Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Mau Investasi Bitcoin dengan Risiko Rendah? Yuk, Ikuti Tips Berikut!
shareIcon

Mau Investasi Bitcoin dengan Risiko Rendah? Yuk, Ikuti Tips Berikut!

15 Mar 2021, 9:00 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Mau Investasi Bitcoin dengan Risiko Rendah? Yuk, Ikuti Tips Berikut!

Apa tips investasi bitcoin dengan risiko yang rendah? Pertanyaan itu muncul seiring harga bitcoin telah berkembang pesat sejak mencapai titik terendah di bawah US$4.000 pada bulan Maret. Aset kripto ini mencatat rekor tertinggi pada akhir tahun 2020 dan terus menguat hingga awal pekan ini, yang bahkan menembus US$60.000 per keping untuk pertama kalinya.

Sementara partisipasi investor institusi telah meningkat, sebagian besar dari kelompok investor ritel mungkin menjauh dari pasar. Untuk kelompok investor ritel, ketakutan akan ketinggalan “momen” atau fear of missing out (FOMO) untuk mendapatkan keuntungan tiga digit mungkin menjadi momok saat ini.

Bagi investor ritel, berinvestasi saat aset kripto diperdagangkan mendekati level tertinggi mungkin tampak berisiko lantaran selalu ada potensi koreksi harga yang signifikan. Apalagi, Bitcoin telah mengalami beberapa penurunan lebih dari 20% selama pasar bullish sebelumnya.

Dengan demikian, investor yang ingin membeli bitcoin sekarang harus mempertimbangkan untuk menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA).

“Ini adalah cara yang baik untuk membangun eksposur ke bitcoin serta kelas aset lainnya seperti indeks ekuitas global, karena keduanya terlihat akan berkinerja baik dengan latar belakang tingkat riil negatif untuk beberapa tahun ke depan,” ujar Scott Weatherill, Kepala Diler B2C2 Jepang.

Lantas, apa itu strategi Dollar-Cost Averaging (DCA)?

Baca juga: Mengenal Konsep Dollar Cost Averaging

Tips Investasi Bitcoin: Dollar-Cost Averaging dapat Menghemat Uang

Dollar cost averaging (DCA), juga dikenal sebagai constant dollar plan, melibatkan pembelian aset dalam jumlah yang lebih kecil secara berkala, terlepas dari perputaran harga, alih-alih menginvestasikan seluruh jumlah pada satu waktu. Strategi ini membantu investor melepas tekanan emosional dalam perdagangan dan dapat menghasilkan biaya pembelian rata-rata yang lebih rendah.

Dollar Cost Averaging dalam bitcoin secara historis menjadi strategi yang sangat menguntungkan yang menurunkan risiko,” kata Scott Weatherill.

Sebagai ilustrasi, katakanlah seorang investor telah mengumpulkan Bitcoin senilai US$100 dengan harga tertinggi yang diamati pada tanggal 17 setiap bulan. Misalkan hal itu dimulai sejak 17 Desember 2017 saat harga Bitcoin mencapai puncaknya di US$19.783.

Pada saat press time, investor itu akan memiliki sekitar 0,48 BTC dengan biaya rata-rata sekitar US$8.660. Ini juga berarti investor akan memperoleh keuntungan hampir 120% saat harga pasar Desember 2020 US$18.850.

Namun, jika investor melakukan investasi sekaligus saat harga rekor US$19.783 pada 17 Desember 2017, investasi tersebut di periode yang sama akan mengalami kerugian 4,7%. Dalam jangka panjang, kerugian itu bisa menjadi lebih signifikan bila disesuaikan dengan inflasi.

Dalam contoh lainnya, seorang investor “menyebarkan” US$3.600 selama 36 bulan, dengan membeli lebih sedikit Bitcoin saat harga tinggi dan lebih banyak lagi saat harga rendah. Hal itu membantu menurunkan biaya rata-rata dan mendatangkan keuntungan besar. Strategi tersebut telah memberikan hasil yang serupa selama siklus bull-bear sebelumnya.

“Idealnya, seseorang harus berinvestasi dengan harapan dapat menjual dengan harga yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Cara terbaik, menurut saya, adalah membeli setiap bulan dan membangun posisi dalam jangka panjang,” kata Chris Thomas, Kepala Produk di Swissquote Bank.

Tips Investasi Bitcoin: Pahami Risiko Strategi Opsi Tertentu untuk Investor Ritel

Beberapa investor mungkin berpikir untuk menerapkan strategi campuran melalui pasar derivatif, seperti membeli opsi jual (put option) terhadap posisi beli di pasar spot. Hal ini akan mendapatkan nilai jika terjadi aksi jual, mengurangi kerugian (di atas kertas) di posisi pasar long spot.

Namun, strategi seperti itu lebih cocok untuk spekulan yang berniat mendapatkan keuntungan dari volatilitas harga jangka pendek. Di mana, hal itu akan bertentangan dengan gagasan untuk menurunkan biaya pembelian rata-rata melalui strategi DCA.

“Saya tidak akan merekomendasikan membeli opsi jika Anda melakukan dollar cost averaging, karena akan menghambat pengembalian keuntungan,” kata Scott Weatherill.

Opsi jual adalah kontrak derivatif yang memberikan hak kepada pembeli tetapi bukan kewajiban untuk menjual aset yang mendasarinya pada harga yang telah ditentukan pada atau sebelum tanggal tertentu. Sementara opsi beli (call option) memberikan hak untuk membeli.

Pembeli opsi harus membayar premi di muka saat mengambil posisi long call/put. Posisi long put menghasilkan uang hanya jika aset menetap di bawah harga put pada hari opsi kadaluarsa. Jika tidak, opsi kadaluarsa tidak berharga, menyebabkan kerugian – dalam hal ini, premi yang dibayarkan – untuk pembeli.

Terlebih lagi, mereka yang mencoba menggabungkan DCA dengan lindung nilai opsi mungkin akan merugikan portofolionya. Misalnya, jika seorang investor membeli saham saat dollar cost averaging dan pasar naik, opsi yang dibeli untuk melindungi nilai dari potensi penurunan akan mengeluarkan uang, mengurangi keuntungan keseluruhan dari rata-rata biaya dolar.

“Investor ritel harus menjauh dari perdagangan opsi,” Thomas memperingatkan. 

Baca juga: Apa Itu Opsi Saham?

Tips Investasi Bitcoin: Cerdas Berinvestasi

Trader Bitcoin yang cerdas sering kali menghasilkan pendapatan tambahan dengan menjual opsi call jauh di atas harga spot Bitcoin saat ini, dengan harapan bahwa harga Bitcoin tidak akan reli di atas titik opsi call tersebut. Namun, jika melakukan posisi short call, pemegang secara teoritis dapat menderita kerugian tak terbatas.

Dalam kasus Bitcoin, hal itu sangat berisiko karena sentimen tetap bullish, sementara analis memprediksi kenaikan yang berkelanjutan pada peningkatan permintaan investor institusi. Dengan demikian, menjual call option sementara melakukan dollar cost averaging dapat menjadi mahal.

“Meskipun mungkin ada godaan untuk mengoptimalkan melalui berbagai strategi perdagangan, uang untuk investasi baru harus tetap pada strategi tertentu. Pertama bisa bertahan lama, dan kedua membeli saat terjadi penurunan,” kata Jehan Chu, Managing Partner Kenetic Capital.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Nasdaq

Ditulis oleh
channel logo

Adi Putro

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1