Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Katanya Harga Bitcoin Punya Siklus 4 Tahunan. Apakah Itu?
shareIcon

Katanya Harga Bitcoin Punya Siklus 4 Tahunan. Apakah Itu?

8 Mar 2021, 7:32 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Katanya Harga Bitcoin Punya Siklus 4 Tahunan. Apakah Itu?

Bagi mereka yang menggandrungi aset kripto, terdapat satu mitos yang mengatakan bahwa harga Bitcoin memiliki siklus tersendiri. Yakni, satu siklus di mana tren harga Bitcoin punya pola yang berulang dalam kurun empat tahunan.

Kondisi tersebut mulai menjadi perhatian peminat Bitcoin setelah melihat anjloknya harga Bitcoin pada 2019 lalu. Untuk lebih memahami konteks tersebut, berikut adalah tabel historis harga Bitcoin sejak 2012.

Baca juga: Tiga Alasan Ini Bisa Bikin Harga Ethereum Tembus Rp28 Juta Tahun Ini

Bagaimana Pola Harga Bitcoin di Siklus Empat Tahunan Tersebut?

Para analis dan investor meyakini bahwa siklus harga Bitcoin empat tahunan memiliki empat fase berbeda di setiap tahunnya. Apa sajakah fase yang dimaksud?

#1 Fase Harga Eksponensial

Ini merupakan tahap pertama dari siklus tersebut, di mana harga Bitcoin mengalami kenaikan tertinggi dan disertai dengan penciptaan rekor harga tertinggi (all-time high) yang terbaru.

Banyak investor meyakini bahwa di fase tersebut, pelaku pasar berbarengan memborong Bitcoin atas alasan takut kehilangan momentum (fear of missing out). Alhasil, kenaikan permintaan yang tajam tentu mendorong kenaikan harganya secara curam.

Kondisi itu diperlihatkan di tahun 2014, di mana harga Bitcoin meroket 5.691% secara tahunan (year-on-year), yang kemudian terulang lagi empat tahun kemudian di 2018 dengan kenaikan mencapai 1.244%.

#2 Fase Harga Terkoreksi

Hanya saja, setelah harga Bitcoin mengalami kenaikan yang luar biasa, para investor kemudian melakukan koreksi atas sikap terlampau optimistisnya terhadap Bitcoin. Sehingga, mereka kemudian akan melepas keping-keping Bitcoin-nya secara perlahan dalam aksi ambil untung dan mengakibatkan penurunan harga aset kripto tersebut.

Kondisi koreksi harga ini terjadi di tahun 2015 dan terulang lagi empat tahun berikutnya di tahun 2019.

#3 Fase Harga Pemulihan

Setelah maraknya aksi jual Bitcoin di tahun sebelumnya, para investor kemudian memasuki lagi pasar Bitcoin untuk memborongnya dengan harga yang murah. Fase ini biasanya terjadi ketika investor merasa bisa mendulang cuan Bitcoin lantaran risiko fluktuasi harga Bitcoin sedang minim-minimnya. Hanya saja, aksi borong itu kemudian menyebabkan harga Bitcoin kembali terkerek naik di akhir tahun.

Kondisi ini terjadi pada tahun 2016, di mana harga Bitcoin pulih 38% dari tekanan di 2015. Pola serupa terjadi lagi empat tahun berikutnya, atau di tahun 2020, ketika harga Bitcoin naik lebih dari 600% setelah porak-poranda di 2018

#4 Fase Harga Berkelanjutan

Setelah mengalami pemulihan, harga Bitcoin pun perlahan menuju jalur yang bullish. Secara sederhananya, fase ini biasanya menunjukkan bahwa psikologis investor tengah termotivasi untuk melakukan aksi beli ketimbang aksi jual meski harga tengah naik.

Nantinya, jika harga Bitcoin ditutup di atas harga resistance di akhir tahun, maka hal itu akan membawa harga Bitcoin kembali ke fase pertama, yakni fase harga eksponensial.

Kondisi ini ditujukan pada pola harga Bitcoin pada 2017. Dan kalau memang polanya betul-betul berulang, seharusnya fase ini pun akan jatuh di 2021.

Baca juga: Penyebab Harga Ethereum Melonjak di Tahun 2020

Kritikan Terhadap Siklus Empat Tahunan Harga Bitcoin

Kendati “ilmu” ini dipercaya oleh fans Bitcoin garis keras, nyatanya masih ada yang meragukan akurasi dari pola yang dimaksud.

Analis aset digital Benjamin Cowen adalah salah satu diantaranya. Menurutnya, siklus harga Bitcoin tidak akan selalu terjadi selama empat tahun sekali lantaran mekanisme permintaan-penawaran Bitcoin pasti juga akan berubah seiring waktu.

Tak hanya itu, semakin maraknya jumlah investor Bitcoin juga tentu telah mengubah pendapat pelaku pasar secara keseluruhan ihwal sentimen bullish dan bearish harga Bitcoin. Oleh karenanya, ia percaya bahwa satu fase harga Bitcoin, misalnya harga terkoreksi atau fase harga pemulihan, bisa saja terjadi lebih dari setahun atau bahkan dua tahun di masa depan.

“Jadi, jika kamu masih dipengaruhi oleh teori siklus empat tahun harga Bitcoin, mungkin kamu perlu mengubah pola pikirmu,” jelas Cowen. “Bukti-bukti yang saya kumpulkan malah menunjukkan bahwa siklus harga Bitcoin bukanlah empat tahun.

Baca juga: Bagaimana Kabar Jack Ma? CEO Softbank Beberkan Kondisi Terkininya

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Bitcoin.com

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1