Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Anti Pompom, Ini Alasan Reksadana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!
shareIcon

Anti Pompom, Ini Alasan Reksadana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!

1 Jun 2021, 4:50 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Anti Pompom, Ini Alasan Reksadana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!

Sobat cuan tertarik berinvestasi di pasar saham tapi ogah ikut arus sobat pompom? Reksadana saham bisa jadi pilihannya.

Reksadana saham cukup ideal jadi instrumen investasi bagi pemula dengan dana dan pengetahuan terbatas. Mengapa begitu? Simak sampai habis ya!

Apa Itu Reksadana Saham?

Umumnya, produk reksadana bisa dikatakan sebagai reksadana saham apabila lebih dari 60% portofolionya diinvestasikan di pasar modal.

Portofolio seperti ini tentunya menawarkan risiko yang lebih tinggi dibanding produk reksadana pendapatan tetap ataupun reksadana pasar uang. Namun tetap saja, fluktuasi reksadana saham lebih rendah ketimbang terjun langsung bermain saham.

Beda dengan berinvestasi langsung di bursa efek, investor reksadana saham hanya dapat membeli produk ini lewat sekuritas. Nantinya, dana investor akan dikelola oleh seorang Manajer Investasi (MI) berpengalaman pada sektor-sektor bisnis yang disetujui sejak awal oleh investor. MI berperan menentukan perusahaan mana dan kapan saham akan dijual.

Tak perlu khawatir, Sobat Cuan tetap menentukan sektor mana saja yang akan menerima investasi kamu, juga sebesar apa porsinya. Namun dengan keterbatasan waktu, pengalaman dan pengetahuan investor pemula, keberadaan MI sebagai pengelola investasi kamu tentu sangat membantu sobat mendulang cuan, dong!

Jika dalam instrumen saham yang kamu miliki adalah share perusahaan, pada reksadana saham yang kamu miliki adalah unit NAB atau Nilai Aktiva Bersih dari reksadana tersebut.

Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

Minim Risiko

Reksadana saham menawarkan instrumen investasi yang lebih minim risiko ketimbang berinvestasi langsung di pasar modal yang fluktuatif. Berkat adanya MI yang mewakili Sobat Cuan mengambil keputusan, risiko investasi jadi bisa sharing dengan investor lain yang ikut ngumpulin modal pada produk yang kamu beli.

Apalagi, dengan pertimbangan dan pengetahuan yang baik, Manajer Investasi (MI) kamu pasti akan melakukan diversifikasi investasi pada produk lain. Jadi kalau IHSG lagi kebakaran jenggot, portofolio kamu masih aman.

Risiko Reksadana Saham

Meskipun minim, risiko itu tetap ada dong. Jadi, apa saja sih risiko dalam berinvestasi di reksadana saham yang harus diantisipasi?

Pertama, adalah risiko fluktuasi nilai investasi akibat naik turunnya kinerja reksadana. Karena dana kamu diinvestasikan di pasar saham yang fluktuatif, sedikit banyak pasti kinerja reksadana kamu ikut berfluktuasi meski tidak seliar IHSG.

Selain itu, fee dan biaya yang dinekan dari tiap transaksi saham yang dilakukan oleh MI kamu juga akan berpengaruh lho terhadap cuan kamu.

Kedua, adalah risiko likuiditas dari buyback reksadana yang mungkin saja bisa terhambat jika MI gagal menyediakan dana yang diperlukan untuk membeli kembali NAB kamu. Risiko ini berkaitan juga dengan risiko ketiga, yakni risiko wanprestasi. MI atau rekan usahanya berpotensi untuk melakukan wanprestasi jika mereka gagal memenuhi kewajibannya akibat satu dan lain hal.

Terakhir nih, harus dipertimbangkan juga risiko yang timbul akibat memanasnya kondisi ekonomi maupun politik di dalam dan luar negeri. Namanya juga pasar saham, sensitif banget lho sama sentimen kayak gini.

Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

Kiat Investasi Reksadana Saham buat Pemula

Sudah tahu risikonya, tapi masih tetap tertarik dengan produk reksadana saham? Lanjut!

Buat pemula, pertama-tama tentu sobat cuan harus menentukan dulu tujuan investasi, toleransi risiko, dan cakrawala investasi sebelum membeli produk ini. Biasanya, perusahaan sekuritas membagi dua tipe investor reksadana, yakni si anak bawang dan si investor musiman.

Pemain baru disarankan untuk memilih produk reksadana yang sudah punya kapital besar. Produk seperti ini mungkin tidak akan tumbuh secepat produk-produk baru yang kapitalnya masih kecil. Tapi pastinya lebih minim risiko dan sudah terbukti menghasilkan keuntungan yang konsisten.

Kalau Sobat Cuan termasuk investor musiman, tentunya lebih disarankan untuk membawa perbekalan pengetahuan berbagai produk dan resikonya masing-masing. Bekal ini akan sangat membantu menentukan skema investasi yang tepat buat kamu, lho! Hanya saja, pastikan untuk tidak berinvestasi di satu keranjang saja, ya.

Selain itu, Sobat Cuan juga bisa memperhatikan faktor-faktor ini ketika berinvestasi di reksadana saham. Apa saja?

1. Kapitalisasi Pasar

Kapitalisasi pasar adalah nilai pasar dari hasil kali harga saham per lembar denga jumlah saham yang ada dalam perusahaan. Berdasarkan data RTI, per Senin (31/5) kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp 7.063,371 triliun yang merupakan kapitalisasi gabungan seluruh emiten yang tercatat disana.

Tentu saja emiten, atau perusahaan yang melantai di pasar saham, memiliki kapitalisasi pasar yang beragam dengan kinerja yang berbeda pula. Emiten dengan kapitalisasi besar umumnya lebih konsisten menjaga nilai per lembar sahamnya, sementara emiten dengan kapitalisasi lebih kecil tentu lebih lincah pergerakan sahamnya.

Emiten dikatakan memiliki kapitalisasi pasar besar jika nilainya mencapai Rp100 triliun atau lebih. Di bawah itu, emiten tergolong sebagai layer kedua atau ketiga.

Pada reksadana saham, pemilihan emiten dengan kapitalisasi pasar tertentu sangat berperan pada besar kecilnya risiko dan cuan.

Semakin besar kapitalisasi pasar emiten yang dipilih dalam portfolio reksadana yang kamu beli, makin besar kemungkinan untuk cuan. Namun, makin besar juga risikonya. No pain no gain, Sob!

2. Pilih Lumpsum atau SIP?

Sobat cuan termasuk tipe investor yang mana nih? Langsung investasi dana dalam jumlah besar atau lumpsum atau dicicil secara sistematis (Systematic Investment Plan/SIP).

Ternyata, keduanya membutuhkan strategi yang berbeda. Investor lumpsum harus bisa memilih waktu yang tepat dalam menginvestasikan semua dananya dalam berbagai instrumen.

Sementara itu, tim dicicil harus disiplin untuk menginvestasikan sejumlah uang secara teratur dalam interval waktu tertentu, ya.

Baca juga: Apa Alasan Kita Perlu Perhatikan Kapitalisasi Pasar Saat Investasi Aset Kripto?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Groww.in

Ditulis oleh
channel logo

Fathia Nurul Haq

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1