.

Di dalam algoritma Proof-of-Stake, seseorang dapat menambang atau memvalidasi transaksi aset kripto di blockchain sesuai dengan jumlah koin yang ia “kunci”. Artinya, semakin banyak koin yang dimiliki, maka mereka punya daya tawar (stake) yang tinggi dalam melakukan hal tersebut. Nah, di situlah sumber cuan yang didapatkan para stakers.

Saat ini, banyak platform desentralisasi yang menawarkan jasa staking kepada para penggunanya.

Mereka hanya perlu menyediakan aset kripto untuk staking dengan “menyimpannya” ke dompet digital dalam jangka waktu tertentu. Setelahnya, platform tersebut akan melakukan staking menggunakan tabungan aset kripto dari sang pengguna.

Nantinya, pengguna akan mendulang cuan dari aktivitas tersebut secara santai tanpa harus berurusan dengan aspek teknis dari staking. Sebab, aspek tersebut akan dikerjakan oleh masing-masing platform desentralisasi.

Sementara itu, yield farming adalah kegiatan di mana pengguna bisa menabung aset kripto dan meminjamkannya ke pengguna lain untuk mendapatkan imbal hasil dalam bentuk aset kripto.

Kegiatannya sendiri mirip dengan menabung biasa. Kamu hanya tinggal menyimpan tabunganmu di dompet digital dan kemudian menerima “bunga” atas kegiatan tersebut. Namun, kamu menyimpan aset kripto tersebut di platform DeFi yang berbasis kolam pendanaan (liquidity pool).

Prosesnya mirip seperti crypto staking, bukan? Di mana pengguna hanya tinggal menempatkan dananya di platform tertentu demi mendapatkan cuan. Maka dari itu, tak heran jika banyak yang menganggap bahwa yield farming adalah bagian dari crypto staking.

Perbedaan Yield Farming vs Staking

Namun, kalau Sobat Cuan telaah, ternyata ada banyak perbedaan di antara keduanya, lho, Seperti apa perbedaan tersebut?

1. Tujuan Kegiatan

Perbedaan pertama dari yield farming vs crypto staking adalah tujuan kegiatan itu sendiri.

Crypto staking, seperti yang dibahas di atas, adalah kegiatan di mana pengguna bisa mendapatkan cuan dengan memvalidasi transaksi atau penambangan baru di aset kripto berbasis algoritma konsensus proof-of-stake.

Sistem proof-of-stake sendiri adalah solusi atas masalah algoritma konsensus proof-of work, yang disinyalir selalu memakan tenaga listrik jumbo. Perihal proof-of-stake dan hubungannya dengan proof-of-work bisa kamu baca di artikel ini.

Nah, agar sistem proof-of-stake berjalan dengan baik, maka dibutuhkan banyak validator agar algoritme konsensus ini berjalan dengan baik. Selain itu, validator ini juga berguna untuk mencegah transaksi mencurigakan yang terjadi di atas sistem blockchain tersebut.

Kesimpulannya, tujuan dari crypto staking adalah untuk meningkatkan keamanan sistem jaringan blockchain itu sendiri. Semakin banyak pengguna yang melakukan staking, maka semakin susah pula peretas untuk menyerang jaringan tersebut. Sebab, semakin banyak pihak yang akan memvalidasi transaksi dan aktivitas lainnya di atas blockchain.

Lantas, bagaimana dengan tujuan yield farming? Tujuan dari yield farming sendiri adalah wadah bagi pemilik aset kripto untuk meminjamkan asetnya terhadap mereka yang butuh pendanaan. Kurang lebih, sifat ini sama dengan institusi jasa keuangan konvensional.

2. Tingkat Imbal Hasil

Ini merupakan perbedaan antara yield farming vs staking yang cukup kentara.

Biasanya, tingkat imbal hasil yield farming akan lebih tinggi dibandingkan crypto stakingIni lantaran yield farming dianggap sebagai kegiatan yang berorientasi bisnis ketimbang crypto staking.

Secara rata-rata, aktivitas crypto staking biasanya akan menghasilkan tingkat imbal hasil, atau Annual Percentage Yield (APY), antara 5% hingga 15% per tahun. Di sisi lain, imbal hasil dari yield farming bisa mencapai lebih dari 100% di beberapa kasus.

3. Masa “Mengunci” Aset Kripto

Dalam hal ini, yield farming boleh jadi lebih fleksibel dibandingkan crypto staking.

Yield farming tidak mengharuskan penggunanya untuk “mengunci” aset kripto di dalam dompet digitalnya dalam satu rentang waktu tertentu. Pengguna bisa menarik tabungan aset kriptonya kapan saja.

Sementara itu, crypto staking memberlakukan kebijakan yang lebih ketat. Pengguna rata-rata diharuskan menyimpan aset kriptonya dalam jangka waktu setahun. Selama jangka waktu tersebut, pengguna tak bisa memindahkan atau menjual asetnya.

Hal ini bisa menjadi buah simalakama ketika pasar kripto sedang amburadul. Sebab, nilai APY yang ia terima bisa jadi tak sesuai dengan penurunan harga di aset kripto.

Sebagai contoh, seorang pengguna mungkin akan mendapat APY sebesar 5% setahun dengan melakukan crypto staking selama setahun. Namun, di waktu yang sama, terjadi penurunan harga aset kripto sebesar 10%. Artinya, ia harus mendulang rugi sebesar 5% dari nilai tabungan awal.

Baca juga: Apakah Aman Menabung di Dompet Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Shrimpy, Coinmarketcap

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1